RIBUT GADUH SIDANG PARIPURNA DPR REPUBLIK INDONESIA

(Chaotic Plenary Session of The House of Representatives) 

Semua tahu bahwa Indonesia sedang terkuras perhatian dan tenaganya oleh persoalan Bank Century. Tanggal 2 dan 3 Maret 2010 adalah bagian dari hari-hari puncak persoalan tersebut. Hasil kerja Panitia Khusus Hak Angket Bank Century itu dibawa ke Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk disikapi. Bukan peristiwa kecil, tentu saja.
 
Setelah mengikuti dengan cukup cermat seluruh proses penanganan persoalan tersebut dari luar negeri, cukup beruntung kiranya untuk berada di tanah air tepat pada hari-hari penentuan nasibnya. Namun, akibat terlanjur dihinggapi rasa kesal atas pelbagai peristiwa aneh yang menandai proses tersebut, sekaligus keheranan atas tiadanya ketegasan dan sikap kenegarawanan pada diri para petinggi republik ini, tak terlampau tersentuh jadinya oleh peristiwa penting di Senayan tersebut.

Mendapat Durian Runtuh 

Namun, di pihak lain, disiplin Kajian Indonesia bagi para mahasiswa peminat Indonesia di luar negeri justru mendapat bahan-bahan berlimpah oleh peristiwa ini. Maka, di tengah kesibukan dan kegiatan, diluangkanlah waktu sebisa mungkin untuk mengikuti semua peristiwa yang terjadi, baik di dalam maupun di luar gedung parlemen. Sebagaimana disaksikan juga oleh saudara-saudara sebangsa dan setanah air, betapa gamblang terlihat apa yang telah terjadi tanggal 2 kemarin dan tanggal 3 hari ini. Masing-masing saksi peristiwa punya komentar tersendiri, tentu!
 
Satu hal sudah pasti, Indonesia semakin menarik untuk dikaji. Tontonan ribut gaduh di hari-hari ini, betapapun konyolnya, betapapun memalukan, betapapun memprihatinkan, betapapun anehnya, akan semakin menampakkan wajah Indonesia mutakhir di bawah kaca pembesar studi Indonesia yang saat ini sedang diampu pada perguruan tinggi di luar negeri.
 
Alhasil, menyaksikan dan mengalami peristiwa politik yang satu ini sungguh bagaikan mendapat durian runtuh. 

 
Tidak terlambat untuk belajar 

Ketua DPR, yang tindakannya mengetuk palu secara sepihak pada sidang paripurna hari pertama (2/3) telah semakin memicu kekacauan, ternyata telah mengambil hikmahnya pada hari kedua (3/3). Disertai guyon-guyon ringan dia telah membawa sidang paripurna hari kedua cukup mulus hingga tengah malam, bahkan sampai pemungutan suara berakhir ketika hari memasuki tanggal 4 Maret.
 
Para wakil rakyat pun mulai lebih menunjukkan sikap pengendalian diri. Suasana demokratis yang santun pun mulai lebih terasa. Tinggal menunjukkan sikap konsisten untuk berpihak pada kepentingan dan kedaulatan rakyat. 

 
Apresiasi buat mereka yang berani beda 

Di tengah budaya kompromistis, ikatan loyalitas kepartaian dan tekanan pakem koalisi, apalagi di forum pemungutan suara yang terbuka, patut disampaikan penghargaan kepada semua mereka yang berani tampil dan sekaligus bersikap beda. Entah itu “pembangkang tunggal” di fraksi PKB dan fraksi PPP pada pemungutan suara pertama, entah itu seluruh pasukan dari fraksi PPP yang bersama-sama putar haluan sesudahnya.
 
Sejauh mereka mengambil sikap karena keyakinan akan kebenaran, mereka telah ikut membuat dinamika politik di tanah air menjadi ajang introspeksi dan pembelajaran. 

 
Lalu, apa? 

”Rakyatlah yang menang!”, demikian Ketua DPR mengomentari hasil akhir pemungutan suara. Ini memang sebuah ungkapan yang bagus dalam ucapan namun kabur dalam kenyataan. Sangat sering juga dipakai sebagai kamuflase. Ketua DPR tentu beriktikad baik ketika mengucapkannya, apalagi kalau terucap secara spontan. Namun justru karena itulah sebuah tindak lanjut yang transparan, tegas, jujur, bebas dari segala kepentingan terselubung dan bermanfaat untuk seluruh rakyat, sungguh dinantikan.
 
Bolehlah menghela nafas karena suatu tahapan penting sudah usai, namun tarikan nafas selanjutnya pun mesti diatur untuk menuntaskan persoalan yang masih menyisakan banyak pertanyaan itu. Para wakil rakyat dan pejabat hendaknya menghentikan kebiasaan mengobral retorika yang selama ini telah menyandera rakyat dalam nasibnya yang itu-itu saja. Rakyat harus sungguh-sungguh menang dalam kenyataan.
 
(henri daros)
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: