PAK BOEDIONO: MENYELAMATKAN RUMAH PERAMPOK

Meninggalkan Bali, hari ini tiba di Kupang, pulau Timor. Dari bandara El Tari langsung dijemput ke tempat penginapan. Memasuki kamar, intuisi menggerakkan tangan untuk lebih dulu membuka televisi, bukan koper. Arloji menunjukkan pukul 2 siang kurang 5 menit Waktu Indonesia Tengah.

Di layar televisi, Wakil Presiden, Pak Boediono tampak berdiri di balik podium dan sedang mengucapkan kalimat pembukaan pidatonya. Tenang, bersuara datar, kurang-lebih seperti penampilan Presiden SBY semalam. Giliran Pak Boediono menanggapi hasil keputusan sidang paripurna DPR tentang kasus Bank Century.

Seperti sudah terorkestrasi, nada dasar pidato Pak Boediono selaras dengan nada dasar pidato Pak SBY, meski dengan diksi yang agak berbeda. Isi pidato Pak SBY sepanjang 35 menit seakan dipadatkan dalam 15 menit pidato Pak Boed.

‘Petuah’ tentang cara berdemokrasi dan berinteraksi yang etis dan berdasarkan akal sehat, -semua pemirsa pasti tahu ditujukan kepada siapa- tersembul juga dalam pidato Pak Boed. Sama-sama mengirimkan pesan tersirat bahwa pihak-pihak yang telah mengobok-obok para figur ‘berjasa’ dalam pemerintahan saat ini perlu mawas diri kembali karena sudah khilaf berdalih dan salah berlangkah.

Apa yang secara khusus menarik ialah analogi yang diungkapkan Pak Boed. Menyelamatkan Bank Century ibarat menyelamatkan sebuah rumah yang terkena kebakaran demi menyelamatkan rumah-rumah lain sedesa, meski akhirnya ketahuan bahwa si pemilik rumah adalah seorang perampok.

Begitulah Pak Boed membela kebijakan dan tindakan yang telah dilakukannya bersama Mbak Sri Mulyani. Saya membayangkan bahwa pasti banyak di antara pemirsa yang tersenyum-senyum mendengar analogi tersebut ketika membandingkannya dengan analisis dan argumentasi para pakar lainnya di negeri ini.

Rasanya agak menggelikan mengamati dan mendengar klaim-klaim soal lebih etis dan lebih berakal sehat dalam kasus dan proses yang sudah dan sedang berlangsung ini.

Dengan klaim yang disampaikan lewat pesan tersirat seperti itu orang tentu hendak digiring untuk menilai pihak lainnya sebagai tidak etis dan tidak berakal sehat. Sementara, setiap orang yang cerdas dan kritis akan dengan mudah pula menemukan celah-celah kelemahan dan inkonsistensi dalam petuah etika dan klaim akal sehat tersebut.

Namun, Pak Boed telah menyampaikan pesan penting. Siap bertanggungjawab di dunia dan di akhirat. Di akhirat? Pak Boed sendiri yang tahu. Di dunia? Di ranah hukum tentu saja, dan pasti dengan banyak saksi.

Percaya akan ketulusan Pak Boed, kita tentu tak perlu ragu tentang pernyataannya. Jadi, sesungguhnya kita pun tak perlu lagi sekian ribut dan ribet. Jika sudah sama-sama jelas dan yakin akan koridor selanjutnya, jalani saja koridor itu sambil memperhatikan rambu-rambu di sekitarnya.

Itulah yang ditunggu sesungguhnya dari pidato-pidato beruntun kali ini, yang mungkin akan disusul lagi dengan pidato lainnya. Justru karena pidato itu diucapkan oleh pemimpin negara dan bangsa. Justru karena pidato itu dengan sengaja ditujukan kepada rakyat seluruhnya.

Pidato yang menyatukan dan memperkuat kesatuan. Pidato yang mengajak dan menuntun rakyat bersama-sama memasuki koridor yang benar, satu dan sama itu, bukan ke jalan bercabang dan mendua dan karena itu membingungkan. Pidato seorang negarawan.

(henri daros)
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: