SEMARAK NATAL DI NEGERI KUIL DAN KASTIL

CHRITSMAS RADIANCE IN A LAND OF TEMPLES AND CASTLES
 
”Christmas Illuminations” pada Musim Natal 2006 di Roppongi Hills, Tokyo. ”Illuminations” seperti ini dapat dinikmati pada hampir semua kota besar
di Jepang pada setiap Musim Natal di samping pohon-pohon Natal raksasa.
 
Setelah Sepuluh Kali Merayakan Natal di Jepang
 

Saya tertegun sejenak. Perayaan Natal buat Umat Kristiani memang tinggal lima hari lagi. Karena itu Umat Kristiani sendiri masih khusyuk dan hening menjalani hari-hari persiapan menyongsong Natal, hari-hari terakhir dari periode empat pekan yang populer disebut sebagai Masa Penantian atau Masa Adven itu. Namun Jepang sudah kadung meriah dan hangat ‘menyambutnya’, bahkan semakin memuncak, karena sudah sejak sebulan yang lalu mereka mulai ‘merayakannya’.

Begitulah Natal di Jepang. Sesungguhnya sudah tak asing lagi bagi saya. Sendiri sudah mengalaminya secara langsung selama sepuluh kali merayakan Natal di Negeri Matahari Terbit ini. Kali pertama memang terpana, dengan sejumlah tanda tanya. Untuk selanjutnya tak merasa terkejut lagi, tinggal menantikan hal-hal yang sudah diduga akan kembali terjadi. Atau berantisipasi terhadap aneka variasi yang seperti biasa dirakit pula di sana-sini pada jenis perayaan yang sudah ada. Namun, menelusuri lika-likunya, Jepang dan Natal memang akrab sekaligus berjarak.

Pohon Natal di pelataran Stasiun Nagoya, tahun 2005 (Foto: Henri Daros)

Sekilas Latar Belakang

Semua tahu Jepang bukanlah sebuah negeri dengan latar belakang warisan dan budaya Kristen. Sama sekali tidak. Jepang adalah negeri Buddha dan Shinto. Jumlah Umat Kristiani tidak mencapai satu persen di negeri yang bertaburan kuil dan kastil ini.

Namun sejarah kekristenan di negeri ini telah mencatat perayaan Natal untuk pertama kalinya pada tahun 1549 dengan kedatangan Fransiskus Xaverius, misionaris Spanyol yang turut berlayar bersama armada Portugis. Dengan dilarangnya agama Kristen sejalan dengan sikap anti barat di Jepang sejak tahun 1600-an, dan selama periode Edo, terhenti pula pelaksanaan perayaan Natal hingga selama kurang-lebih 250 tahun.

Bangkitnya lagi kekristenan sejak periode Meiji pada tahun 1800-an menghidupkan kembali perayaan Natal di kalangan Umat Kristiani yang tetap merupakan kelompok sangat kecil di antara masyarakat Jepang. Namun hubungan dengan Amerika, dan kehadiran orang-orang Amerika di Jepang, perlahan-lahan menyebarkan pula pengaruh lewat kebiasaan merayakan Natal di luar ritus keagamaan, yaitu di lingkungan keluarga dan masyarakat, dengan segala pernak-perniknya.

Kebiasaan itu lantas mulai ditiru dan diadopsi juga secara luas oleh orang-orang Jepang yang non-Kristen. Setelah sempat terhenti selama Perang Dunia II, pengaruh dan kebiasaan Amerika itu muncul kembali dan bahkan semakin berkembang luas sejak tahun 1960-an.

Natal: Sosial dan Komersial

Sejak itulah semarak Natal, atau yang populer dengan sebutan ‘Kurisumasu’, lidah Jepang untuk kata ‘Christmas’, secara sangat mencolok menandai dua bulan terakhir setiap tahun, November dan Desember. Konser dan lagu-lagu Natal serta drama Natal di televisi dan radio, Pohon Natal dengan kerlap-kerlip lampunya di mana-mana, termasuk di rumah-rumah pribadi, Christmas Party dan santapan Natal bersama, bertukar hadiah Natal, aneka kue Natal berhias indah dan lain sebagainya, yang semuanya beraroma Natal yang kental, sejenak mengubah wajah Jepang seakan-akan sebuah negeri dengan warisan dan tradisi Kristen.

Namun, menilik isinya, menakar gebyarnya dan mengukur pengaruhnya, perayaan Natal ini tak lebih tak kurang merupakan suatu hajatan sipil yang netral, perayaan masyarakat tanpa pretensi. Sebuah ‘matsuri’, festival, ya Festival Natal, sebagaimana festival-festival lainnya di Jepang, namun dengan segala kekhasannya yang padat dengan daya pikat.

Dapat dimengerti pula jika hajatan sosial di atas merangsang juga sebuah aktivitas lain yang sangat erat terkait, yakni aktivitas komersial. Semua toko dan pusat perbelanjaan serta-merta dijejali dengan ‘Christmas Sales’. Komersialisasi Natal? Itulah yang sering dikatakan. Bisa juga sebaliknya. ‘Natalisasi’ barang-barang komersial. Ya, aksi ‘natalisasi’ citra produk atau barang kebutuhan, baik kebutuhan pokok maupun sekunder, baik barang-barang biasa maupun barang mewah. Tentu saja agar pamornya naik. Hotel-hotel dan restoran pun mengobral tawaran khusus. Meledak!

Maka selama musim Natal ini para pembelanja hampir pasti, suka atau tidak, akan sering berpapasan dengan pajangan-pajangan khas Natal dan aneka dekorasi Natal lainnya, berurusan dengan para pramuniaga berkostum Santa Klaus, mendapat bonus Natal dan menenteng barang belanjaan dalam kemasan Natal. Tidak salah lagi, untuk sementara beraneka macam jualan diberi wajah Natal, agar lebih menarik dan memikat, tentu demi kepentingan komersial pula. Tak ada urusannya dengan agama. Ini hanya soal niaga. Titik!

‘Christmas Sales’ di sebuah toko pakaian dekat gerbang timur Universitas Nanzan, Kampus Nagoya, sudah sejak awal November 2010 (Foto: Henri Daros)

Natal: Pesan Kasih dan Damai

Bagaimanapun juga ada suatu hal yang ternyata tidak banyak diketahui. Lebih dari sekadar larut dalam gemerlap perayaan Natal sebagai ‘festival’ dengan ornamen hiburan dan label komersialnya itu, banyak orang Jepang bukan Kristen mendatangi gereja-gereja pada Upacara Keagamaan Malam Natal tanggal 24 Desember setiap tahun. Sendirian, sekeluarga, bersama rekan atau teman, berbaur dengan Umat Kristiani dalam kekhusyukan upacara, sepengetahuan umat di tempat itu.

Kenyataan ini buat saya tidak datang secara mengejutkan. Sejak pertama kali tiba di Jepang pada tahun 2000 saya sudah diberitahu bahwa dalam setiap Perayaan Ekaristi atau Misa, di gereja-gereja Katolik khususnya, selalu ada sejumlah orang Jepang bukan Kristen/Katolik yang hadir. Mereka pun mengikuti upacara dengan khidmat. Mereka mendapat tempat duduk sama seperti umat setempat. Berbaur, tak ada pemisahan.

Mereka senang mendengarkan khotbah pastor dan menyimak pesan-pesannya. Meskipun mereka diberitahu lewat pengumuman bahwa hanya umat yang boleh menerima Komuni, namun dengan tenang mereka pun maju ke depan bersama umat saat Upacara Komuni. Mengapa? Mereka hanya mau mendapat berkat dari pastor. Baik anak-anak maupun orang dewasa. Pastor yang menerimakan Komuni tak akan keliru karena mereka biasanya akan mengatupkan mata dan tidak menyodorkan telapak tangan saat berada di depannya. Saya sendiri pun mengalami hal ini saat berkesempatan memimpin upacara.

Namun, ada tujuan dan disposisi batin yang khusus ketika mereka menghadiri Upacara Malam Natal. Bagi mereka Natal adalah peristiwa dan sekaligus perayaan kasih dan perdamaian, perayaan hubungan antar anggota keluarga, antarsahabat dan antarkekasih. Rupanya ini adalah hasil pencarian mereka sendiri, pencarian terhadap makna Natal yang dihayati Umat Kristen. Dan bukan orang Jepang namanya kalau kemudian tidak ditafsir dan dimanfaatkan untuk kebutuhannya, dalam hal ini kebutuhan batinnya. Aspek inilah yang konon sangat menyentuh hati orang Jepang yang dikenal sangat toleran, tidak kaku dan tidak dogmatik dalam keberagamaannya dan bersimpati pada apa saja yang dinilai luhur.

Mengikuti Perayaan Malam Natal di pelbagai tempat di Jepang selama 10 tahun ini, dan saat sendiri pernah memimpin upacara Natal, biasanya untuk kelompok khusus, merupakan pengalaman berharga dalam menyaksikan kenyataan tersebut di atas. Paling akhir, di Katedral Naha, Okinawa pada kesempatan Natal tahun 2009, dan tahun sebelumnya di Gereja Oura dan Katedral Murakami, semuanya di Nagasaki. Juga tentu saja di beberapa gereja Katolik di Nagoya, kota tempat tinggal dan tempat tugas saya, di mana terdapat Katedral Nunoike.

Pesan kasih dan damai Natal terasa menghembus melampaui komunitas Umat Kristiani sendiri.

Kandang Natal 2010 di Universitas Nanzan Kampus Nagoya pada malam hari (Foto: Henri Daros)

Aroma Natal di Kampus Nanzan

Universitas Nanzan, tempat tugas saya, meski sebuah universitas Katolik namun merupakan miniatur Jepang juga. Total jumlah mahasiswa dan dosen yang Kristen/Katolik tidak mencapai satu persen. Kampus ini pun ikut diselimuti atmosfer Natal se-Jepang dengan karakteristik seperti yang digambarkan di atas. ‘Christmas Party’, misalnya, merupakan acara yang tidak boleh tidak di kampus di mana para mahasiswa berkesempatan hadir, selain ‘Christmas Party’ untuk para dosen dan staf yang diadakan di luar kampus.

Namun ada pula prakarsa klub-klub mahasiswa tertentu dengan jaminan bobot Natal yang tidak mengecewakan. Para mahasiswa bukan Kristen itulah ujung tombaknya, dengan arahan satu-dua pendamping Kristen/Katolik di mana perlu. Mulai dari klub mahasiswa yang langsung berprakarsa memasang lampu-lampu hias warna-warni di tempat-tempat tertentu dalam kampus sejak akhir bulan November, hingga ke pentas Teater Natal dalam kerja sama dengan kelompok teater profesional di luar kampus.

Klub-klub musik vokal dan instrumental pun punya sumbangan khusus, membuat atmosfer Natal semakin terasa indahnya. Ada klub ‘Schola Cantorum’ yang berpentas dalam kampus, dan ada juga ‘Orkes Musik Tiup Nanzan’ yang berpentas di gedung konser untuk umum di luar kampus. Orkes ‘Carillon’ para mahasiswi Nanzan College pun, dengan dentang-denting loncengnya yang riang namun bening, membuat lagu-lagu Natal terdengar seakan-akan datang dari balik awan.

Nanzan sudah menggoreskan tradisi, dan barangkali satu dari tradisi itu ialah Kandang Natal dalam ukuran besar yang setiap kali terpasang di tempat yang sama di pinggir jalan utama yang membelah kampus. Sepanjang siang para mahasiswa selalu bisa menikmati kekhasannya, namun pada malam hari selalu saja ada orang luar kampus yang datang berkunjung dan, tentu saja, bukan orang Jepang namanya kalau tidak menjepretnya juga.

Selain Kandang Natal di tempat terbuka ini, ada pula sebuah Kandang Natal lain yang selama beberapa tahun berturut-turut terpasang di lobi masuk Perpustakaan Nanzan. Khas dan menarik pula, dan jelas merupakan hasil karya seni yang lain, namun tak terlihat lagi pada Natal tahun 2010 ini. Setiap tahun memang selalu ada pergantian dan perubahan dalam tampilannya, mungkin untuk menghindari kebosanan. Varietas delectat!

Siapa saja yang masuk ke ruang kerja saya di kampus pun akan segera terjerat pandangannya oleh ‘panorama’ Natal yang mungil. Santa Klaus yang sedang meniupkan lagu-lagu Natal dengan trompet keemasannya, dan sebuah Pohon Natal bersahaja, tampak di samping tempat duduk tamu, sebagaimana terlihat pada dua gambar di bagian akhir catatan ini. Ikhtiar mencipta suasana yang menunjang.

Kandang Natal 2004 di Lobi Perpustakaan Universitas Nanzan, Kampus Nagoya (Foto: Henri Daros)

Akhirnya: Akrab Tapi Berjarak Namun Bukan Tanpa Makna

Ketika sedang menyelesaikan catatan ini, terdengar lagu ‘O Holy Night’ mengalun dari radio di belakang saya. Dibawakan oleh sebuah paduan suara. Sebuah lagu yang syahdu, mungkin lagu Natal paling indah sesudah lagu ‘Silent Night’. Ya, begitulah Jepang merayakan Natal, dengan caranya. Ketika Umat Kristiani masih bersabar untuk menyanyikan lagu-lagu tertentu itu hingga Malam Natal tiba, dan untuk selanjutnya selama Masa Natal, Jepang justru sudah dan sedang melagukannya habis-habisan karena bagi mereka ‘Natal’ akan segera berakhir.

Buat Jepang, puncak dan sekaligus akhir musim Natal ialah Malam Natal, tanggal 24 Desember, ‘Christmas Eve’. Itulah hari, atau malam, istimewa. Tanggal 25 Desember tak lagi masuk jadwal, kecuali buat kalangan Umat Kristianinya. Tanggal 25 Desember pun sama sekali bukan hari libur nasional di Jepang. Saat Umat Kristiani memulai Perayaan Natal dan Masa Natal yang sesungguhnya, Jepang justru berhenti dan segera mulai mempersiapkan diri untuk perayaan Tahun Baru. Seketika pula disadari, Jepang yang tampak ”Kristen” itu sesungguhnya lain.

Sah-sah saja. Bukanlah kenyataan yang aneh jika sudah diketahui latar belakangnya. Namun di situlah, dalam kenyataan semarak Natal yang khas di negeri kuil dan kastil ini, Umat Kristiani boleh menggali makna berdimensi lain bagi penghayatan keberagamaannya sendiri. Setidak-tidaknya dalam kenyataan bahwa Natal bagi banyak orang Jepang bukanlah sekadar festival dan komersial. Bahwa Jepang pun tersapa oleh pesan damai, kasih dan solidaritas Natal. Pesan Natal, betapa universal! Betapa indahnya!

Pada simpul-simpul seperti itu manusia patut bersatu tanpa dibatasi olah sekat-sekat agama, ras atau budaya. Bersatu untuk membangun kekuatan yang dapat mengubah wajah dunia dan bumi ini menjadi lebih manusiawi.

Kalau demikian, menggembirakan dan membahagiakan sekali untuk saling mengucapkan salam ‘Meri Kurisumasu’, sebagaimana sudah lebih dulu diucapkan oleh seorang sahabat Jepang dari balik telepon siang hari tadi, dan sudah kubalas pula. Tak kurang hangatnya, ‘Meri Kurisumasu’.

henri daros

 

 

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Rio Setiawan  On March 21, 2011 at 8:17 pm

    indahnya…
    ingin saya tahun ini malam natal seperti itu…
    tapi saya mo tanya nih mas henri…
    saya baru 3 bulan di jepang,tapi saya belum menemukan gereja katolik di dekat tempat tinggal saya…
    saya tinggal di shizuoka,hamamatsu,hamakita…
    bisa bantu saya??
    trima kasih sebelumnya…

    • Henri Daros  On March 21, 2011 at 8:54 pm

      Terima kasih Rio, sudah mampir juga ke blog ini. Shizuoka termasuk dalam Keuskupan Yokohama, berpusat di Kota Yokohama. Keuskupan tetangga ialah Keuskupan Agung Tokyo dan Keuskupan Nagoya. Di Shizuoka sendiri kalau tidak salah ada sekurang-kurangnya satu paroki. Menurut informasi terbatas yang saya miliki, gedung gereja terletak dekat Danau Sanaru, dikenal sebagai Gereja Katolik Hamamatsu, atau Gereja St. Francisco. Kalau sempat, coba tanyakan ke bagian informasi kota Shizuoka. Semoga, ketika tiba saat Perayaan Natal nanti, sdr Rio bisa menikmati Natal yang tidak kurang hikmatnya di Negeri Sakura. Salam hangat!

  • Rio Setiawan  On March 22, 2011 at 6:02 pm

    wah trima kasih banget buat balasanny…
    ada ya..??
    wah nanti saya cari..
    1 lagi nih..
    mas henri tau komunitas orang2 katolik yang tinggal di dekat daerah tempat tinggal saya tidak?
    lebih bagus lagi klo orang indonesia juga…
    jadi saya bisa bersama2 ke gereja st.fransisco spt yang mas henri maksud tanpa salah arah…
    mungkin facebookny ato ym ny,skalian facebook ato ym mas henri klo boleh…
    trima kasih sebelumnya…

    • Henri Daros  On March 23, 2011 at 1:24 am

      Wah, Rio … kalau tentang komunitas orang-orang Katolik yang ada di Shizuoka, termasuk yang berasal dari Indonesia, terus terang saya tidak tahu. Mungkin hal itu akan diketahui juga sesudah Rio mampir ke gereja St. Francisco sekali waktu untuk menghadiri ibadat bersama, pada hari Minggu misalnya. Tugas saya yang sangat terpusat di kampus mengakibatkan kurangnya atau tidak banyaknya informasi di luar itu. Sangat terbatas. Untuk sementara, saat saya berada di Indonesia sekarang ini, sumber-sumber informasi agak sulit diakses. Sekembali ke Jepang tentu akan lebih mudah. Perlahan-lahan Rio sendiri juga pasti akan mendapat informasi yang diperlukan, saya yakin. Tks.

  • Rio Setiawan  On March 23, 2011 at 11:02 pm

    wah,sayang sekali y…
    tp sejauh ini makasih y bwt infonya..
    GBU…

    • Henri Daros  On March 23, 2011 at 11:25 pm

      tidak apa-apa … jangan khawatir, pengalaman awal yg biasa. ada banyak cara dan peluang nanti untuk sampai terhubung dengan orang-orang indonesia yang lain di perantauan. selamat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: