PUSAT DOKUMENTASI SASTRA HB JASSIN: TERANCAM TUTUP?

Itulah berita buruk yang muncul di media massa nasional dan ibukota hari ini, Selasa 22 Maret 2011. Terutama buat mereka yang peduli pada kepentingan pendidikan dan kebudayaan, khususnya sastra, tentu saja.

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, yang berdiri sejak tahun 1977 atas dorongan dan dukungan kuat Gubernur Ali Sadikin itu, mengalami krisis keuangan yang akut. Keputusan untuk menutupnya tidak main-main, karena merupakan hasil rapat pengurus yayasan yang menaunginya pada hari Senin pagi tanggal 21 Maret 2011.

Sore hari ini, Selasa 22 Maret, saya menyempatkan diri ke Taman Ismail Marzuki, lokasi gedung PDS HB Jassin, sekadar berbagi keprihatinan. Berbincang-bincang berdua dengan Pak Ajip Rosidi, Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin, bukan saja merupakan saat-saat berbagi keprihatinan sebagaimana diniatkan, tapi sekaligus juga kesempatan untuk mengetahui lebih jauh dan lebih banyak tentang duduk masalah.

Tangga biru menuju ke lantai dua sebuah gedung di kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tempat PDS HB Jassin bermarkas. Tangga ke khazanah rekaman geliat budaya dan peradaban Indonesia

Memasuki ruangan khusus dokumentasi hasil karya para sastrawan Indonesia, yang merupakan hasil kerja yang tekun dan teliti dari seorang HB Jassin, serta-merta muncul perasaan ‘ngeri’ membayangkan jika pusat dokumentasi itu benar-benar ditutup.

Ada harapan, setelah mendengarkan tuturan Pak Ajip, karena ternyata Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo secara mendadak mengunjungi PDS HB Jassin pada Senin siang setelah keputusan menutupnya diambil pada Senin pagi. Pertanda sikap tanggap? Boleh jadi. Tidak main-main pula, gubernur menjanjikan dana 1 miliar rupiah yang dibutuhkan.

Pak Ajip Rosidi, Sastrawan dan Budayawan yang pernah lama tinggal di Jepang (hingga tahun 2003) dan mengajar di sebuah universitas di Osaka, kini Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin, berkenan saya ambil gambarnya di ruang dokumentasi PDS HB Jassin

Namun, yang jelas, pada masa Fauzi Bowo pulalah dana berkala yang diperoleh PDS HB Jassin mengalami penyunatan drastis hingga mengalami krisis maut tersebut. Tindakan yang sempat diprotes oleh Pak Ajip namun tak dipedulikan, bahkan permintaan untuk bertemu pun tak dikabulkan. Maka, dapat dipahami, mengapa pihak PDS HB Jassin masih merasa tidak yakin, hingga saatnya kucuran dana tersebut benar-benar diwujudkan.

Setengah bercanda Pak Ajip menceritakan bahwa setelah beberapa kali dia tak diberikan kesempatan untuk menemui gubernur, secara tiba-tiba malah gubernurlah yang datang menemuinya langsung. Semoga sungguh menjadi pertanda baik, bukan upaya memoles citra menjelang masa jabatan berikutnya. Demikian diharapkan.

Bersama Pak Ajip Rosidi di salah satu ruang kerja PDS HB Jassin

Saat pamit, tak ada yang lebih tepat untuk diungkapkan buat Pak Ajip, dan tentu saja buat segenap staf pengurus dan pengelola PDS HB Jassin, selain harapan dan dukungan agar tak terjadi hal terburuk yang tak dikehendaki itu, dan agar segera terbuka jalan keluar yang menyelamatkan keberadaannya.

Ya, semoga!

Jakarta, 22 Maret 2011

henri daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: