SELAMAT DATANG ‘SEMI’, SELAMAT TINGGAL MUSIM SEMI

semi.6

Bulan Juli sudah tiba. Bersamanya tiba juga banyak peristiwa khas tahunan, agenda kegiatan yang terancang seiring cuaca, dan siklus musim yang baru dengan segala ikutannya.

Bicara ikhwal siklus musim, Juli adalah awal musim panas. Musim semi pun berakhir, dan peralihannya ke musim panas seperti biasa ditandai oleh hari-hari hujan berkepanjangan.

Musim panas sendiri biasanya berlangsung sampai dengan awal Oktober. Namun musim panas tak harus selalu mulai tepat pada awal bulan Juli. Peralatan canggih yang membantu ramalan soal gelagat musim dan cuaca biasanya sudah punya perkiraannya.

Apapun hasil ramalan atau perkiraan peralatan canggih itu, orang Jepang sudah punya satu isyarat alami yang sangat mereka percayai selama ini. Sebuah tanda pamungkas yang tak pernah keliru membawa kabar selesainya musim semi, yang berujung pada musim hujan itu, dan sekaligus mewartakan tibanya musim panas.

Mereka menyebutnya “semi”, yang tidak lain dari “riang-riang” dalam bahasa Indonesia. Dari kejauhan bunyinya terdengar mirip-mirip “jangkrik” (jengkerik), yang disebut “koorogi” dalam bahasa Jepang.

Namun, selain berukuran fisik lebih besar, suara semi pun sesungguhnya lebih nyaring dari suara koorogi yang merdu, yang biasanya menandai musim gugur.

Orang Manggarai di bagian barat pulau Flores, Indonesia, menyebutnya “njieng”. Sebuah ‘onomatope’ yang sangat menarik karena mendekati sempurna.

 

 

Tak pernah saya ketahui peran penting serangga yang satu ini sampai pada saat saya mengalami musim panas untuk pertama kalinya di Jepang.

Mendadak pada suatu hari, kira-kira pada pekan kedua bulan Juli tahun 2000, saya terbangun di waktu pagi karena riuhnya bunyi riang-riang dari arah area berpepohonan lebat dekat tempat tinggal saya.

“Itu bunyi riang-riang kan? Baru pertama kalinya saya dengar di sini”, demikian terlintas dalam benak saya. Tak ada maksud untuk mencaritahu lebih jauh, kecuali secuil keheranan lantaran bunyi satwa itu semakin ramai saja menyambut terbitnya matahari.

Sapaan selamat pagi dari seorang rekan, orang Jepang, di awal hari itu akhirnya menguak misteri. “Dengar nyanyian semi pagi ini, bukan?”, dia langsung bertanya setelah kami bertukar salam.

Semi, apa itu?”, saya balik bertanya. “Ooo .…, iyaaa … “, demikian reaksi spontan saya setelah mendengar penjelasannya. “Justru semi-lah yang membangunkan saya pagi ini”.

Ya, bunyi riuh yang memastikan mulainya natsu, musim panas. Tsuyu, ‘musim hujan’ khas Jepang yang ditandai hujan gerimis berkepanjangan itu, berakhir sudah.

Tsuyu sendiri sesungguhnya merupakan bagian akhir dari musim semi atau haru, namun tidak lagi berhiaskan kembang Sakura, kecuali butir-butir air yang berjatuhan dari langit itu.

Cerita tentang semi belum berakhir. Saya heran bagaimana orang Jepang yang berpola hidup modern dan biasa berkutat dengan peralatan canggih dalam kehidupannya sehari-hari bisa dengan sangat akrab bicara tentang semi, serangga yang sangat tidak asing bagi lingkungan pedesaan di Indonesia.

Mungkin akibat habitat yang tidak lagi ramah terhadap alam, tak terdengar orang kota besar di tanah air bicara tentang riang-riang ataupun jangkrik sebagaimana warga kota metropolitan yang saya jumpai di Jepang.

Area berhutan di sekitar kampus tempat tugas, dan di sekitar tempat tinggal saya di kota Nagoya, yang merupakan sorga alam bagi riang-riang itu, ternyata mengungkapkan lebih banyak lagi cerita menarik perihal semi, sang pewarta musim panas ini.

semi.1

 

Betapa tidak! Anak-anak pun mulai berdatangan, berburu semi. Didampingi ayah, atau ibu, atau saudara yang lebih tua, mereka membawa mushitori ami atau tamo, yakni jala yang biasa dipakai untuk menjaring serangga, dan mushi kago, yaitu kotak untuk menyimpan semi hasil tangkapan.

Beberapa keluarga yang pernah saya tanya mengatakan bahwa anak-anak sudah mengetahui informasi perihal kehidupan semi. Bahwa makhluk itu hidup bertahun-tahun di bawah tanah, seakan-akan menyiapkan diri menanti giliran untuk muncul ke permukaan demi mewartakan tibanya musim panas.

Namun, sayang seribu sayang, usia hidupnya di muka bumi paling-paling cuma seminggu. ‘Sekali berarti, sudah itu mati’, kata Chairil Anwar.

Informasi atau pengetahuan ini agaknya membuat cukup banyak anak jatuh sayang pada semi.

Maka, selain dibawa pulang hidup-hidup ke rumah untuk didengar dan dinikmati bunyinya, anak-anak itu seakan-akan tidak rela semi hidup terlunta-lunta dan mati sia-sia di bawah pepohonan, untuk akhirnya diseret-seret oleh pasukan semut sebagai mangsa, seperti yang mereka saksikan sendiri ketika kian kemari mencari semi di area pepohonan di mana saja di dalam kota.

Seorang ibu menceritakan kepada saya bahwa anaknya yang masih kecil itu setiap kali pasti menguburkan semi peliharaannya yang sudah mati secara baik-baik.

Rasa sayang akan serangga ini pun membuat mereka selalu melakukan penangkapan dengan sangat hati-hati. Tidak hanya agar bisa menangkap semi hidup-hidup tetapi juga agar serangga itu tidak sampai disakiti.

 

 

Warga kota yang modern ini pun dengan lancar bercerita tentang jenis-jenis semi yang populer di Jepang pada musim panas.

Ada abura-semi dan higurashi yang konon terdapat merata di seluruh Jepang. Namun masing-masing mengeluarkan bunyi berbeda. Abura-semi mengeluarkan bunyi zi-zi-zi-zi-zi-zi-zi …., sedangkan higurashi mengeluarkan bunyi kana-kana-kana-kana-kana … !

Ada lagi kuma-semi yang banyak terdapat di Jepang bagian barat dan wilayah Nagoya. Bunyinya sya-sya-sya-sya-sya-sya …., yang memang hingga saat ini sudah cukup akrab di telinga saya.

Di Jepang bagian timur lebih populer minmin-semi yang mengeluarkan bunyi min-min-min-min-min-min ….. !  Ada lagi tsukutsukuboshi dan niinii-semi  yang mungkin sudah bisa dibayangkan bagaimana bunyi suaranya kalau berdasarkan onomatope.

Sungguh cerita spontan yang menarik, yang langsung saja saya catat agar tidak tercecer.

Beruntunglah warga kota-kota besar di Jepang! Banyaknya area berpepohonan lebat yang tersebar di sana-sini dalam kota memudahkan orang menemukan semi dan bisa menikmati bunyinya pada musim panas.

Anak-anak mereka pun tak perlu pergi jauh-jauh, atau harus ke desa hanya untuk mengenal dan menyentuh serangga penyanyi yang bernama semi itu.

Tentu saja tak semua warga kota di Jepang berminat pada serangga yang satu ini.

Namun sejumlah orang dan beberapa keluarga yang menjadi nara sumber saya, dengan latar belakangnya masing-masing, cukup jelas menjadi bukti bahwa kecanggihan modern dan gaya hidup artifisial tidak harus dan tidak perlu merintangi kedekatan dengan alam dan kearifan tradisi turun-temurun.

semi.2

Bulan Juli 2010 sudah tiba. Seorang ibu memperlihatkan kepada saya secarik kertas dengan corat-coret gambar anak-anak, sepintas seperti gambar mobil, dengan dua lampu besar di bagian depannya. Hasil coretan anaknya yang kebetulan saya kenal baik.

Ketika diperhatikan secara teliti, wah, ternyata gambar semi. Sambil tertawa ibu itu menjelaskan bahwa anaknya sudah tidak sabar lagi menunggu. Anak kota menunggu serangga.

Diam-diam saya sendiri bahkan punya ‘agenda tersembunyi’. Mendengar cerita tentang bermacam-macam bunyi yang diperdengarkan oleh berbagai jenis semi itu, saya sudah siap-siap untuk pasang telinga lebih cermat lagi.

Jangan-jangan akan terdengar juga nyanyi semi seperti yang biasa saya nikmati di kampung halaman saya di Manggarai, Flores, Indonesia: njieng-njieng-njieng-njieng-njieng-njieng ……!

Siapa tahu “njieng” pun sudah ikut merantau.

Selamat datang, Semi !!
Selamat tinggal, Musim Semi !!

 

(henri daros) 

  

 

   

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Melky Pantur  On February 2, 2014 at 6:48 pm

    Luar biasa kajiannya…amat inspiratif.

    • Henri Daros  On February 2, 2014 at 10:54 pm

      Terima kasih sudah mampir dan mengapresiasi, Melky … salam dari Nippon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: