MALAPETAKA CILE

The Catastrophe of Chile 

 

Hampir tak ada kata yang tepat untuk melukiskan gempa dahsyat berkekuatan 8.8 yang meluluhlantakkan Cile pada Sabtu dinihari tanggal 27 Februari kemarin. Namun pernyataan Presiden Cile sendiri, Michelle Bachelet, kurang lebih bisa melukiskannya. ”The state of catastrophe”, keadaan malapetaka, demikian deklarasinya. Jauh lebih dahsyat dari gempa Haiti yang baru terjadi sebulan yang lalu. Juga dari beberapa gempa berkekuatan besar yang terjadi selama ini. Gempa kuat di Okinawa kemarin pun, yang nampaknya terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, langsung hilang dari perbincangan.

 

Sejumlah 53 negeri dan kawasan pantai di lingkaran Samudra Pasifik, yang memang bukan kebetulan pula berada di ”Pacific Ring of Fire”, harus siaga pula terhadap ancaman tsunami akibat gempa dahsyat tersebut. Ketika coba mengikuti lagi perkembangan pada pagi hari ini, tanggal 28 Februari sekitar pukul 8 WIB, Hawaii sudah dinyatakan bebas dari ancaman tsunami. Sementara itu Jepang dan Rusia masih tetap siaga, dan diramalkan akan dilanda tsunami sekitar 5 jam lagi.

 

Namun tentang Jepang ada pula perkiraan lain semalam, yaitu bahwa gelombang tsunami akan semakin melemah (peter out) ketika memasuki kawasan pantai Jepang. Tentu saja kita tidak mengharapkan terjadinya bencana tsunami di kawasan mana pun, yang hanya akan membuat malapetaka Cile menjadi semakin berlipat-ganda.

 

Akhir-akhir ini perhatian dan keprihatinan kita memang ditarik ke sana ke mari. Di sana-sini bumi sepertinya sudah semakin rapuh. Alam semakin gelisah menggeliat. Bencana yang silih berganti terjadi, termasuk di Indonesia, seakan mengingatkan bahwa hal yang sama -entah lebih atau kurang ukuran kedahsyatannya- akan bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.

 

(henri daros)

 

Jepang Mengantisipasi Tsunami

Perkembangan Menyusul Gempa Cile

Pantauan Sepanjang Hari Tanggal 28/2

 

1.

Sekitar pukul 11.30 WIB atau pukul 13.30 waktu Jepang, gelombang-gelombang kecil pertama tsunami memasuki pantai Jepang. Pulau paling utara Jepang diramalkan akan dihantam tsunami setinggi 9 kaki. Ratusan-ribu penduduk sudah diungsikan ke tempat-tempat aman.

 

2.

Sekitar pukul 14.15 waktu Jepang, atau pukul 12.15 WIB,  para pejabat Jepang mengingatkan kemungkinan tsunami setinggi 3 meter akan menghantam beberapa kawasan pantai timur yang menghadap Samudra Pasifik. Secara khusus disebut Shimizu di utara dan Okinawa di selatan.

 

3.

Informasi yang diperoleh pada pukul 4 sore waktu Jepang atau pukul 2 siang WIB menyatakan bahwa gelombang-gelombang kecil sebagai awal tsunami masih terus mengalir ke pantai timur Jepang. Masih tetap diantisipasi apa yang disebut sebagai ”secondary waves” yang akan lebih berdaya-rusak (destructive) dalam beberapa jam lagi.

 

4.

Situasi pukul 4.30 sore waktu Jepang atau pukul 2.30 WIB menunjukkan perkembangan baru. Pelabuhan Hokkaido di pulau Sapporo, bagian utara Jepang seperti kebanjiran. Sementara di perairan pantai pulau Honshu, pulau terbesar Jepang di sebelah selatan pulau Sapporo, di mana terdapat kota-kota besar seperti Tokyo, Yokohama dan Nagoya, terdeteksi kenaikan gelombang laut setinggi 40 cm.

 

Gempa Cile yang kekuatannya 800 kali lebih besar dari gempa Haiti dan merupakan gempa ke-5 terkuat sejak tahun 1900 itu telah ”mengirimkan” gelombang tsunami sampai sekian jauh, sejauh Jepang dan Rusia. Namun banyak tempat yang semula diramalkan akan dihantam tsunami sudah dinyatakan aman.

 

5.

Sekitar pukul 5 sore waktu Jepang, pelabuhan Kuji, Iwate yang berpenduduk padat dan Hokkaido dihantam gelombang tsunami setinggi 1.2 meter. Jepang yang sudah berpengalaman dengan tsunami, termasuk yang diakibatkan oleh gempa bumi dahsyat di Cile pada masa lalu (misalnya pada tahun 1960 dengan kekuatan 9.5),  masih mengantisipasi gelombang yang lebih besar lagi, entah gelombang tsunami kedua atau ketiga yang masih akan datang dalam beberapa jam lagi.

 

Namun tidak ada kepanikan di kalangan penduduk yang harus mengungsi, sementara lalu-lintas pun tetap lancar, sehingga evakuasi berlangsung tanpa tersendat. Kerja sama antara para anggota satgas darurat dan penduduk terorganisasi secara sangat efektif sehingga gelombang tsunami lebih besar yang diperkirakan akan melanda tak bakal menimbulkan korban yang tak diharapkan.

 

6.

Pukul 7.15 malam waktu Jepang, atau pukul 5.15 sore WIB, CNN memberitakan bahwa pemerintah Jepang sudah menurunkan tingkat peringatan kewaspadaan terhadap tsunami, dari tsunami besar menjadi tsunami biasa.

 

7.

Sekitar pukul 8 malam waktu Jepang diperoleh informasi dari pelbagai sumber bahwa secara umum tingkat bahaya ancaman tsunami diturunkan, namun aksi kesiagaan diserahkan kepada otoritas lokal yang lebih mengenal keadaan.

 

8.

CNN, pukul 9 malam waktu Jepang, atau pukul 7 malam WIB, memberitakan bahwa Jepang tetap memantau tanda-tanda tsunami di perairannya meski tingkat kewaspadaan bahaya sudah diturunkan. Di beberapa tempat, penduduk memang masih tetap resah. Sementara itu di banyak tempat di kawasan Pasifik peringatan bahaya sudah dihentikan.

 

Namun, kemungkinan bahaya paling parah untuk Jepang nampaknya sudah lewat. Jepang boleh dibilang selamat.

 

Catatan Penutup

 

Di Cile sendiri, Presiden Michelle Bachelet, seorang perempuan luar biasa, menyampaikan kepada rakyatnya sebuah seruan yang sangat meneguhkan: Let’s be strong! Sangatlah tepat seruannya, mengingat dia sendiri senantiasa berada di tengah-tengah rakyatnya sejak hari pertama malapetaka tersebut. Presiden terpilih Sebastian Pinera pun ikut meneguhkan rakyat.

 

Awal solidaritas yang baik karena tantangan kesulitan masih menumpuk di depan mata, setinggi dan sebanyak tumpukan reruntuhan yang terserak di mana-mana.

 

Sangat kontras dengan situasi di Haiti sebelumnya, di mana rakyat Haiti sedemikian kesal terhadap pemerintah, khususnya presiden, seorang lelaki (maaf!), yang sama sekali absen pada saat-saat awal mereka menderita, entah apapun alasannya.

 

Mari kita berdoa mohon kekuatan bagi semua yang menderita dan semua yang sedang bekerja keras, serta semua yang ulur tangan menolong dari manapun asalnya. Kita mohon juga anugerah istirahat abadi nan damai dari Sang Pemilik Hidup buat semua yang telah meninggal dalam malapetaka dahsyat ini.

 

Dengan catatan penutup ini saya sendiri pun mulai mengakhiri kegiatan di Surabaya sebelum bersiap-siap untuk meneruskan perjalanan besok sore, tanggal 1 Maret, ke Bali, dan selanjutnya ke Flores via Kupang/Timor. Perjalanan ke ufuk timur, tempat dari mana matahari terbit. Ya, tempat dari mana selama ini saya telah coba mengayunkan langkah  ke mana-mana.

 

(henri daros)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: