PIALA DUNIA 2010: SEPOTONG CERITA DI BALIKNYA

Sebagaimana mungkin banyak orang lainnya juga, saya sangat menantikan tampilnya Nelson Mandela di tribun VVIP pada saat upacara pembukaan hajatan akbar Piala Dunia 2010 di Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan pada tanggal 11 Juni 2010.

 

Penantian saya sesungguhnya sudah sejak Sepp Blatter, presiden FIFA, mengumumkan terpilihnya Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2010 dalam pemungutan suara di Zürich, Swiss, pada tanggal 15 Mei 2004. Sebanyak 24 eksekutif FIFA khusyuk dalam pemungutan suara rahasia yang berujung pada kemenangan Afrika Selatan atas Marokko dengan angka 14 – 10 dan lantas menjadi negara Afrika pertama yang terpilih menjadi tuan rumah peristiwa akbar tersebut.

 

Afrika Selatan, negara yang pernah bernasib sebagai pariah di kalangan negara-negara penjunjung hak asasi manusia, serta dikucilkan pula dari pelbagai peristiwa olahraga dunia akibat politik apartheid yang dianut rezim pemerintahannya, telah berhasil keluar dari goa isolasinya berkat perjuangan dan korban seorang Nelson Mandela. Masuk penjara setelah dijatuhi hukuman seumur hidup pada tahun 1962, Nelson Mandela baru dibebaskan 27 tahun kemudian, yakni pada tahun 1990, lalu menjadi presiden pada tahun 1994. Arah baru pun mulai ditempuh, perlahan tapi pasti, di bawah Nelson Mandela sang pemimpin sekaligus rekonsiliator yang sudah sangat tahu apa artinya menderita.

 

Cita-cita Nelson Mandela memang mulia, namun meraihnya tidaklah mudah. Nelson Mandela sangat sadar akan keterbatasannya, dan karena itu jugalah pergantian dan penyegaran kepemimpinan tak menjadi masalah, apalagi demokrasi telah ditiupkannya sejak mula sebagai roh kehidupan bernegara. Tongkat estafet kepemimpinan dialihkan pada tahun 1999. Namun, sementara itu, kaliber kenegarawanan Nelson Mandela telah menjulang jauh ke luar batas Afrika Selatan dan aura kemanusiaannya menembus sekat-sekat pelbagai bangsa. Dia telah menjadi milik semua orang. Siapa pun pemimpin baru Afrika Selatan dan apa pun prakarsanya di panggung antarbangsa, spirit Nelson Mandela tampaknya masih menyala, dan membakar.

 

Kiprah olahraga Afrika Selatan pun secara khusus mempunyai sejarah unik, seiring dengan perjuangan Nelson Mandela. Sesungguhnya baru sekitar 15 tahun terakhir inilah Afrika Selatan boleh menikmati permainan bola kaki sebagai olahraga rakyat, olahraga yang bisa dinikmati bersama oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa sekat apapun.  Sebelum itu, politik segregasi dengan dimulainya apartheid sejak tahun 1948 merambah pula ke dunia organisasi sepak bola. Ada FASA untuk orang kulit putih, SABFA untuk orang kulit hitam, SAIFA untuk orang keturunan India dan SACFA untuk keturunan ras campuran. Mudah diduga klub mana yang paling menikmati privilese.

 

Pengucilan dari FIFA terjadi setelah pemberontakan mahasiswa kulit hitam di Soweto pada tahun 1976. Perkembangan positif baru mulai dialami setelah tembok politik apartheid dibongkar sejak tahun 1990, yang disusul dengan penggabungan keempat organisasi bola kaki produk rasialis tersebut menjadi satu asosiasi, yaitu SAFA, South African Football Association. Puncaknya pada peristiwa kembalinya Afrika Selatan ke pangkuan FIFA pada tahun 1992, setelah 15 tahun menjadi anak terkucil. Tahun 1995 klub Orlando Pirates merebut juara Liga Afrika, dan hanya setahun kemudian Afrika Selatan menyabet Piala Afrika. Rakyat Afrika Selatan memang dikenal memiliki bakat alam sebagai pemain bola kaki, dan bakat alam itu ternyata tak sampai terbunuh, bahkan terkungkung pun tidak, oleh terali segregasi ciptaan tirani dalam jangka waktu sekian lama.

 

Selanjutnya, impian untuk berperan di panggung sepak bola internasional muncul dan menguat seiring dengan  peran politiknya yang semakin diperhitungkan, namun percobaan awal Afrika Selatan untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006 gagal menghadapi keunggulan Jerman pada pemungutan suara bulan Juli tahun 2000, juga di Zürich. Baru pada tanggal 15 Mei 2004 itulah, sambil disaksikan oleh mantan Presiden Nelson Mandela dan Uskup Desmond Tutu yang berada di antara para anggota delegasi, Afrika Selatan dinyatakan secara resmi menjadi tuan rumah, yaitu untuk Piala Dunia 2010. Apakah kehadiran dan magnet Nelson Mandela, ditambah Desmond Tutu, telah mempengaruhi pilihan para eksekutif FIFA? 

 

Upacara pembukaan Piala Dunia 2010 di Soccer City, Johannesburg, sudah berlangsung tanpa kehadiran Nelson Mandela. Saya sama sekali tidak kecewa akibat tidak terwujudnya apa yang saya nanti-nantikan. Nelson Mandela terpaksa harus berada di rumah karena kepergian mendadak salah seorang cicitnya yang berusia 13 tahun, yang meninggal dalam kecelakaan mobil akibat kelalaian pengemudinya. Seorang cicit perempuan yang sangat disayangi dan menyayanginya.

Pada saat-saat seperti itu, di usianya yang sudah sekian uzur, dan akan genap 92 tahun pada tanggal 18 Juli 2010,  Nelson Mandela sang Madiba tentu lebih memilih berada di antara keluarga. Sama sekali tidak mengganggu apalagi mengurangi cinta dan solidaritasnya terhadap rakyat Afrika Selatan yang lagi bergembira. Juga tidak mengurangi kehangatan sikapnya menyambut para tamu mancanegara yang datang, yang juga menanti-nantikan kehadirannya. Bahkan, begitu mengetahui terjadinya musibah, mereka pun ikut menyatakan belasungkawa.

 

Namun, buat saya sendiri, penantian pribadi yang tak kesampaian itu agaknya tetap membutuhkan pelepasan. Maka, ketika sejumlah pertandingan sudah berlangsung, di tengah riuh-rendah Afrika Selatan dan ditingkah sorak-sorai seantero bumi, terucaplah untaian lirik-lirik berikut ini.

 

                    PIALA KEMANUSIAAN

                    

Kulihat tangan terentang

                    merangkul desa,

                    memeluk kota.

                    

                    Kulihat jemari bergetar

                    menggaris lapangan berdebu,

                    menandai stadion megah.

                    Kulihat telapak terbuka

                    menepuk-nepuk tetamu,

                    mengusap-usap anak negeri.

 

                    Kulihat akhirnya siapa dia,

                    sosoknya alangkah ringkih,

                    tapi senyumnya betapa damai.

 

                    Dan ketika dengung sejuta lebah

                    keluar dari moncong-moncong vuvuzela,

                    terdengar tanya dan bisik lirih di telinga:

                    mungkinkah semuanya tanpa Nelson Mandela?

 

(henri daros)

 

—————————————————————————————–

Catatan:

Versi singkat dari untaian lirik-lirik di atas sempat dimasukkan pada akun Facebook saya,

yakni pada kolom status, tertanggal 18 Juni 2010. Di situ diubah menjadi lebih singkat

agar sesuai dengan batas jumlah kata yang menjadi persyaratan Facebook untuk mengisi

kolom status tersebut. Versi di atas ini adalah versi asli selengkapnya.

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: