KE SAPPORO, HOKKAIDO: LUNASNYA UTANG SELATAN-UTARA

Dari Nagoya (Pulau Honshu) ke Sapporo (Pulau Hokkaido) dengan pesawat ANA.

Dari Nagoya (Pulau Honshu) ke Sapporo (Pulau Hokkaido) dengan pesawat ANA.

Tidak gampang mencari waktu luang sekaligus tampan untuk menjelajah Jepang. Setidaknya selama 10 tahun saya bermukim di Negeri Matahari Terbit ini. Bukan soal rumitnya melanglang negeri ini dalam sekali jelajah, ibarat “sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampau”, dalam artinya yang harafiah. Selain tak pernah terpikirkan, rencana menjelajah sekali jalan seperti itu tentu saja menuntut amat banyak pertimbangan serta perhitungan.

Membuat jadwal rencana perjalanan yang paling singkat, dekat dan hanya ke satu tempat sekalipun ternyata banyak repotnya. Setiap kali selalu saja ada banyak hal yang harus dikompromikan. Antara keinginan dan prioritas. Antara prioritas dan ketersediaan waktu. Itu sekadar misal. Maka, tak mengherankan, dalam jangka waktu 10 tahun pun tempat-tempat yang sudah sempat dikunjungi bisa dihitung cukup dengan memakai jari tangan. Ada lagi banyak sebab lain yang saling bertali-temali, namun tak terlalu penting untuk dipaparkan di sini.

 

Syukur, tempat-tempat yang sudah sempat didatangi selama 10 tahun ini merupakan tempat-tempat yang dianggap paling ‘layak kunjung’ dan paling dianjurkan pula dari pelbagai sudut pandang. Dapat disebut misalnya beberapa kota budaya dan bersejarah seperti Kyoto, Nara, Hiroshima, Nagasaki. Atau kota-kota industri dan perdagangan seperti Yokohama, Osaka, Kobe, Fukuoka, Shizuoka, plus Tokyo sebagai ibu kota, dan Nagoya sebagai kota tempat tugas dan tempat kediaman, dengan Toyota City sebagai kota satelitnya.

Kota kecil Mino yang terkenal dengan kerajinan tradisional pembuatan “washi” (kertas Jepang) juga pernah dikunjungi. Setiap tahun pada musim gugur ada pameran aneka lampu hias yang indah terbuat dari “washi”, bukan di ruangan tertutup tetapi di sepanjang jalan tertentu kota Mino. Ada pula kota-kota prefektur yang punya situs wisata yang khas seperti Gifu, Inuyama, Tajimi dan Okazaki.

Seorang artis tradisional sedang membuat lampu-lampu hias dengan bahan ‘washi’ di kota kecil Mino (Foto: Henri Daros)

Juga beberapa tempat khusus, bukan kota tapi situs bersejarah, di mana pernah terjadi pelbagai pertempuran besar atau peristiwa penting selama pemerintahan shogun di masa lalu. Misalnya Sekigahara, tempat pertempuran antara dua marga besar yang berebut kuasa, yang masing-masing dipimpin oleh Tokugawa Ieasu dan Ishida Mitsunari. Atau Nakasendo dan Hikone, jalur-jalur “militer” penting pada masa-masa “perang saudara” dulu.

 

Sejumlah tempat wisata alam pun patut disebut. Misalnya, danau Biwa (Biwako) di kawasan Maibara, prefektur Shiga, danau air tawar terbesar di Jepang yang berpanorama lapang dan indah. Atau Korankei di pegunungan wilayah Tokai untuk menikmati pesona warna-warni dedaunan di musim gugur. Bahkan sudah tiga kali ke sana. Setiap kali bertahan di sana hingga menjelang tengah malam, karena itulah saat-saat puncak untuk menikmatinya. Kota kecil yang tak begitu dikenal pun, seperti Samei, punya atraksi indah berupa taman bawah air, yang menjadi lebih indah lagi di malam hari karena disorot lampu bawah air pula.

Juga “Takato Joshi Koen Park” di wilayah Nagano. Tempat untuk menikmati tidak hanya bunga Sakura putih tapi teristimewa “Takato-Higanzakura” berwarna merah muda yang menyelimuti bukit dan Lembah Ina nan luas. Aroma khasnya yang lembut menyelinap di mana-mana, bisa membuat pengunjung terlena. Di waktu malam, dengan penerangan khusus, tak terlukiskan indahnya. Inilah konon salah satu tempat terbaik di Jepang untuk menikmati Sakura yang lagi bersemi.

 

Namun, gugus kepulauan yang membujur dari selatan ke utara, atau utara-selatan, itulah yang sesungguhnya menantang dan menggelitik rasa ingin tahu sejak pertama kali tiba di Jepang. Sempat terbayang, kalau saja komponis R. Soerardjo itu orang Jepang dan bertanah air Jepang, pasti dia telah menggubah lagu “Dari Naha Sampai Sapporo”, bukan “Dari Sabang Sampai Merauke”. Atau “Dari Selatan Sampai Ke Utara”, bukan “Dari Barat Sampai Ke Timur”.

Tempat-tempat terpenting di antara ujung selatan dan utara itu, katakanlah yang terdapat di pulau terbesar Honshu dan pulau ketiga terbesar Kyuushuu, praktis semuanya sudah dikunjungi sebagaimana telah disebut di atas. Namun hasil pencarian informasi cepat-cepat pula mengingatkan bahwa Jepang sesungguhnya masih lebih dari itu. Justru di ujung selatan dan utara Jepang masih tersimpan sejuta misteri.

 

Tersebutlah Okinawa di ujung paling selatan yang tidak hanya tidak punya siklus empat musim seperti di bagian Jepang lainnya, karena hanya beriklim subtropis, tetapi juga pernah punya sejarah sendiri sebagai sebuah kerajaan yang berdaulat hingga awal abad 16, yakni Kerajaan Ryukyu. Di masa jayanya, kerajaan Ryukyu bahkan sejajar dengan Cina dan Jepang. Kenyataan dan kebanggaan yang masih tersimpan dan tercium di sana-sini.

Nasib Okinawa kemudian berubah drastis. Ditaklukkan pada awal abad 16 oleh Kerajaan Satsuma yang berpusat di pulau Kyuushuu, kemudian menjadi bagian dari Jepang pada abad 18. Pernah pula selama 27 tahun berada di bawah pendudukan Amerika Serikat sejak tahun 1945, sebelum diserahkan kembali kepada Jepang pada tahun 1972. Itupun, hingga sekarang, Okinawa masih saja resah akibat pangkalan militer Amerika yang masih tetap menancap di sana.

Merasa punya bahasa sendiri, yaitu Shuri alias “bahasa Ryukyu”, yang oleh penduduk Jepang lainnya dianggap sebagai dialek (hoogen), penduduk Okinawa juga kaya dan unik dalam pelbagai ekspresi seni-budayanya, hangat, ramah dan terbuka dalam pergaulan, serta berpembawaan santai dalam gaya hidupnya.

Diam-diam hati kecil ini membenarkan judul kover brosur pariwisata dalam bahasa Inggris yang diterima sejak hari pertama di lobi hotel.  “Welcome to the Eden of Japan. Okinawa – The Smile Island”. Well, itulah yang disaksikan dan dinikmati selama hampir seminggu berada di sana pada musim Natal, akhir tahun 2009 yang lalu. Termasuk secara khusus menikmati Ryukyu Mura selama hampir sehari suntuk, dan museum serta Shuri Castle di kota Naha, ibu kota Okinawa. Sebuah perjalanan terencana untuk merekam wajah lain Jepang.

Menikmati penerbangan JAL, Nagoya-Naha pp; tampak pesawat setelah mendarat di Bandar Udara Internasional Naha, Okinawa (Foto: Henri Daros)

Kunjungan ke Okinawa berlangsung pada pekan ketiga bulan Desember 2009, tepat pada musim Natal sebagaimana disinggung di atas. Lantas, kunjungan tersebut pun menjadi paripurna ketika saya ikut merayakan Misa Malam Natal di Katedral Naha bersama Umat Katolik setempat yang tanpa diduga menyanyikan juga lagu-lagu Gregorian yang syahdu dalam bahasa Latin pada upacara liturgis malam itu. Lawatan pun menjadi semakin sempurna ketika sehabis perayaan liturgis itu saya berkesempatan untuk berjumpa dengan Uskup Okinawa yang sekurang-kurangnya pernah dua kali mengunjungi Flores, pulau kecil yang indah di NTT.

Mohon maaf para pembaca Jepang, NTT itu bukan ‘Nippon Telegraph & Telephone’ tetapi ‘Nusa Tenggara Timur’, nama sebuah provinsi kepulauan di Indonesia, yang tidak lain dari provinsi asal saya. Ya, setelah saling berbagi salam bahagia Natal, sambil bercanda kami sempat juga bertukar aneka cerita ringan tentang Flores di provinsi NTT itu. Pada akhirnya sang Uskup tak lupa menyampaikan harapan agar lawatan saya ke Okinawa semoga menyenangkan. Sebuah harapan tulus yang justru sudah dan sedang terwujud dalam kenyataan yang memang amat menyenangkan.

 

Maka, tinggallah bagian paling utara, yaitu Hokkaido. Merupakan pulau terbesar kedua, namun Hokkaido punya kepadatan penduduk terendah di antara 47 prefektur se-Jepang. Gunung, lembah dan hutan-hutan liar bertebaran di antara kawasan pertanian yang luas, berselang-seling dengan kota-kota yang terpencar berjauhan. Perjalanan selama satu jam dengan bus antara bandara internasional Chitose dan kota Sapporo saja sudah merupakan kesempatan berharga untuk menikmati keunikan alam “The Wonderful Hokkaido”.

Pulau Hokkaido pun menyimpan keistimewaan yang tiada taranya. Bangsa Jepang hampir saja dipandang seratus persen homogen dari segi etnis, kalau saja tidak ada Suku Ainu yang merupakan penduduk asli pulau ini. Diketahui secara luas keberadaannya di Hokkaido pada abad 13, suku Ainu punya kebudayaan yang unik dan bahasa tersendiri pula. Namun ketika pemerintah pusat menetapkan Sapporo sebagai ibu kota pada abad 19, dan usaha pertanian mulai digalakkan, masuknya kelompok etnis Jepang secara besar-besaran menyebabkan tersingkirnya penduduk suku Ainu. Terjadi friksi. Ada upaya akhir-akhir ini untuk menghidupkan kembali bahasa dan kebudayaan suku Ainu yang unik itu.

 

Ke Sapporo, Hokkaido inilah, dengan penuh kesadaran sebagai seorang pembelajar, saya mengayunkan langkah pada liburan Golden Week 2010. Setelah perjalanan ke ujung selatan, Okinawa, pada akhir tahun 2009, maka melanglang ke ujung utara Jepang, Hokkaido, adalah jadwal yang masih harus dilunasi. Tiga hari selama Golden Week itu merupakan hari-hari padat kegiatan.

Padat dengan jadwal kunjungan ke pelbagai tempat penting, termasuk kampus Universitas Hokkaido, salah satu universitas tertua di Jepang yang didirikan pada tahun 1876, dengan museumnya yang kaya koleksi dan rekaman sejarah baik humaniora maupun teknologi. Ke Botanic Garden, National Treasurer Museum dan tentu saja Ainu Museum, puncak rindu dari segala rindu. Tidak kurang padat juga oleh keasyikan jalan-jalan santai berkeliling, dan percakapan-percakapan tidak resmi yang tak pernah direncanakan, namun sarat oleh pertukaran nilai-nilai lintas bangsa dan budaya, nilai-nilai kemanusiaan yang akrab dan bersahabat.

 
 

Dengan penerbangan ANA, Chubu/Nagoya – Chitose/Sapporo pp (Foto: Henri Daros)

Lunas sudah utang rencana untuk menjelajah Jepang dari selatan ke utara. Terkesan sekadar bentangan geografis, namun sebenarnya merupakan suatu representasi sosial dan budaya yang kaya warna. Setelah Okinawa dan Sapporo yang fenomenal, tempat-tempat penting dan menarik lainnya, yang tentu saja masih ada, menjadi tidak amat penting dan menarik lagi. Atau mungkin lebih tepat dikatakan tidak lagi terlampau mendesak untuk segera dikunjungi. Ada saatnya, ada harinya. “Tak kan lari gunung dikejar”, kata pepatah.

Pada bingkai pengenalan dan pemahaman akan masyarakat Jepang yang sudah berbentuk itu, tinggal ditambah, dirajut dan dirangkaikan butir-butir terpencar lainnya dari khazanah keanekaragaman sosial, seni, budaya dan alam pikir yang pada waktunya nanti akan terpetik juga. Secara perlahan, sambil semakin mendalami.

 

Benar, utang selatan-utara, Okinawa-Sapporo, terlunas sudah. Namun relasi kemanusiaan lintas bangsa dan budaya tak akan pernah tuntas. Semakin digali, semakin terkuak aneka misteri, semakin menggelitik. Oleh karena itu tak cukuplah untuk hanya menikmati, tetapi hendaknya juga sambil mempelajari dan menghayati, agar sanggup memahami. Kalaupun tetap ada yang tak kunjung terselami, pesonanya tak akan lari, dan kita pun perlu tetap saling mengakui dan menghormati.

 

(henri daros)

 

Foto-foto dari lawatan ke Sapporo, Hokkaido 

(Foto-foto: Henri Daros)

Museum Universitas Hokkaido, Sapporo

  

 

Alat musik tradisional Suku Ainu (Museum Ainu, Sapporo, Hokkaido)

   

Catatan:
Foto-foto lain dari lawatan ke Sapporo,
Hokkaido, dapat dilihat dalam album khusus
“SAPPORO, HOKKAIDO, GOLDEN WEEK 2010”  

  

 

Foto-foto dari lawatan ke Okinawa

(Foto-foto: Henri Daros)

 

Produksi gula di masa lalu; memakai tenaga kerbau untuk

menghancurkan batang tebu (Ryukyu Mura, Okinawa)

‘Shisa’, warisan Cina, ditempatkan sebagai pelindung di atap rumah

tradisional Okinawa (Ryukyu Mura, Okinawa)

 

 

Catatan
Foto-foto lain dari lawatan ke Okinawa

dapat dilihat dalam album “KENANGAN

OKINAWA, DESEMBER – NATAL 2009″.

Sayang sekali, hujan yang sering turun selama

hari-hari kunjungan di Okanawa telah

menghalangi pengambilan lebih banyak foto

yang sesungguhnya perlu untuk dokumentasi.

  

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: