PESONA MUSIM GUGUR YANG TAK PERNAH LUNTUR

[ The Unfading Beauty of Autumn Leaves ]

Musim Gugur sudah kembali membelai Jepang. Orang Jepang sendiri menyebut musim ini ‘Aki’. Musim yang ditunggu-tunggu. Panorama warna-warni yang selalu dinanti. Apakah memang musim yang satu ini sedemikian istimewa di Jepang? Bukankah dia milik semua negeri yang punya empat musim? Benar, tidak sangat istimewa sesungguhnya.

Namun, mengalami dan membandingkan ‘Aki’ atau Musim Gugur di Jepang dengan musim yang sama di pelbagai tempat lainnya, setidaknya dengan Musim Gugur di negeri-negeri Eropa yang pernah saya sambangi, dan bahkan pernah jadi tempat tinggal saya juga, mesti diakui bahwa terasa ada perbedaan, untuk tidak menyebutnya sebagai keistimewaan.

Misalnya saja, di Jepang panorama warna-warni itu tampak terbentang begitu luas dan limpah di depan mata, seluas dan selimpah wilayah berhutan yang khas menandai topografi  Negeri Matahari Terbit ini. Menyebut wilayah berhutan tidak saja merujuk ke hutan-hutan alam tetapi juga hutan lindung dan hutan buatan yang menyebar dan menyerap hingga ke jantung kota atau pemukiman.

Data terakhir PBB menunjukkan bahwa 69 persen negeri ini diselimuti hutan. Merupakan negeri nomor dua di dunia, bersama Swedia, yang punya persentase tinggi hamparan hutannya, sesudah Finlandia dengan 73 persen. Maka bersiap-siaplah di negeri yang satu ini untuk dimanja oleh keindahan warna-warni dedaunan yang tersaji langsung di sekitar tempat kediaman atau tempat kerja Anda.

Jepang pun bisa menikmati anugerah keindahan Musim Gugur ini selama suatu jangka waktu yang relatif panjang berkat bujur geografisnya yang memanjang dari utara ke selatan. Tidak tanggung-tanggung hampir selama tiga bulan. Biasanya berawal dari ujung utara sekitar pertengahan bulan September. Beranjak perlahan ke selatan sambil cukup lama pamer keindahan di setiap wilayah. Siapa pun yang belum sempat menikmatinya di suatu wilayah tak perlu keburu waktu untuk bisa menikmatinya di tempat lain.

Tak kurang khasnya, Musim Gugur di Jepang adalah musim festival. Perayaan di mana-mana. Pendeknya, sebagaimana tiga musim lainnya, yakni Musim Dingin-Musim Semi-Musim Panas, rentang waktu Musim Gugur pun penuh padat oleh perayaan. Bahkan terasa semakin semarak lantaran bersanding akrab dengan pelbagai festival musim panen yang biasanya jatuh pada pertengahan Musim Gugur, teristimewa selama bulan Oktober.

pemukiman yang menjadi semakin indah saat musim gugur (foto: hiroshi katoh)

“Koyo” yang jauh dari kuyu

“Koyo”, itulah sebutan dalam bahasa Jepang untuk dedaunan yang mekar berwarna-warni dan menjadi pesona setiap Musim Gugur. ‘Autumn leaves’, ‘autumn foliage’ atau ‘maple leaves’, sebutan populer internasionalnya. Kegiatan rekreasi untuk pergi menikmati warna-warni dedaunan tersebut di tempat-tempat tertentu disebut “momiji-gari” (maplehunting & mapleviewing).

Tahun 2010 ini ‘koyo’ diinformasikan tampak pertama kali di dataran tinggi atau Gunung Asahidake, dataran paling tinggi di Pulau Hokkaido, pulau besar di ujung utara Jepang. Publikasi informasi tertanggal 14 September, dan dengan demikian ‘koyo’ datang terlambat seminggu dari biasanya. Konon akibat cuaca musim panas di Hokkaido kali ini masih terasa cukup menyengat hingga ke awal bulan September. Dampak negatif cuaca terhadap ketajaman warna-warni dedaunan pun kali ini bakal terlihat selanjutnya, namun katanya tak akan tertangkap oleh mata para wisatawan biasa, boleh jadi termasuk saya juga.

Panorama warna-warni terus merambah wilayah Pulau Hokkaido lainnya selama paruh kedua bulan September, lalu selanjutnya turun ke selatan, ke Pulau Honshu, pulau terbesar Jepang, sejak awal Oktober. Maka penduduk bagian utara Pulau Honshu, misalnya di wilayah Nikko dan Akita, mulai menikmati juga pesona musim gugur ini, yang diinformasikan mulai unjuk keindahan sejak tanggal 5 Oktober. Buat saya tanggal ini langsung tercatat dan tak terlupakan karena memang merupakan hari ulang tahun saya.

Sementara permadani alam ini perlahan terbentang ke bagian tengah Pulau Honshu, tidak tanggung-tanggung datang informasi justru dari pulau tetangga di sebelah selatannya, yakni Pulau Kyushu, bahwa warna-warni ‘koyo’ pun sudah menghiasi pegunungan Kuju di Prefektur Oita dan di seputar dataran Kirishima, sebuah area populer untuk olahraga ‘hiking’. Saat itu kalender sudah menuju akhir bulan Oktober, padahal wilayah tengah Jepang, apalagi bagian selatan Pulau Honshu, belum sepenuhnya tersentuh pesona alam yang satu ini. Mungkin benar, cuaca yang agak berbeda tahun ini telah menyebabkan juga perubahan pada peta munculnya ‘koyo’.

Baru pada awal bulan November, hingga pertengahan bulan saat saya membuat catatan ini, aneka cerita dan informasi tentang ‘koyo’ mulai bermunculan dari pelbagai wilayah dan tempat-tempat wisata populer untuk ber-‘momiji-gari’ di kawasan tengah dan selatan Pulau Honshu, termasuk kawasan tengah Jepang. Gambar-gambar indah dari kawasan Gunung Fuji, Koyasan, Tokyo, Yamadera, Ise, Kyoto, Nagoya dan lain-lain mulai bertebaran di banyak media. Pada saat yang sama, di banyak tempat lainnya musim gugur sudah memasuki puncaknya. Di tempat-tempat itu ‘koyo’ sedang pada saatnya yang paling indah.

Jika cuaca dan ritme alam masih seperti sediakala, maka puncak pesona musim gugur untuk tempat-tempat dan wilayah yang namanya disebut di atas akan bisa dinikmati selama paruh kedua bulan November ini. Beberapa tempat bahkan akan menyajikan panorama indah warna-warni itu seperti biasa hingga ke awal bulan Desember, misalnya Tokyo dan Kyoto. Di Nagoya sendiri, tempat tinggal saya, aksi ‘momiji-gari’ terasa baru mulai menggeliat menyongsong puncak musim dalam dua pekan mendatang ini. Disemarakkan oleh pelbagai festival umum, dan tidak kurang juga oleh aneka kegiatan rekreasi kelompok yang bahkan sudah mulai berlangsung pada hari-hari ini. Seperti biasa di luar waktu kerja, termasuk malam hari.

‘Koyo’ memang penuh pesona, indah dan ceria, dan tentu saja jauh dari kuyu.

"momiji-gari": sedang memeriksa hasil jepretan, malah dijepret (foto: hiroshi katoh)

 “Aki Matsuri”, tapi bukan mainan khusus para aki

“Aki Matsuri”, begitulah festival musim gugur itu disebut dalam bahasa Jepang. Ya, ‘Autumn Festival’. Sebagaimana semua festival lainnya, ‘Aki Matsuri’ pun dirayakan secara merata di seluruh Jepang. Namun pada musim gugur ini festival diadakan terutama untuk merayakan panen dan menghormati para dewata Shinto setempat. Pelbagai perayaan setempat itu pula yang lantas membuat festival musim gugur di Jepang unik dan berbeda dari tempat ke tempat, dan karena itu menjadi lebih menarik. Festival bisa saja disponsori oleh badan pengurus Kuil Shinto setempat, namun bisa juga atas prakarsa masyarakat di tempat itu atau lembaga pemerintahannya.

Ada banyak festival besar pada musim gugur di Jepang. Bisa disebut misalnya ‘Chochin Matsuri’ (Lantern Festival). Tiga tempat yang biasa menggelarnya secara besar-besaran ialah prefektur Aichi (Nagoya), Akita dan prefektur Fukushima (Nihonmatsu Chochin Matsuri). Di Gifu, tetangga Nagoya, ada ‘Takayama Matsuri’, sedangkan di prefektur Hyogo ada ‘Nada Kenka Matsuri’ dan di Kyoto ada ‘Kyoto Jidai Matsuri’. Ini hanya untuk menyebut beberapa. Festival-festival besar ini biasanya berlangsung pada bulan Oktober. Tak perlu dikatakan lagi betapa banyak orang tumpah-ruah ke arena festival. Bersiap-siap saja untuk kecewa jika sedikit saja Anda terlambat dan karena itu tidak mendapat tempat yang tampan untuk menikmatinya.

Namun ada begitu banyak festival pada skala yang lebih kecil yang digelar di pelbagai tempat di Jepang. Tidak kurang menarik, sementara kita pun bisa ambil bagian secara leluasa dan tentu saja membikin kita puas pada akhirnya. Ada misalnya ‘Moooo Matsuri’ dan ‘Bussharito Matsuri’ yang ramai dan akrab di pulau kecil Shiraishi, ‘Kishiwasa Danjiri Matsuri’ di Osaka, ‘Ohara Hadaka Matsuri’ yaitu ‘festival telanjang’ di kota Isumi prefektur Chiba, ‘Aizu Matsuri’ di Fukushima, ‘Hanamaki Matsuri’ di Iwate, ‘Tsurugaoka Hachimangu Matsuri’ di kota Kamakura, Tokyo, ‘Nikko Toshogu Matsuri’ dan ‘Nagasaki Kunchi Matsuri’.

Di setiap kota pun ada banyak festival lokal yang digelar di setiap distriknya. Secara acak saja bisa disebut di sini misalnya ‘Furusato Hyappei Matsuri’ di Iwamisawa, Hokkaido, atau ‘Okuma-kabuko Matsuri’ di Nakajima, prefektur Ishikawa, ‘Fukuro Matsuri’ di Ikebukuro, Tokyo dan ‘Kokkeisetsu Matsuri’ di Yokohama. Setiap distrik di kota Nagoya misalnya sudah menggelar festival secara berturut-turut sepanjang bulan Oktober, sebagaimana mungkin sudah Anda baca pada berita dan informasi bulan Oktober di blog ini.

Kreativitas dan luapan kegembiraan untuk merayakan musim gugur ternyata memang tidak lagi semata-mata terkait pada perayaan petik panen dan penghormatan terhadap para dewata yang dipercaya telah menganugerahkan panen berlimpah itu. Karena itu warna dan jenis festival pun menjadi sangat beraneka, dan lantas ada sekian banyak jenis hiburan dan permainan yang juga menyertai pelbagai festival tersebut. Pertandingan ‘Sumo’ misalnya dapat disaksikan pula selama musim ini. Pentasan musik dapat disaksikan di mana-mana di tempat terbuka, didukung oleh udara sejuk yang menyegarkan. Hiburan untuk anak-anak juga digelar di banyak tempat.

Orang memanfaatkan musim yang indah ini untuk merayakan kehidupannya sebagai manusia, bagian yang tak terpisahkan dari alam. Tak terkecuali, dari kanak-kanak sampai orang dewasa. ”Aki Matsuri” memang sama sekali bukanlah mainan khusus buat para aki.

di alam lepas .... liar tapi indah (foto: hiroshi katoh)

 “Momiji-gari”, bikin orang tak kapok antri 

Kembali ke ‘momiji-gari’. Inilah kegiatan rekreasi alam yang memang paling dicari dan dinikmati selama musim gugur ini. Bagi sejumlah besar penduduk di setiap wilayah, musim gugur tak pernah lewat begitu saja tanpa diisi oleh kegiatan yang satu ini. Karena itulah puncak musim gugur di setiap wilayah sangat ditunggu-tunggu. Orang-orang dari wilayah lain pun akan datang berbondong-bondong. Maka tak mengherankan kalau jalan raya yang menuju ke tempat-tempat ‘momiji-gari’ penuh oleh kendaraan. Kemacetan bukanlah cerita baru.

Selain ke tempat-tempat tertentu dalam kawasan kota dan sekitarnya, saya sendiri pernah beberapa kali diajak pergi ke tempat-tempat ‘momiji-gari’ yang agak jauh namun termasuk sangat dikenal dan karena itu sangat ramai dikunjungi oleh para pemburu daun-daun indah warna-warni itu. Misalnya ke Korankei di dataran tinggi wilayah Tokai dan dataran tinggi sekitar kota kecil Mino, atau ke pegunungan sekitar Inuyama.

Kepadatan lalu-lintas ke arah Inuyama dan Mino masih bisa dengan mudah ditembus, sedangkan kemacetan parah ke arah Korankei sudah dianggap biasa dan mobil-mobil pun sudah terbiasa antri berjam-jam. Parah? Tampaknya semua pada maklum bahwa menunggu di antrian adalah bagian dari ritual yang harus dijalani kalau mau menikmati surga di puncak Korankei. Tak ada yang coba-coba mendahului dan tak terdengar sedikitpun bunyi klakson. Pada akhirnya semua tokh sampai juga ke tujuan. Tampaknya semua orang sudah memperhitungkan resiko yang terbukti tidak pernah sia-sia.

Bercengkarama dan berjalan-jalan santai pada malam hari di bawah naungan daun-daun warna-warni yang tampak semakin indah terkena sorotan lampu-lampu khusus, sambil menikmati aneka makanan hangat yang tersedia limpah diiringi alunan musik tradisional yang nada serta iramanya sendiri dipetik dari ilham alam, memang merupakan pengalaman yang luar biasa indah dan menyegarkan. Menjalani dan mengalami gaya hidup Jepang yang keras dalam kerja dan ketat dalam disiplin sepertinya menemukan pelepasan dan keseimbangannya di sini. Jepang, dengan memanfaatkan kekayaan dan keindahan alamnya, pandai menciptakan atmosfer yang mengayomi.

Ketika catatan ini ditulis, yaitu pertengahan bulan November, Musim Gugur 2010 di Jepang dengan aneka festivalnya belum berakhir, masih kurang-lebih tiga minggu lagi. Warta tentang tibanya ‘Fuyu’ atau Musim Dingin akan terdengar juga. Mungkin ketika orang-orang di dataran tinggi Aizu mulai memaku potongan-potongan papan pada jendela-jendela rumah mereka untuk melindungi tempat kediamannya dari salju. Sementara para penghuni kota seperti biasa hanya cukup bersiaga untuk sekadar menekan tombol mesin pemanas di ruang-ruang betonnya.

Itulah saat ketika para pemburu ‘momiji’ mau tak mau harus mengucapkan salam perpisahan buat Musim Gugur. Daun-daun kering berwarna-warni indah itu habis berguguran, lantas terkubur. Namun, tak hanya membuat bumi bertambah subur, pesonanya pun tak pernah luntur.

henri daros

kampus universitas nanzan, menjelang puncak musim gugur 2010 (foto: henri daros)

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: