MUSIM PANAS: MUDIK KE NEGERI NYIUR MELAMBAI

Akhirnya terjadi juga. Kamis, pagi hari, tanggal 15 Juli 2010. ‘Semi’, atau ‘riang-riang’dalam bahasa Indonesia, membangunkan saya dengan bunyi riuhnya, atau mungkin lebih tepat dengan jeritannya. Saya tersenyum sendiri karena memang itulah yang sedang saya nantikan selama beberapa hari menjelang pertengahan bulan Juli. Menantikan tibanya musim panas dengan ‘semi’ sebagai gong pembuka.

 

Menarik karena pagi itu sempat terdengar cicitan ramai burung-burung kecil yang beterbangan di area berpepohonan lebat di sekitar tempat kediaman saya, bahkan sampai ke dahan dan ranting yang menjuntai dekat jendela kamar saya. Namun tak seberapa lama cicitan ramai itu langsung menghilang. Teringat bahwa nyanyi ‘semi’ alias riang-riang yang diperdengarkan secara menjerit-jerit itu merupakan pula senjata ampuh untuk mengusir burung pemangsa agar tidak mendekat. Sayang, justru burung-burung kecil yang manis-manis itulah yang justru terusik dan terusir. Pasukan ‘semi’ seakan menegaskan bahwa daerah itu sekarang berada dalam kekuasaannya. Ya, musim panas sudah tiba.

 

Inilah untuk kesekian kalinya, tepatnya untuk kesepuluh kalinya, saya mengalami musim panas di Jepang. Namun, sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, saya tidak melewatkan seluruh musim panas itu di Jepang. Cuti musim panas universitas bagi banyak dosen dan mahasiswa biasanya juga merupakan kesempatan beraktivitas di luar negeri. Bagi para dosen dan mahasiswa Program Kajian Indonesia, tentu saja Indonesia adalah tempat beraktivitas yang paling tepat. Dan memang demikianlah kenyataannya.

 

Maka, setelah selama dua pekan terakhir bulan Juli berpanas-panas di Negeri Matahari Terbit, yang merupakan pula saat-saat puncak kesibukan akhir Semester Musim Semi, dengan ujian semester dan segala tetek-bengek urusan administrasinya, akhirnya pada tanggal 1 Agustus, hari Minggu pagi, saya pun bertolak lagi ke tanah air. Di tengah suhu udara 37 derajat Celsius taksi meluncur mulus ke bandara Chubu International Airport di atas sebuah pulau buatan di Teluk Ise, cukup jauh di luar kota Nagoya. Benar sebagaimana sudah diberitakan di media cetak dan elektronik, bandara-bandara besar Jepang sudah mulai dipadati penumpang yang berangkat ke luar negeri sejak hari Sabtu tanggal 31 Juli. Bandara Nagoya pun tak terkecuali.

 

Di awal bulan Agustus ini, ternyata saya pun terhitung di antara banjir penumpang itu, meskipun dengan niat yang tidak persis sama. Di wajah para penumpang Nippon, mulai dari kanak-kanak sampai orang-orang tua, terpancar kegembiraan dan kegairahan untuk segera menikmati pelbagai tempat tujuan wisata eksotik entah di mana. Di lubuk hati saya cuma ada sebuah kerinduan sederhana untuk mencium kembali bau bumi Nusantara sambil menjalankan segala kegiatan, entah yang telah terjadwal entah dadakan, yang saya yakin bakal tak kalah eksotik juga.

 

Hujan rintik-rintik dan udara sejuk 25 derajat Celsius menyambut penumpang di bandara internasional Changi, Singapura. Syukur, tak perlu berpindah terminal, karena ruang keberangkatan ke Jakarta pun ada di terminal dua. Terjadi perpisahan kecil dengan seorang rekan dosen dari Policy Studies Faculty yang harus berpindah ke terminal lain untuk meneruskan penerbangan ke Australia dengan sekelompok mahasiswanya.

 

Minggu malam tanggal 1 Agustus. Tiba akhirnya di Jakarta disambut kehangatan udara 30 derajat Celsius. Juga disambut oleh segala kekhasan penampilannya sebagai ibukota yang sarat masalah. Kekhasan yang sudah sekian akrab. Sudah tak asing lagi. Tak perlu lagi bersusah-payah menyesuaikan diri selain siap-siap menelusuri dan menyiasati lika-liku jalanannya untuk sampai tepat waktu ke tempat-tempat tujuan.

  

Lelah, memang, tak perlu disangkal. Namun, beristirahat, tunggu dulu. Sebagai seorang yang cuma numpang lewat, menghadapi Jakarta yang keras dengan jurusnya yang sering tak terduga rasanya tak ada banyak waktu untuk sekadar sedikit memanjakan diri. Asalkan tetap peka irama, biarlah semuanya mengalir dan terjadi pada waktunya.

  

henri daros 

 

Jakarta, gemerlap tapi pengap, dan konon sering gelap

karena listriknya suka megap-megap

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: