SEMERBAK MUSIM SEMI 2011 DI KAMPUS NANZAN NAGOYA

 [ SPRING 2011, NANZAN UNIVERSITY, NAGOYA CAMPUS, JAPAN ]

(foto: henri daros)

Bunga Sakura adalah magnet Musim Semi di Jepang. Bukan satu-satunya memang, tapi tetap merupakan jenis bunga unik yang paling kuat daya tariknya. Masih tetap sebagai primadona.

Ada sekian banyak tempat khusus di mana orang bisa ber-‘hanami’, menikmati keindahan bunga Sakura sampai sepuas-puasnya, siang atau malam. Apakah itu berupa taman-taman, atau kawasan hutan yang dikhususkan, yang seperti biasa ditata indah, nyaman dan menyenangkan, tanpa kehilangan keasliannya yang alami.

(foto: henri daros)

Namun, mengira bahwa keindahan bunga Sakura hanya bisa dinikmati sepenuhnya di taman-taman dan kawasan khusus, tidaklah benar seluruhnya, meski benar adanya bahwa beda tempat beda pula pesonanya.

Justru karena itulah, pesona bunga Sakura di kawasan kampus pantas pula dinikmati. Keindahan yang tak perlu dicari jauh-jauh, yang tak perlu makan biaya, yang dengan nyaman dapat ditatap dari ruang-ruang kuliah, yang tersembul dari balik jendela ruang kerja, yang menampakkan dirinya tak kalah polos dan sempurna.

(foto: henri daros)

Itulah yang dinikmati sepenuhnya kali ini. Aroma Musim Semi 2011 di Kampus Nanzan, Nagoya. Aroma sebuah musim yang dengan sengaja dan secara khusus dinikmati pada suatu senja, hingga mentari perlahan hilang di balik pegunungan di kejauhan.

Kesempatan yang sengaja diambil sebelum kembang-kembang putih dan merah muda itu berguguran, dan sebelum waktu akan segera habis dipagut sepenuhnya oleh jadwal yang tak bisa ditinggalkan.

(foto: henri daros)

Ketika tiba saatnya, ketika datang musimnya, bunga Sakura seakan tak pilih-pilih tempat untuk bisa menghibur, menggembirakan dan membahagiakan manusia. Di hutan, di taman-taman, di pelataran kuil dan kastil, gereja dan wihara, di antara beton-beton kota, di kampus-kampus, di sepanjang tepi sungai …. di mana saja.

Polos, apa adanya, segar, memikat, mengaduk-aduk rasa setiap orang yang memandangnya … sebelum akhirnya berguguran, pergi dengan janji tak terucap untuk kembali setahun lagi.

Nah, saatnya menikmati.

(foto: henri daros)

Namun, ketika warga di kawasan bencana masih saja belum bisa menikmati kembali kehidupan mereka yang tenang seperti biasa, segenap penduduk Negeri Sakura ini sadar dan tahu benar apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Maka, tanpa mengurangi dan menghalangi siapa pun untuk tetap menikmati keindahan anugerah alam yang sangat khas Negeri Matahari Terbit ini, hingga dijuluki pula Negeri Sakura, secara spontan suatu kesepakatan umum pun diambil, dan secara sukarela dilaksanakan.

(foto: henri daros)

Festival-festival besar yang secara rutin setiap tahun meramaikan Musim Semi, tahun ini dibatalkan. Orang boleh saja tetap ber-‘hanami’ ria, siang atau malam, namun tanpa gaya pesta-pora. Pendeknya, bersikap menahan diri (jishuku).

Biaya istimewa yang biasa dikeluarkan untuk ‘o-hanami’ pun akan disalurkan sebagai bantuan. Bahkan, guna mengiringi seruan ‘kampai’, orang dianjurkan untuk membeli ‘sake’ buatan Tohoku, wilayah yang paling parah terkena bencana. Dengan demikian, roda ekonomi dibantu untuk terus berputar.

Taman-taman dan ‘hutan’ Sakura yang biasanya disinari khusus di malam hari, akan dikurangi pencahayaannya. Ada yang bilang bahwa Jepang saat ini memang harus hemat energi, namun sikap bela rasa, empati dan solidaritas dengan sesama di tempat-tempat bencana, itulah sikap batin utama.

(foto: henri daros)

Maka, menghirup aroma Musim Semi di kampus kali ini sungguh merupakan ‘kemewahan’, atau bisa disebut juga ‘keberuntungan’. Seluruh suasana langsung menunjang apa yang menjadi sikap batin yang tengah dihayati sebagai wujud solidaritas dan empati dari seluruh warga Negeri Sakura.

Gelombang mekarnya bunga Sakura seperti biasa datang dari selatan menuju ke utara. Dengan demikian akan segera tiba pula waktunya Sakura bermekaran di kawasan bencana. Entah bagaimana jadinya!  Di atas kawasan yang sudah berubah wajah, pasti tak persis sama seperti dulu lagi.

(foto: henri daros)

Namun, dasar bunga Sakura tak pilih-pilih tempat, asal tiba musimya, dan bahwa kembang indah itu akan tetap tampil seperti apa adanya, karena wujudnya tak akan berubah begitu saja entah oleh gempa entah oleh tsunami bahkan radiasi, saya yakin warga di kawasan bencana akan bisa menikmatinya, bahkan menikmatinya hingga ke lubuk hati.

Itulah yang sempat terbayang ketika menikmati bunga Musim Semi di kampus kali ini. Dan betapa bahagia rasanya, membayangkan para orang tua dan kaum lanjut usia di tempat bencana boleh sejenak menikmati Sakura. Atau anak-anak di tempat penampungan boleh memetiknya sekuntum dua sambil berceloteh ceria. Atau warga yang cedera boleh tersenyum gembira menatapnya ….. karena Sakura adalah bunga kesayangan Jepang, ya, bunga indah kesayangan mereka juga.

(foto: henri daros)

Saat senja turun, ketika memeriksa kembali gambar-gambar musim semi ini, saya yakin sepenuhnya di lubuk hati terdalam, bahwa cahaya keindahan klasik bunga Sakura pasti akan menggugah semangat hidup saudara-saudara di tempat bencana.

Selamat datang Musim Semi! Betapa bermakna kedatanganmu kali ini, dan karena itu betapa indah kehadiranmu!

Bersemilah kembali semua yang telah gugur berjatuhan di negeri ini, akibat peristiwa alam yang dahsyat itu. Ya, kupanjatkan dengan rendah hati dalam doa kepada Sang Pencipta Semesta Alam dan Perancang Segala Musim. Berkenanlah agar semuanya bersemi kembali, dalam citra dan rupa yang telah Kau-rancang sempurna sedari awal … dan dalam keindahan abadi. Amin.

henri daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: