PRESIDEN BICARA HABIS PERKARA?

Kamis malam, 4 Maret 2010, pukul 8 WIB, Presiden SBY menyampaikan tanggapannya atas hasil keputusan Sidang Paripurna DPR hari sebelumnya. Presiden sendiri mengatakan bahwa pidato itu ditujukan kepada seluruh rakyat Indonesia.
 
Bagi saya langsung muncul pertanyaan, apa makna dan di mana sesungguhnya posisi pidato tersebut bagi rakyat, mengingat persoalan sudah berproses jauh, dan sebagaimana rakyat, presiden pun sesungguhnya hanya tinggal mengikuti langkah penuntasannya.
 
Pertanyaan tersebut semakin mendengung di kepala saya ketika menyimak isi pidato tersebut lebih lanjut. Presiden ternyata menyampaikan apa yang sudah diperkirakan banyak pihak, yakni membenarkan serta membela kebijakan dan tindak penyelamatan Bank Century, meski tidak lupa pula menyampaikan penghargaan terhadap proses dan hasil kerja Pansus.
 
Selebihnya tak terhindar kesan bahwa presiden menyampaikan tanggapannya dalam gaya ”jalan tengah”. Atau bisa disebut juga dalam gaya ”tarik ulur”.  Tak terhindar pula kesan ikhwal isi pidato yang mengirimkan pesan tersirat bahwa proses penilaian yang telah dilakukan pansus terhadap kasus Bank Century bukanlah langkah yang tepat, dan karena itu presiden merasa berkewajiban meluruskannya di depan seluruh rakyat Indonesia.
 
Itukah sesungguhnya tujuan pidato tersebut? Bukankah rakyat Indonesia telah mengikuti seluruh proses kerja pansus sampai kepada keputusannya kemarin, meskipun baru merupakan keputusan politik? Apakah rakyat mau diajak untuk juga berpendapat bahwa kebijakan dan tindak penyelamatan Bank Century dapat dibenarkan, sementara mereka pun sudah diperkaya oleh pendapat dan argumentasi dari pelbagai segi yang membuktikan sebaliknya?
 
Mengajak semua orang untuk selanjutnya taat kepada proses hukum, sambil sekaligus (sudah) menilai sebagai tepat dan benar apa yang justru masih akan diproses secara hukum, terdengar seperti nada sumbang, alias fals, pada sebuah komposisi musikal.
 
Sesungguhnya sebuah pidato dengan substansi, penekanan dan gaya yang lainlah yang dibutuhkan untuk kasus dan situasi seperti ini. Lugas dalam menegaskan garis tanggungjawab, tegas menunjukkan arah ke depan dan bebas dari kata-kata bersayap.
 
Presiden bicara habis perkara? Kalau seperti ini, rasanya tidak! Malah, presiden bicara tambah perkara.
 
Mudah-mudahan saja catatan ini tidak dianggap sekadar gara-gara, apalagi untuk membangkitkan huru-hara.
 
(henri daros)
 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: