S5FK: JEPANG YANG DULU KUBAYANG

S5FK: My Earliest Image of Japan

  

Genap 10 tahun saya tinggal dan bekerja di Jepang. Sesungguhnya tak pernah terlintas dalam cita-cita saya untuk sekali waktu pergi dan bekerja di Negeri Matahari Terbit itu. Apalagi merencanakannya. Bahkan untuk sekadar berkunjung sekalipun. Namun itulah agaknya bagian dari ziarah kehidupan. Terkadang ada tangan lain yang menggerakkan dan menuntun kita ke suatu tempat yang tak pernah kita impikan.

 

Namun, menoleh kembali ke masa lalu, Jepang ternyata bukanlah sebuah ‘negeri asing’. Sejumlah simbol sosial dan budaya masyarakat Jepang ternyata telah hadir dalam ingatan saya, bahkan sejak kecil. Sampai saat menjadi siswa sekolah menengah atas, ada suatu citra khusus tentang Jepang yang sudah terukir dalam bayangan. Apakah itulah yang ikut menjadi sebab tiadanya kesulitan berarti dalam penyesuaian awal saat mulai menjalankan tugas di Jepang, meski tanpa persiapan khusus sedikit pun? Hmmm, boleh jadi!

 

Tak ada yang luar biasa sesungguhnya. Diingat-ingat kembali, semuanya ringan-ringan saja. Bukan hasil studi perbandingan budaya atau semacamnya. Ada yang terekam dari cerita-cerita kemanusiaan. Ada pula yang ditemukan di tengah petualangan fantasi masa remaja yang serba ingin tahu tentang dunia lain. Tak kurang juga dari aneka bacaan yang, syukur alhamdullilah, tersedia secara memadai, baik di sekolah maupun di rumah, buat remaja seusia saya pada masa itu.

Dua gadis remaja Jepang berkimono pada Festival Musim Panas 2005 di Kota Kasugai (Foto: Henri Daros)

Seluruh kumpulan kenangan itulah yang saya padatkan dalam rumus S5FK dan dicantumkan pada judul cerita ini. S5FK? Apa itu? Anda pasti bisa menduga, ada lima S, satu F dan satu K yang ingin diuraikan lebih lanjut. Anda benar, dan Anda mau tahu selanjutnya, bukan? Lima S itu ialah: Sensei, Samurai, Sake, Sakura dan Sumo. Satu F ialah Fujiyama, Gunung Fuji. Sedangkan satu K ialah Kimono. Dirumuskan secara singkat sebagai S5FK.

Mengapa ‘sensei’? Jangan kaget, saya sudah mendengar dan mengetahui kata sensei ini ketika saya masih kanak-kanak ingusan. Ayah saya, yang kebetulan guru sekolah rakyat ‘tempo doeloe’, suka berkisah tentang serdadu-serdadu Nippon masa pendudukan yang sangat menghormatinya sebagai guru, ya sebagai ‘sensei’ itu. Bagaimana mereka selalu menunduk dan menyapanya dengan sebutan ‘sensei’ setiap kali bertemu. Bahkan ibu pun bercerita bahwa dia kerap disapa dengan sebutan ‘sensei’ juga. Diam-diam saya pun menaruh hormat terhadap orang Jepang, yang nota bene belum pernah saya jumpai, karena mereka menghormati ayah dan ibu. 

Pedang ''Samurai''

‘Samurai’ pun awalnya saya dengar dari cerita ayah dan ibu juga. Tidak jelas benar apakah pada waktu itu para serdadu Nippon mengenakan samurai, ataukah mereka bercerita tentang samurai yang asli di tanah airnya dibandingkan dengan pedang sederhana yang mereka lihat di negeri orang. Kemudian baru diketahui bahwa pada awalnya ”samurai” adalah nama kelompok elit di kalangan militer Jepang tempo dulu. Yang jelas, kesan hubungan baik antara anggota pasukan pendudukan Jepang dengan para guru setempat sangatlah kuat dari cerita ayah dan ibu. Tak mengherankan bila ‘sake’ pun, minuman khas Jepang itu, masuk dalam kosakata cerita, termasuk angka-angka bilangan yang selalu bisa disebut dengan lancar.

Agaknya mereka senang berceritera banyak untuk memperkenalkan Jepang, negeri asal mereka, termasuk lagu-lagu populernya. Saat itu, mereka berada di tempat tugas ayah memang bukan untuk berperang melawan kekuatan setempat tapi lebih dalam rangka mengantisipasi serangan pasukan sekutu. Karena itu hubungan baik dan berdamai dengan penduduk setempat, khususnya dengan para guru sebagai pemimpin informal, sangatlah dijaga. Aksi ‘pendudukan’ lantas menjadi kesempatan ‘duduk-duduk ngobrol’, dan di mana perlu ambil bagian sekaligus membantu dalam kegiatan penduduk atau masyarakat setempat.

Kalau cerita tentang sensei, samurai dan sake menggerakkan bayangan saya sebagai seorang anak untuk mulai mengenal sisi sosial dan budaya masyarakat Jepang, maka cerita dan pelbagai informasi tentang ‘sakura’ dan ‘Fujiyama’, yang muncul lebih kemudian dan lebih dominan pula secara visual, menghantar saya ke alamnya. Bunga Sakura dan Gunung Fuji yang berpuncak lancip bersaput salju memberikan kesan tentang alam Jepang yang indah, damai bahkan romantis.

 

Tentang ‘sumo’, pada awalnya agak menggelikan. Ketika saya siswa sekolah menengah pertama, ‘sumo’ dikira merupakan seni olahraga dari negeri Cina. Bacaanlah yang menyelamatkan saya dari kekeliruan berkepanjangan. Tersenyum spontan menyaksikan keunikan sosok tubuh para pesumo, ketika itu secara sederhana saya berpikir betapa pandainya Jepang memelihara hiburan tradisional bagi masyarakatnya. Tradisi yang kental pun terasa ketika saya mulai mengenal ‘kimono’. Di mata saya Jepang tampak semakin unik. Jepang seperti lain daripada yang lain.

 

Jepang yang unggul dalam teknologi dan pelbagai terapannya merupakan bagian dari perkenalan saya paling kemudian dengan Negeri Matahari Terbit itu. Namun rasanya tidak terlampau mengesankan karena negara-negara barat, atau negara-negara maju lainnya pun menunjukkan keunggulannya juga. Jepang yang kemudian merambah dunia dengan pelbagai simbol ‘budaya pop’-nya memang merupakan fenomena yang cukup menarik juga, namun buat saya pun tidaklah cukup mengesankan.

Kelengkapan tempur ''Samurai'' tempo dulu di museum keluarga seorang sahabat di kota Nagoya, Jepang (Foto: Henri Daros)

Paket citra S5FK itulah yang ternyata kembali mencuat dari lubuk bayangan masa lalu, ketika -tanpa pernah direncanakan dan dipersiapkan- saya ternyata menjejakkan kaki juga di Jepang pada tahun 2000. Sudah lebih banyak memang informasi dan pemahaman tentang Jepang yang diperoleh sesudah periode citra S5FK itu. Pemahaman tentang masyarakat dan kebudayaannya, tentang sejarah dan jatuh-bangunnya, yang membuat paket citra awal itu tidak lagi polos sepolos kisah ayah dan ibu dahulu.  Namun, syukur, semuanya membantu antena intuisi untuk peka menangkap dan mengenali sinyal-sinyal dan lalu menyelaraskan diri.

Jepang pun memang ternyata tidak sekadar S5FK. Jauh lebih dari itu. Pada unsur huruf S, F dan K itu sendiri masih bisa didaftarkan begitu banyak hal-hal unik. Cobalah sendiri, pasti mengasyikkan! Misalnya saja, sushi, sashimi dan shabu-shabu (jenis makanan), shamisen (alat musik), kabuki (teater tradisional), koto (lagi, alat musik) dan aha! karaoke tentu saja, dan seterusnya. Belum lagi yang berawal dengan huruf-huruf lainnya. Semakin dicaritahu, semakin banyak hal baru. Semakin misterius. Rumus saya pada awal judul di atas akan sama sekali tidak berlaku lagi.

Jepang memang unik, sebagaimana Indonesia pun unik, dan setiap negeri dan bangsa juga unik. Karena unik maka berbeda. Karena berbeda maka satu tidak lebih baik atau lebih buruk dari yang lain. Tak ada ukuran pukul rata, tak ada kriteria obyektif untuk itu, meskipun untuk soal-soal mendasar yang universal terdapat kriteria yang berlaku sama. Menikmati keunikan dan perbedaan, betapa menantang namun betapa indahnya!

 

“Sensei …. !” Kaget, namun cepat-cepat juga menenangkan diri, ketika pertama kali disapa demikian di negeri yang baru, Jepang. Teringat, ayah sudah jauh lebih dulu disapa demikian. Ya, dulu …………… di Indonesia. Serasa berada di rumah.

 

(henri daros)

Gunung Fuji, bersaput salju, saat musim dingin

 

Gunung Fuji saat akhir musim semi (Foto Hiroshi Katoh)

 

Pertandingan 'Sumo'

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • lukman zammari  On May 27, 2011 at 11:51 am

    terima kasih atas pengetahuan ttg jepang,yg tersebut diatas…trims.

    • Henri Daros  On May 27, 2011 at 3:16 pm

      sama-sama … syukur bisa memetik informasi bahkan pengetahuan ttg jepang dari kisah yang sangat pribadi ini. salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: