KETIKA MUSIM SEMI BERHIAS ‘MATSURI’

 Matsuri, sebuah kata yang terdengar indah, bukan? Namun ‘matsuri’ bukan nama sejenis bunga seperti halnya Sakura yang juga terdengar indah itu. Bukan pula pernak-pernik warna-warni buat dekorasi. Matsuri memang sebuah kata yang sangat populer dalam kosakata bahasa Jepang. Matsuri berarti festival. Dan Jepang punya begitu banyak festival yang menandai setiap musim.

 Jepang pada dasarnya adalah negeri para petani. Festival di Jepang lantas mengikuti siklus musim, khususnya musim bertani. Itulah sebabnya sebagian besar festival berkaitan dengan kalender pertanian. Meskipun mengikuti siklus musim yang sama, setiap wilayah bisa saja punya corak festival tersendiri. Misalnya, untuk merayakan syukur atas panenan, masing-masing wilayah punya Festival Musim Gugur yang khas. Tujuannya sama yakni syukur kepada para dewata setempat dan sekaligus doa mohon panen yang lebih baik untuk tahun mendatang. Namun bentuk perayaannya bervariasi dengan nama lokal dan penekanan khusus yang bisa saja berbeda-beda pula.

 Musim Semi (haru), yang saat ini sedang dalam peralihan ke Musim Panas (natsu), juga punya aneka festival yang khas. Salah satu festival paling awal sudah berlangsung pada permulaan bulan April ketika orang Jepang merayakan ‘Hana Matsuri’ untuk memperingati kelahiran Buddha. Kata ‘hana’ sendiri, atau ‘o-hana’, berarti bunga. Sesungguhnya inilah saatnya bunga-bunga mulai bermekaran, ya saat paling awal Musim Semi. Karena itu pula pelbagai festival sejak bulan April sampai dengan awal bulan Juni banyak berkaitan dengan makhluk indah alami yang satu ini, yaitu bunga. Hanya satu-dua contoh yang akan disebutkan di sini.

 ‘Hanami’ merupakan festival musim semi yang paling populer. Orang berkumpul dalam pelbagai macam kelompok dengan pelbagai kategori, entah perusahaan, keluarga, lingkungan atau apa pun saja, untuk bersama-sama menikmati bunga Sakura. Biasanya berlangsung pada saat bunga Sakura sedang pada puncak mekarnya di suatu wilayah tertentu. Sambil makan dan minum dalam suasana gembira, entah pada waktu siang atau malam hari, orang duduk-duduk santai dan berlama-lama di bawah naungan pohon-pohon ceri dengan bunga Sakura-nya yang lebat.

Mendapatkan tempat yang tampan untuk ber-‘hanami’ merupakan suatu ajang kompetisi tersendiri. Misalnya, kelompok-kelompok sudah mengirimkan utusannya masing-masing pada pagi hari untuk ‘merebut’ tempat hanami yang paling tampan dan ‘mendudukinya’ hingga sore atau malam saat para anggota kelompoknya datang. Pada malam hari pohon-pohon ceri biasanya disoroti cahaya lampu yang khusus sehingga bunga Sakura tampak semakin indah serta membangkitkan suasana ceria, bahkan romantis juga.

 Untuk menikmati aneka festival Musim Semi ini, syukurlah sebagai penghuni Nagoya saya sendiri misalnya tak harus pergi jauh-jauh, yang berarti pula tak harus menguras banyak biaya. Nagoya dan wilayah sekitarnya punya bermacam-macam festival, lebih dari cukup untuk dinikmati, meski tidak semuanya bisa secara langsung.

 Ada misalnya ‘Inuyama Castle Spring Festival’ pada pekan pertama April. Inuyama setiap harinya memang penuh wisatawan yang ingin menikmati ‘open air museum’ alias ‘taman mini dunia’ yang menampilkan keanekaan budaya dunia itu. ‘Inuyama Castle’ pun, tertua di Jepang, sudah merupakan magnet tersendiri. Ditambah dengan arakan kereta-kereta  penuh ribuan lampion warna-warni melalui jalan-jalan yang berpagarkan pohon-pohon ceri yang sedang lebat berbunga, festival musim semi yang satu ini seakan menambah ledakan keindahan di Inuyama.

 Ada pula ‘Nagashino Kassen Nobori Matsuri’ pada awal Mei di kota Shinshiro untuk memperingati pertempuran Nagashino pada tahun 1575, satu dari pertempuran paling penting dalam sejarah Jepang. Kemenangan pasukan dengan perlengkapan senjata barat disertai taktik perang baru atas pasukan berkuda dengan senjata tradisional samurai pada waktu itu dipandang sebagai titik balik dalam hal taktik dan pola pertempuran  di Jepang.

Yosakoi Yume Matsuri (Foto: Ojisanjake)

 Baiklah kita tinggalkan festival berbau perang ini untuk menikmati ‘Yosakoi Yume Matsuri 2010’, juga pada awal Mei, yang merupakan festival ‘tari jalanan tradisional’ selama dua hari. Puluhan kelompok tari dalam busana warna-warni cerah dan penuh getaran energi saling bersaing menunjukkan kebolehannya masing-masing di sepanjang jalan di pinggir Sungai Horikawa dan Atsuta Park, Nagoya. Terasa, tanpa tari hari-hari seakan tak punya arti.

 Soal semi-bersemi, tak hanya bunga Sakura yang merajai pentas musim semi. Kota kecil Kaizu di prefektur Gifu punya festival bunga yang tidak kalah indah dan menarik, yaitu ‘Kiso Sansen Park Tulip Festival’. Lebih dari 90 jenis tulip mekar bersamaan di areal taman yang luas. Menakjubkan! Festival diramaikan oleh pelbagai jenis hiburan, baik di panggung-panggung yang sengaja dibangun maupun di jalanan dalam areal yang sama. Keluarga dan anak-anak melimpah ke festival yang tak dapat disangkal berpanorama sangat teduh dan ramah ini.

 Sehubungan dengan anak-anak pun ada festivalnya pada musim semi ini, khusus untuk anak lelaki (Boys’ Festival), bertepatan dengan ‘Kodomo-no-hi’, Hari Anak-Anak, yang biasanya jatuh pada hari terakhir Golden Week, dan untuk tahun 2010 ini jatuh pada tanggal 5 Mei. Kodomo-no-hi, yang disebut juga ‘Tango-no-sekku’, merupakan hari libur nasional di Jepang. Tonggak-tonggak dengan pita-pita berwarna berbentuk ikan gurame (koi), yang disebut ‘Koi-no-bori’, dipancangkan di mana-mana oleh keluarga-keluarga untuk menandai hari festival ini: koi hitam mewakili bapak keluarga, koi merah untuk ibu, sedangkan pita koi paling kecil mewakili tiap anak. Warna biru-putih untuk anak lelaki dan merah muda untuk anak perempuan. Kibaran pita koi yang kencang, yang mengesankan ikan gurame sedang berusaha keras berenang melawan arus, mengirimkan pesan bagi setiap anak, khususnya anak lelaki, agar memiliki spirit yang sama untuk menghadapi dan mengatasi kesukaran.

 Jika ingin menyaksikan peristiwa-peristiwa istimewa lainnya berkaitan dengan anak-anak pada hari festivalnya ini, orang memang harus pergi ke banyak tempat. Namun cukuplah misalnya pergi ke kuil terkenal ‘Atsuta-Jingu’ (Atsuta Shrine), terbesar di Nagoya dan merupakan satu dari tiga kuil besar di Jepang di mana tersimpan benda-benda keramat milik Keluarga Kaiser. Tidak kurang dari 60 festival tradisional dan 10 perayaan keagamaan dilangsungkan di sini setiap tahun. Namun pada saat ‘Kodomo-no-hi’, praktis anak-anaklah yang mendominasi pemandangan kompleks kuil. Baik anak-anak yang dibawa oleh orangtuanya untuk didoakan, maupun anak-anak yang diajak saudaranya yang lebih tua, ataupun kerabatnya, untuk menikmati hiburan dan kegiatan khusus yang sengaja disiapkan untuk mereka.

 Di subway dan bus pun dapat disaksikan pemandangan langka. Banyak ayah berusia muda, tanpa didampingi sang ibu, menggendong anaknya yang kecil, bahkan masih bayi, sambil membawa segala perlengkapannya, dalam perjalanan dari atau ke kuil atau pun tempat-tempat hiburan anak. Melihat sang ayah bertukar celoteh dan senyum dengan sang bayi atau si kecil dalam gendongan sesungguhnya melihat isyarat kasih yang tak mungkin lagi disalah-tafsir. Kasih tulus seorang ayah yang tak urung memancing reaksi kasih nan spontan dari sang anak, dan membangkitkan keharuan bagi orang yang menyaksikannya, ya, khususnya bagi saya. Sungguh, lebih dari sekadar festival.

 Ada pula festival musim semi yang berkaitan dengan produk barang-barang seni khas Jepang yang rata-rata cantik. ‘Arimatsu Shibori Matsuri’ adalah satu di antaranya. Berlangsung di Arimatsu, dekat stasiun Arimatsu, Nagoya, sebuah kampung seni yang sudah berusia tua, di mana dihasilkan pelbagai jenis kimono dan sapu tangan khas Jepang, dan demonstrasi cara tradisional pembuatan kain sutera serta pakaian dari katun. Metode atau cara tradisional itu dikenal dengan nama ‘shibori’. Rumah-rumah tua para seniman tradisional itu masih dibiarkan seperti apa adanya dan kini menjadi museum kerja mereka. Karena berkaitan dengan busana, tidaklah mengherankan bahwa selama festival dapat dinikmati pula peragaan busana bahkan kursus singkat tentang ‘shibori’ bagi yang berminat. Festival ini biasanya berlangsung pada awal  bulan Juni, saat-saat menuju akhir musim semi.

 Pada awal bulan Juni pun masih bisa disaksikan pelbagai festival lainnya. ‘Atsuta Matsuri’, misalnya, yang berlangsung di kawasan Atsuta Shrine sebagaimana sudah disebut di depan. Pelbagai pentas teater dan demonstrasi seni bela diri merupakan program utama sepanjang siang hari. Ribuan lentera warna-warni lalu dinyalakan untuk menjemput malam, disusul dengan demonstrasi kembang api yang biasanya berlangsung sekitar pukul 9 malam. Festival ini susul-menyusul dengan sebuah festival lainnya yakni ‘Horikawa River Festival’ yang berlangsung di Miya-no-Watashi-Koen, Atsuta Ward, Nagoya. Pada siang hari berlangsung bazaar, pelbagai pentasan dan pertunjukan menabuh genderang ‘taiko’. Malam harinya, sebuah perahu, yang disebut ‘perahu Makiwara’, penuh dijejali berkas-berkas jerami berbentuk bola bumi dan digantungi lampu-lampu lentera warna-warni akan muncul sebagai puncak acara.

 Akhirnya, tibalah peralihan Musim Semi ke Musim Panas. Peralihan yang ditandai oleh ‘Tsuyu’, musim hujan khas Jepang, dengan hujan gerimis dan rintik-rintiknya yang berkepanjangan.  Berlangsung selama kurang-lebih 5 minggu sejak sekitar minggu kedua bulan Juni. Gerimis atau rintik-rintik tanpa henti, tak pandang siang atau malam, dengan selingan beberapa hari cerah. Udara mulai terasa agak panas dan lembab. Jadi, janganlah membayangkan musim hujan di Jepang seperti di belahan bumi tropis, di Indonesia misalnya, dengan hujannya yang bagaikan tercurah dari langit.  Orang Jepang menyebut musim hujan tropis seperti di Indonesia ini ‘Uki’. 

 Betapa vitalnya ‘tsuyu’ bagi para petani Jepang! Mengapa?  Tsuyu datang seiring dengan musim tanam padi sawah dan karena itu sangat penting untuk menjamin tumbuh-suburnya padi pada usia awalnya, sebelum tibanya Musim Panas, dan karena itu pula akan menjamin panen yang akan dinikmati pada bulan Oktober, bulan Musim Gugur (aki) dengan aneka ‘matsuri’-nya sendiri lagi.

 Jepang tanpa ‘matsuri’, tak terbayangkan!

 (henri daros)

Bunga Sakura bermekaran sekeliling 'Green Area' di Kampus Universitas Nanzan pada setiap puncak Musim Semi (Foto: Henri Daros)

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: