HAKURO: LEBIH DARI SEKADAR EMBUN

(Hakuro: More Than Just Sparkling Dews)

 

 

Dalam kalender tradisional Jepang dikenal suatu hari khusus yang disebut ‘hakuro’, yaitu hari di mana butir-butir embun putih turun membasahi daun-daun dan rerumputan sejak pagi. Biasanya ‘hakuro’ pertama kali terjadi pada salah satu hari di antara akhir musim panas dan awal musim gugur.

 

Mengapa disebut ’embun putih’? Tak ada arti khusus, apalagi magis, dari kata sifat putih tersebut. Disebut putih terutama karena warna itulah yang tampak jelas ketika butir-butir embun itu bertengger pada daun-daun dan rerumputan, akibat sorotan sinar mentari pagi hari. Bagaikan kristal-kristal zamrud berkilauan.

 

Namun, ‘hakuro’ sama sekali bukan pertanda berakhirnya musim panas atau dimulainya musim gugur. Kalender tradisional Jepang yang penuh dengan peristiwa penting berkaitan dengan dunia pertanian mencantumkan ‘hakuro’ sebagai salah satu momen penting dalam siklus kegiatan pertaniannya itu.

 

Kalender tahun 2010 mencantumkan ‘hakuro’ pada tanggal 7 dan 8 September secara alternatif. ‘Hakuro’ mengingatkan para petani untuk mulai lebih cermat memperhatikan sawah dan kebun mereka yang akan memasuki musim panen pada bulan Oktober. Panen mesti dipastikan aman. Oleh karena itu tanda-tanda aneh yang muncul selama sebulan menjelang musim panen itu harus disikapi pada waktunya, dan tentu saja harus dicegah agar tidak terjadi bencana.

 

Namun kali ini ‘hakuro’ yang diharapkan terjadi pada tanggal 7 September tidak kunjung terjadi juga pada tanggal 8 September, hari ketika saya menjejakkan kaki kembali di Jepang setelah sebulan berada di tanah air. Malah ramalan cuaca memperkirakan terjadinya dampak taifun. Benar juga. Sejak pesawat SQ672 yang saya tumpangi mendarat di Chubu International Airport hari Rabu pagi hingga tiba di tempat kediaman di samping pintu timur kampus Universitas Nanzan menjelang siang, hujan terus turun bergerimis. Ternyata memang tak tampak kehadiran si embun putih ketika sang surya terbit sebelum hujan turun.

 

Masih gerahnya suhu udara musim panas ini menyebabkan tak seorang pun, termasuk para petani Jepang, yang membayangkan akan turunnya butir-butir embun putih nan sejuk itu. Lantas, terganggukah persiapan panen?  Sama sekali tidak! Para petani Jepang modern yang sekaligus tradisional itu sudah sangat pandai mengawinkan dua dunia itu dalam kehidupan mereka.

 

Seorang sahabat Jepang mantan eksekutif sebuah perusahaan patungan Jepang-Indonesia di sebuah kota besar di Jawa, yang kini melewatkan masa pensiunan dan hari tuanya di sebuah rumah nan asri di lingkungan wilayah pertanian, menegaskan hal itu. Banyak hal dari kalender tradisional yang tidak lagi persis seperti semula, namun masih tetap bermakna dan diberi tafsir baru sehingga tetap ‘survive’ sebagai pemandu kegiatan dalam siklus hidup tahunan mereka.

 

Butir-butir embun putih itu boleh saja tidak turun, namun ‘hakuro’ tetap menjadi isyarat penting bagi para petani untuk memantau lebih dekat lagi perkembangan usaha pertanian mereka. Mereka tidak lagi semata-mata tergantung pada ‘hakuro’ yang diwariskan secara tradisional itu, namun di pihak lain mereka menafsirkan maknanya secara baru sebagai upaya untuk menyiasati secara modern tindakan apa yang bisa memastikan keamanan panen mereka nantinya.

 

Memantau lebih cermat perkembangan cuaca dan suhu udara serta konsekuensinya untuk tanaman pertanian, pencegahan hama dan penyakit tanaman lainnya yang bisa saja muncul, pengaturan air ke sawah-sawah atau ke areal pertanian lainnya agar selalu pas sesuai kebutuhan tanaman, dan lain-lain. Peran alam tidak disangkal, namun manusia tidak lagi berserah diri mutlak pada alam.

 

Peristiwa alam yang sebelumnya terjadi secara teratur dan menandai kehidupan tradisional mereka kini sudah berubah-ubah dan sulit diramalkan. Namun peristiwa ‘hakuro’ itu tetap diberi tempat bahkan dikalenderkan, dan dengan demikian membantu mereka untuk menyiasati gejala alam dalam menjalankan segala usaha pertanian yang kini dikelola secara modern.

 

‘Hakuro’ bukan lagi semata-mata suatu peristiwa alam berupa butir-butir embun putih nan sejuk yang turun membasahi daun-daun dan rerumputan, tetapi menjadi warisan tradisi dalam wujud butir-butir kearifan dan kecerdasan manusia yang menyirami peradaban dan membuatnya bertahan hidup, bahkan hidup semakin baik dan bermartabat, dari masa ke masa.

 

Embun putih, terdengar seperti puisi. Sepenggal puisi yang menyuntikkan energi positif ke urat nadi kehidupan, dan membuat hidup itu menjadi lebih manusiawi.

 

henri daros

 

(Foto Hiroshi Katoh) 

 

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: