NH. DINI, SANG NOVELIS DAN FEMINIS INDONESIA, KINI GENAP 75 TAHUN

[ 75th Anniversary of Nh. Dini, Indonesian Novelist and Feminist ]

Tahun kelahirannya lantas mudah ditebak, 1936. Tanggalnya? Di situlah soalnya. Terutama bagi mereka yang memang belum pernah mengikuti riwayat hidup Sang Novelis ini selengkapnya.

Mengira bahwa dia lahir pada tanggal hari ini, 1 Maret, hanya akan menjebak kita sendiri dalam kekeliruan. Mengapa? Hanya sekali dalam empat tahun Nh. Dini bisa merayakan peringatan hari ulang tahun kelahirannya tepat pada tanggal lahirnya, yaitu pada tanggal 29 Februari, berkat anugerah unik lahir di ‘tahun kabisat’.

Tahun 2011 bukanlah tahun kabisat. Tahun kabisat baru akan kembali tahun depan, tahun 2012. Namun sebagai seorang sahabat saya tidak dapat mengabaikan kenyataan bahwa Ibu Nh. Dini boleh berbahagia menikmati usia 75 tahun pada hari ini, tepatnya pada ”tanggal 29”, sehari setelah tanggal 28 Februari, yang pada tahun 2011 ini memang jatuh pada tanggal 1 Maret karena tanggal inilah yang langsung menyusuli tanggal 28 Februari.

Kenyataan bahwa tanggal kelahiran yang tercatat sebagai ‘khronos’ dan secara kronologis ialah tanggal 29 Februari, yang kebetulan tak tercantum pada kalender tahun ini, tidak lantas menghilangkan momentum penuh berkah berupa anugerah kehidupan yang adalah ‘kairos’, yang membuat ‘khronos’ tidak lagi terkungkung sebagai datum.

Tanggal bukan lagi sebatas angka. Demikian sekadar meminjam dua kata Yunani tersebut untuk menggambarkannya.

Novelis Nh. Dini di depan Civitas Academica Jurusan Studi Asia Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang, tanggal 20 Oktober 2003

Sebelum Ibu Nh. Dini berkunjung kembali ke Jepang pada bulan Oktober 2003, sudah terdengar bahwa kesehatannya sering terganggu. Namun ketika berjumpa langsung di Nagoya pada tanggal 20 – 21 Oktober, saya justru terkesan karena penampilannya yang sehat walafiat.

Tentu bukan karena beliau ketika itu baru saja menerima ‘SEA Write Award 2003’ di Bangkok dan lantas membawa kegembiraan dalam perjalanan pulang ke Indonesia. Disiplin dan kemauan kuat, yang disertai optimisme, untuk tetap menjaga kesehatan, sebagaimana dituturkannya sendiri, itulah kuncinya.

Berbicara selama 90 menit di depan civitas academica Jurusan Studi Asia Universitas Nanzan, Nagoya, pada tanggal 20 Oktober 2003 itu, juga membuktikan kesegaran penampilan Bu Dini. Kenyataan bahwa Sang Novelis terkenal ini pernah tinggal di Jepang sudah merupakan daya tarik tersendiri. Hal itu membuat pemaparan pengalamannya sebagai penulis novel menjadi semakin menarik.

Buku novel ‘NAMAKU HIROKO’ dan ‘JEPUN NEGERINYA HIROKO’ lantas ditimang-timang penuh rasa ingin tahu di antara hadirin, untuk kemudian disimak pula dengan wajah serius.

Nh. Dini menceritakan kiat-kiat dan pengalamannya sebagai penulis novel

Namun tak cuma karena itu. Daftar panjang judul novel hasil karyanya tak salah lagi telah  membuat para pendengarnya kagum dan semakin penuh perhatian.

Penjelasannya yang runtut dengan kosa kata bahasa Indonesia yang terukur telah membantu para mahasiswa Jepang pembelajar bahasa Indonesia itu memahami dengan baik apa yang disampaikannya. Tentu saja, peran penerjemahlah yang pertama-tama sangat membantu.

Menyaksikan Ibu Nh. Dini ketika itu memang menimbulkan kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri karena sebuah kesempatan bagus telah sungguh terisi, di mana orang-orang asing semakin mengapresiasi Indonesia berkat kehadirannya.

Ketika banyak mahasiswi menyusulnya lagi ke ruang kerja saya sehabis ceramah dan melanjutkan perbincangan, sempat terpikir apakah tersirat di sana daya pikat khusus kekuatan karakter feminis dan pesan sosial yang juga menandai novel-novelnya.

Namun, menyaksikan mereka berbicara mesra dengannya, berebutan bergambar bersama maupun secara pribadi dengan mesra pula, saya lalu menyadari bahwa Bu Dini hari itu memang telah tampil di antara mereka secara sempurna sebagai guru, sahabat dan bunda, yang menjadikannya seorang novelis istimewa buat mereka.

Sebagian hadirin dalam pertemuan tatap muka dengan Nh. Dini di Kampus Nanzan, di antaranya ada yang sambil menimang-nimang dua novelnya yang ber-setting Jepang

Sebagian hadirin ...

Sebagian hadirin …

Menjadi pusat perhatian tidak membuat Bu Dini lupa orang lain di sampingnya. Bukti kepekaan yang selalu terjaga. Sejak tiba di Kampus Nanzan Bu Dini sudah mendengar bagaimana saya selalu disapa dengan Pak Daros atau Daros-sensei. Sebuah sapaan hormat, standar dan lazim di Negeri Samurai, namun tak sekalipun sapaan itu keluar dari mulutnya sampai saat meninggalkan Nagoya.

“Romo, saya selalu dan tetap menyapa dengan sebutan ‘romo’ karena memang demikian mestinya, sapaan hormat yang selayaknya”, demikian dengan terus terang disampaikannya saat makan malam di Nagoya ketika itu.

“Terima kasih Bu”, jawab saya tulus, dan lantas teringat betapa hati saya agak tergetar ketika sejak pertama tiba Bu Dini langsung menyapa saya ‘romo’ dan selalu menyapa demikian di tengah taburan sapaan pak dan sensei. Serasa berada di tanah air. Tak lupa dia bercerita sejenak tentang Romo Mangun, sahabat baiknya.

Nh. Dini membacakan beberapa cuplikan dari novelnya atas permintaan hadirin

Menulis dan mengirim surat ataupun kartu ucapan selamat, dengan catatan yang tidak berpanjang-lebar namun cermat dan tepat ke tujuan, lagi-lagi membuktikan tanda perhatian dan penghargaan Bu Dini terhadap orang lain. Apalagi mengingat keadaan kesehatannya, usianya dan segala urusan hariannya yang semuanya ditangani sendiri.

Berada di Jogja buat saya lantas tidak boleh tidak mesti mengunjungi Bu Dini juga. Kawasan Lansia Sendowo, Graha Wredha Mulya, Sleman, di mana terdapat pula ‘Pondok Baca Nh. Dini’, adalah alamat tempat kediamannya setelah berpindah dari Semarang.

Namun cerita bahwa Bu Dini sangat merahasiakan nomor teleponnya karena alasan kesehatan, membuat saya pun harus tahu betul jadwal yang tepat untuk berkontak meski saya memiliki nomornya, baik telepon rumah maupun ponsel. Berbekalkan informasi langsung dari Bu Dini sendiri, pertemuan di Jogja memang diatur dan disepakati pada waktu yang tampan, lantas oleh karena itu berlangsung santai dan sangat menggembirakan.

Tahu bahwa di Jogja saya punya keponakan-keponakan, yang sudah punya anak-anak kecil di rumah masing-masing, baik keponakan dari keluarga Jawa maupun keponakan dari keluarga Flores, dengan intuisi tajam seorang novelis, tapi juga kepekaan seorang eyang putri, Bu Dini dengan tepat sekali berujar … “Wah, romo pasti bahagia sekali … sebentar-sebentar dipanggil opa, sebentar-sebentar dipanggil eyang … ”. Tak dapat dibantah memang.

Bersama Nh. Dini di depan tempat kediamannya yang asri di Sleman (2005)

Lalu, lagi-lagi di Jogja sekitar dua tahun yang lalu. Waktu luang sengaja diatur kembali untuk bisa leluasa mengunjungi Bu Dini dan melewatkan waktu lebih lama bersamanya. Masih berbekalkan informasi tentang jadwal hariannya serta urusan kesehatannya, telepon rumah dihubungi beberapa kali namun tak ada yang mengangkat.

Tidak apa-apa, karena tokh masih bisa berkontak lewat ponsel. Agar tidak langsung mengganggu, dikirimlah SMS tentang keberadaan saya di Jogja. Kapan pun Bu Dini mengaktifkan ponselnya, tidak jadi soal.

Tak berapa lama, Nokia saya berdering. Terlihat jelas di monitor … dari Bu Dini.

“Romo, saya tidak tinggal di Jogja lagi … ”, suaranya bening. “Wah, di mana sekarang Bu …?”, sambil berharap Bu Dini tidak merasakan kekagetan dan kekecewaan dalam nada suara saya. “Di Ungaran, romo …. ”, lantas disusul dengan cerita dan informasi selengkapnya.

“Cari waktu datang ke Ungaran ya romo, dan jangan cuma sebentar … usahakan menginap”, demikian akhirnya setelah ternyata saya tak punya waktu cukup untuk keluar dari  Jogja saat itu.

Santai bersama Bu Dini di Resto Hotel Santika Jogja (2005)

Tanpa Bu Dini mengatakannya sekalipun, saya merasa harus melewatkan waktu cukup lama bersamanya jika nanti jadi mengunjunginya di Ungaran, kota kecil yang konon indah dan sejuk. Dan saya sudah menjanjikannya pula.

Namun, hingga hari ini, saat Bu Dini genap 75 tahun, janji itu belum juga dilunasi. Ada rasa bersalah. Tapi sekaligus juga terasa dorongan untuk semakin menegaskan tekad, bulat, dan menetapkan saat yang tepat. Kapan? Paling lambat pada tahun kabisat, ketika tanggal 29 Februari kembali tampak di kalender. Ya, tahun 2012, mudah-mudahan.

Namun usia 75 tahun Bu Dini saat ini sangat patut dikenang. Indonesia sudah tahu siapa Nh. Dini. Dan Indonesia boleh jadi punya cara istimewa untuk mengenang dan menghargainya.

Secara pribadi, sebagai seorang sahabat, kenangan indah dan doa yang hangatlah yang dirangkaikan untuk menyertai peringatan hari istimewa Bu Dini … 75 tahun menikmati anugerah kehidupan … perayaan intan sebagai makhluk ciptaan Tuhan, yang sebagian besarnya dibaktikan untuk mengolah kisah-kisah kemanusiaan dan merangkai keindahan, yang merupakan anugerah Tuhan juga.

Selamat ulang tahun, Bu Dini!

henri daros

Selamat Ulang Tahun Bu Dini, dari semua yang mengenalmu, yang pernah dan masih berada di Jurusan Studi Asia / Program Kajian Indonesia, Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang.

 

About these ads
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Sukma  On March 5, 2011 at 7:06 pm

    pertengahan tahun 2005 waktu Bu Dini masih di Sendowo, saya jug sempat beberapa kali bertemu beliau, tapi hanya sekedar ketemu di pondok bacanya dan ngobrol sedikit. waktu itu saya jg utarakan kalo ingin belajar menulis sama beliau. Tapi tidak lama kemudian saya ada panggilan kerja di Jambi dan tidak pernah tahu kabar beliau lagi. baru setahun lalu saya mendapat info dr internet kalo beliau telah pindah ke semarang. setahun yg lalu saya jg kebetuln ada kontak dengan putra bungsu beliau yaitu pyer coffin (yg sekarang jd animator terkenal) melalui email. waktu itu saya menanyakan apakah benar bahwa beliau putra bu dini dan ternyata memang benar. tapi kemudian tidak ada kontak lebig lanjut. Kalau Bapak sekiranya bertemu beliau lagi, tolong haturkan salam saya kepada beliau ya pak, saya adalah salah satu penggemar karya2 beliau. Mr. Pyer coffin bisa dikontak melalui facebooknya,ada foto cucu-cucunya juga di sana. sekian yang ingin saya sampaikan pak. Kiranya ini bisa mengobati rindu saya juga kepada Bu Dini. Terima kasih

    • Henri Daros  On March 6, 2011 at 4:29 pm

      Banyak terima kasih sudah mampir dan meninggalkan catatan kenangan pula. Saat ini (6/3-2011) saya masih di Jakarta setiba dari Jepang dan belum sempat mengunjungi Bu Dini. Namun ketika berbincang-bincang lewat telepon, saya sudah menyampaikan salam Anda. Beliau senang sekali dan menyampaikan pula terima kasihnya. Sudah ada janji dgn beliau untuk mengunjunginya di Ungaran pada tgl 20-21/3, namun belum definitif karena ide itu baru muncul dalam percakapan telepon kami. Semoga terwujud, dan tentu banyak ucapan selamat HUT buat beliau yang disampaikan lewat akun FB saya, dan juga blog ini, akan saya ungkapkan kembali. Terima kasih.

  • ayu anggun  On June 27, 2013 at 10:02 pm

    Kalo boleh tau alamat bu NH dini skrg dmna ya pak?

    • Henri Daros  On June 28, 2013 at 7:00 am

      Sdri Ayu,

      Sebagaimana yg saya catat di atas, atau juga dalam cerita saya tentang HUT Bu Dini pada arsip cerita bulan Desember 2012, dalam blog yg sama ini juga, Bu Dini sekarang tinggal di Ungaran, Jawa Tengah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: