NELSON MANDELA: PUNCAK PIALA DUNIA 2010

Kerinduan ini terobati juga akhirnya. Semula dikira hanyalah sebuah kerinduan pribadi. Namun ternyata merupakan kerinduan begitu banyak orang. Nelson Mandela tampil juga akhirnya di arena hajatan akbar Piala Dunia 2010.

 

Didampingi sang istri, Graca Machel, mantan Presiden Afrika Selatan yang sudah sangat lanjut usia itu tampil di tengah udara dingin menyalami tak kurang dari 95.000 penonton yang tengah bersiap-siap menyaksikan laga bersejarah antara Spanyol dan Belanda. Tak mengherankan, kehadiran tak terduga Sang Madiba serempak memicu sambutan menggelegar di seantero stadion Soccer City, Johannesburg itu. Gaung vuvuzela yang menggila dan sorak sorai histeris sempat membuat merinding.

 

Hanya sejenak dibawa berkeliling di atas jeep golf, sambil melambai-lambaikan tangan dan melemparkan senyum ramah yang sudah menjadi kekhasannya, Sang Madiba lantas menghilang meninggalkan stadion. Mengamati suasana lewat layar kaca, puluhan ribu penonton itu tampak seakan-akan baru saja disapu dan dielus oleh sebuah hembusan angin sejuk nan gaib. Dan tiba-tiba semuanya sadar bahwa mereka sesungguhnya sedang menantikan sebuah perang tanding.

 

Lunas sudah kerinduan semua orang yang telah ramai terungkap sejak upacara pembukaan Piala Dunia 2010. Salah seorang cucu Sang Madiba, Mandla Mandela, mengatakan bahwa Sang Kakek seperti berada di bawah ‘tekanan’ ketika para petinggi FIFA dan panitia Piala Dunia 2010 tak berhenti mengungkapkan kerinduan semua orang untuk memandang wajahnya, meski hanya sejenak, di arena pertandingan. Itu sudah dipenuhinya, dan hanya itulah yang bisa dipenuhinya. Keadaannya sangat tidak memungkinkan untuk ikut menonton di stadion, termasuk untuk menyerahkan piala kejuaraan kepada kapten tim pemenang sebagaimana dimohonkan pula oleh para petinggi FIFA.

 

Sungguh tak terbayangkan sebuah peristiwa seakbar Piala Dunia bisa berlangsung di bumi Afrika Selatan tanpa Nelson Mandela. Padahal belumlah terlalu lama, ya baru 20 tahun yang lalu, dia menjadi orang bebas dan lantas mengubah wajah negeri kelahiran dan bangsa yang dicintainya. Mengubahnya menjadi sederajat, semerdeka dan semartabat dengan bangsa-bangsa lainnya yang sudah jauh lebih dulu menikmati suasana keberadaban itu. Bangsa Afrika Selatan bukanlah bangsa yang sempurna. Namun, betapa Nelson Mandela telah menjadi ‘hati nurani’ mereka. Hati nurani yang senantiasa memberi peringatan tentang hidup dan perilaku berkeadaban.

 

Itulah antara lain mengapa Afrika Selatan boleh berbangga, dan patut berbangga,  karena telah melaksanakan tugasnya sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 yang baik, dan berhasil. Afrika Selatan tidak tega mengkhianati ‘hati nurani’ yang senantiasa mengetuk-ngetuk pintu kesadarannya itu. Tidak mau pula mempermalukan diri sebagai bangsa yang sudah sekian bangga menyandang nama besar dan mulia itu.
***

Bayangkan saja jika Piala Dunia tahun 2010 ini ditutup tanpa Nelson Mandela menampakkan wajah, meski cuma sejenak, baik secara langsung kepada seluruh penonton di stadion maupun kepada segenap pemirsa di seluruh dunia. Serasa ada sesuatu yang hilang. Serasa ada sesuatu yang kurang.

 

Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan telah benar-benar berakhir.

Nelson Mandela adalah puncak dari segalanya.

 

(henri daros)

                                              SPORTSMAIL

SPORTSMAIL

                                              SPORTSMAIL

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: