KE TANAH AIR AKU KEMBALI (CUTI MUSIM DINGIN 2010)

Back to Homeland, Winter Leave 2010
  
Nagoya, 22 Februari 2010, kesempatan kembali ke tanah air. Agenda kegiatan memang sudah terjadwal, tapi celah-celah jadwal pun bakal jadi agenda. Apa lagi kalau bukan agenda menikmati angin sepoi-sepoi khatulistiwa dan menghirup bau bumi nusantara.
 
Maka betapa pun panjangnya antrean di bandara internasional Nagoya yang dibangun di atas pulau buatan di Teluk Ise itu, tak sedikit pun terasa. Bersama penduduk Negeri Matahari Terbit yang berduyun-duyun meninggalkan tanah airnya entah ke mana, ritus pemeriksaan keamanan dan imigrasi yang ketat itu dijalani saja seakan-akan memang perlu adanya kalau memang mau sampai ke negeri impian. Di tengah cuaca 3 derajat Celsius, pesawat SQ menembus langit kelabu kawasan Jepang Tengah menuju Singapura.
 

Antrean penumpang yang panjang dan berliku di bandara Nagoya

Bandara Singapura boleh saja nyaris sempurna dan memikat, tapi tetap saja cuma singgahan menuju Jakarta. Maka tiba juga akhirnya di tanah air, disambut kehangatan udara malam 27 derajat Celsius. Panggilan alam memaksa untuk berputar arah ke toilet sebelum mengambil bagasi. Meski agak enggan karena tak sebersih Nagoya atau Singapura, seruan alam ini tak bisa ditawar-tawar jawabannya. 
 
Namun, celaka duabelas, pintu toilet tidak bisa ditutup. Atau lebih tepat, bisa ditutup tapi tidak bisa dikunci. Wah, kalau hanya satu yang rewel pintunya, ya langsung pindah saja ke kamar sebelah kan? Gitu aja koq repot! Sial seribu sial! Entah harus dibilang celaka yang keberapa-belas lagi, nasib pintunya ternyata sama saja. Ketika harus balik kanan untuk memburu kamar lain lagi, sebuah tulisan di tembok menangkap mata. “Terima kasih karena Anda sudah ikut menjaga kebersihan tempat ini”. Seakan kebersihannya memang sudah terjaga. Khas tanah air memang!
 
Cepat-cepat ke tempat pengambilan bagasi, disambut pula di sana-sini dengan ucapan selamat datang, dalam aneka poster tentu saja. Merasa bahwa alangkah akan lebih bagus jika ucapan selamat datang itu mewujud, antara lain, dalam terjaganya kebersihan dan terawatnya fasilitas, terlintas pikiran betapa perlunya tekad dan kesungguhan untuk mengelola pelbagai kontras. Ya kontras antara kata dan fakta, antara pernyataan dan kenyataan, dan entah antara apa lagi, yang masih membudaya di Indonesia, tanah air beta.

Antrean bagasi di bandara Cengkareng, tidak kalah panjangnya

 
(henri daros)
 
 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: