‘KODOMO-NO-HI’, PUNCAK ‘GOLDEN WEEK’

[ Children’s Day, The Crown of Golden Week ]

Bukan kata siapa-siapa, bukan juga kata mutiara, tapi kata saya. ‘Kodomo no Hi’, Hari Anak-Anak, adalah puncak pekan liburan ‘Oogon Shuukan’ di Jepang, yang lebih populer disebut ‘Golden Week’ itu.

Tentang hari-hari libur ‘Golden Week’ sendiri tak perlu saya ulangi di sini karena sudah sangat jelas dan rinci tercantum pada ‘Kalender Hari-Hari Libur Jepang’, catatan pertama dan paling awal untuk bulan Januari tahun 2011 ini, atau dapat dibaca pada sebuah catatan singkat untuk bulan April tahun 2010, semuanya dalam blog ini.

Hari Anak-Anak adalah ‘puncak’-nya atau, untuk lebih tepat mengungkapkan apa yang ada dalam batin dan perasaan saya, merupakan ‘mahkota’-nya. Apakah karena Hari Anak-Anak (selalu) jatuh pada tanggal 5 Mei, hari terakhir pekan liburan Golden Week? Dan ketika itu arus balik wisatawan Jepang baik domestik maupun dari mancanegara memang mencapai puncaknya juga?

Anak-anak berbusana khusus pada festival 'Kodomo no Hi'

Golden Week memang biasanya dimulai pada tanggal 29 April dan berakhir pada tanggal 5 Mei. Satu tanggal di antaranya, persis di tengah-tengah pekan liburan itu, bukan merupakan hari libur, yaitu tanggal 2 Mei. Benar-benar kejepit, kata orang kita. Tapi orang-orang pada setia masuk kerja, tak merasa terjepit tampaknya.

Liburan Golden Week, tak dapat disangkal, merupakan salah satu pekan liburan paling ramai, sibuk dan penuh sesak di Jepang, selain pekan liburan ‘Tahun Baru’ dan pekan liburan ‘Hachigatsu Bon’ pada pertengahan bulan Agustus. Jumlah warga Jepang yang berwisata, baik dalam negeri maupun ke luar negeri, luar biasa meningkat pada ketiga pekan ini. Namun, dari segi cuaca, Golden Week adalah pekan liburan paling nyaman karena jatuh pada Musim Semi.

Apakah cuaca nyaman Musim Semi adalah salah satu faktor yang ikut merajut predikat ‘mahkota’ tersebut? Apalagi pada saat bunga Sakura bermekaran? Hmmm, boleh jadi juga, tapi jelas bukan faktor utama, meskipun tidak bisa dianggap sepele, karena memang Musim Semi dengan primadona Sakura-nya merupakan salah satu musim yang paling ditunggu-tunggu.

Saya mulai saja dengan salah satu faktornya yang amat kasatmata. Selama sepuluh tahun lebih menjadi penghuni Negeri Matahari Terbit ini saya menyaksikan bahwa masing-masing hari libur yang merangkai Golden Week dilalui dan diperingati tanpa tanda atau simbol khusus, kecuali Hari Anak-Anak. Lihat saja ‘Koinobori’ yang berkibaran di mana-mana.

Ya, ‘Koinobori’. Untuk apa lagi kalau bukan untuk menyambut ‘Kodomo no Hi’.

'Koinobori'

‘Kodomo no Hi’, Hari Anak-Anak, berasal dan bermula dari tradisi tua ‘Tango no Sekku’, yaitu Hari Festival Anak Laki-Laki. Seakan berimbang, ada pula Hari Festival Anak Perempuan yaitu ‘Hina-Matsuri’, yang disebut juga ‘Momo no Sekku’, pada tanggal 3 Maret. Ada perbedaan sejak awal, yakni bahwa ‘Tango no Sekku’ merupakan hari libur umum, sedangkan ‘Momo no Sekku’ tidak.

Pajangan boneka beraneka warna menandai kedua hari festival ini. Pada hari ‘Tango no Sekku’ untuk anak laki-laki ditampilkan boneka-boneka pendekar, prajurit dan pahlawan, sedangkan pada hari ‘Momo no Sekku’ untuk anak perempuan tampil boneka-boneka ratu, dayang-dayang dan para seniman musik, semuanya dalam busana tradisional. Boneka-boneka ini biasanya diletakkan di tempat-tempat pajangan khusus hari festival dengan alas karpet merah.

Sehabis Perang Dunia II ‘Kodomo no Hi’ ditetapkan sebagai hari festival untuk merayakan sekaligus menggugah kesadaran akan pentingnya pertumbuhan dan kesehatan semua anak dalam keluarga, baik laki-laki maupun perempuan.

Dapat dimengerti, Jepang mau merawat spirit hidup bangsanya dengan pelbagai cara, termasuk melalui keluarga, pilar utama masyarakat.

Seorang ayah bermain dengan anak-anaknya pada kesempatan 'Kodomo no Hi'

Perayaan  ‘Kodomo no Hi’ sebagai Hari Anak-Anak, baik laki-laki maupun perempuan, pada kenyataannya memang masih dan lebih menampilkan pelbagai simbol dari ‘Tango no Sekku’, festival Hari Anak Laki-laki, dan salah satunya ialah ‘koi’, yaitu ‘ikan gurame’.

Namun, bagaimanapun juga, spirit utama ‘Kodomo no Hi’ tidak lagi membeda-bedakan jenis kelamin, sebagaimana ketika ‘Tango no Sekku’ dan ‘Momo no Sekku’ dirayakan secara terpisah.

Karena itu juga, simbol ‘koi’ yang terwujud dalam ‘koinobori’, yaitu panji, pita atau boneka berbentuk ikan gurame tidak lagi dilihat sebagai simbol untuk anak laki-laki semata.

Bahkan seluruh keluarga terwakili dalam pengibaran ‘Koinobori’, sesuai dengan keadaan keluarga yang mengibarkannya, yaitu ayah, ibu, anak perempuan dan/atau anak laki-laki.

Menikmati dermaga yang sudah dibersihkan dari puing-puing akibat tsunami di sebuah kota pelabuhan di Prefektur Miyagi pada kesempatan 'Kodomo no Hi'

Kenyataan bahwa ‘Kodomo no Hi’ sesungguhnya merupakan perayaan atau festival keluarga, itulah faktor penting lain yang menyebabkan saya menyebut ‘Kodomo no Hi’ sebagai ‘mahkota’ pekan liburan ‘Oogon Shuukan’ atau Golden Week itu.

Karena merupakan perayaan keluarga, praktis seluruh warga masyarakat terlibat dan ikut merayakannya, bahkan keluarga-keluarga yang tidak memiliki anak sekalipun. Bagaimanapun juga, selain ayah dan ibu sang anak, setiap orang masih terikat satu sama lain secara kekeluargaan. Misalnya saja, kakek dan nenek dengan cucunya, paman dan bibi dengan keponakannya, saudara dan saudari dengan sepupunya, dan seterusnya. Perayaan keluarga, perayaan kehidupan.

Tengoklah saja tempat-tempat umum pada kesempatan ‘Kodomo no Hi’. Apakah itu tempat-tempat wisata dan tempat hiburan anak, apakah itu tempat istirahat atau tempat bersantai yang sengaja disiapkan, toko mainan atau restoran, ataukah tempat-tempat sakral seperti kuil-kuil, dan tentu saja, jangan dilewati, pelbagai sarana transportasi umum seperti bus dan subway.

Di mana-mana ada anak-anak, dan setidaknya satu dari beberapa anggota keluarga dan kerabat yang disebutkan di atas akan terlihat bersama sang anak.

Jarang sekali kita menjumpai anak-anak, apalagi bayi, di banyak tempat berbeda selama sehari, khususnya buat saya yang saban hari memang lebih banyak bergerak hanya antara tempat kediaman dan kampus.

Maka, tak pelak lagi, inilah satu dari beberapa kesempatan paling tampan dalam setahun yang layak dimanfaatkan. Secara terbuka sekali terlihat dan terasa betapa warga dan masyarakat Jepang sangat ramah dan sangat peduli anak. 

Keceriaan 'Kodomo no Hi' pun dimahkotai oleh senyum dan tawa mereka

Namun, bicara tentang ‘Kodomo no Hi’ tahun 2011 ini, tak patut rasanya untuk melewatkan begitu saja anak-anak di wilayah Tohoku, kawasan bencana.

Bagi warga setempat bayangan tentang malapetaka itu belum benar-benar pergi, karena memang belum lama terjadi, baru lebih dari sebulan yang lalu.

Maka dapatlah dimengerti bahwa trauma pasca-bencana pun masih membayangi sejumlah anak. Pendampingan serta perawatan khusus buat mereka masih tetap berlangsung.

Banyak anak masih harus tinggal di tempat-tempat pengungsian dan pusat-pusat penampungan bersama orangtua dan anggota keluarga mereka yang lain, atau di panti asuhan jika memang orangtua dan anggota keluarga sudah tiada.

Ada yang sudah kembali mendiami rumah yang umumnya sudah separuh rusak dan karena itu masih harus diperbaiki. Dengan demikian anak-anak pun belum dapat menikmati kenyamanan dan kegembiraan bermain sebagaimana sebelumnya.

Ketidaknyamanan itu agaknya semakin terasa di kalangan warga atau keluarga-keluarga yang wilayah dan tempat tinggalnya sesungguhnya tidak terkena dampak gempa dan tsunami, tetapi harus mengungsi karena kebocoran fasilitas listrik tenaga nuklir Fukushima Dai-ichi.

Apalagi jika keberadaan mereka di penampungan yang sekarang adalah akibat terkena ketentuan ‘no-go-zone’, setelah sebelumnya diharuskan berada dalam radius ‘stay-indoors zone’. Setelah jadi ‘tahanan rumah’ sendiri, harus pindah lagi ke ‘tahanan umum’.

Anak-anak di tempat pengungsian, bermain mengisi waktu

Sementara itu, dapat dibayangkan betapa sedih hati para orangtua dan anggota keluarga yang telah kehilangan anak-anak kesayangan, mutiara hidup keluarga mereka, dalam bencana ini.  ‘Kodomo no Hi’ kali ini tentu saja sangat berbeda suasananya buat mereka.

Banyaknya kelompok-kelompok relawan yang berkunjung untuk menghibur anak-anak pada hari-hari selama Golden Week, khususnya pada hari ‘Kodomo-no Hi’, dapat saja tanpa sengaja membuka luka hati mereka. Namun ketabahan dan ketangguhan yang telah diperlihatkan selama lebih dari sebulan setelah bencana kiranya dapat mengatasi hal itu juga.

Para relawan yang berkunjung pun tentu sangat menyadari suasana batin seperti itu, saya yakin, dan mereka tahu benar bagaimana memainkan peran mereka untuk menghibur, mungkin tidak semata-mata buat anak-anak tetapi juga buat orang dewasa. Hiburan yang segar dan polos akan memancing senyum siapa saja, dan mampu menggembirakan orang dari segala usia.

Badut-badut berkeliling menyapa dan menghibur anak-anak di tempat-tempat penampungan

Namun, berbicara tentang anak-anak dalam konteks Golden Week, khususnya berkaitan dengan ‘Kodomo no Hi’, agaknya tidak sekadar sebagai subyek siraman kasih-sayang dan perhatian. Mereka pun bisa sangat penuh kasih dan perhatian.

Secara tak sengaja saya menemukan kisah bagaimana anak-anak pun ternyata sadar akan adanya situasi khusus, dalam hal ini keadaan luar biasa akibat bencana, dan lalu merasa harus juga berbuat sesuatu.

Sejak terjadinya bencana, seorang gadis cilik berusia 5 tahun sudah beberapa kali menyaksikan ibunya pergi untuk bekerja di tempat pengungsian dan penampungan para korban. Ketika Golden Week tiba, dia menegaskan bahwa dia mau ikut bekerja. Sadar bahwa memang tak ada tugas yang bisa dilaksanakan oleh anak-anak seumur itu, sang ibu bersedia mengabulkan si putri kecil ikut. Golden Week adalah saat liburan, maka tak ada salahnya si putri ikut berkunjung melihat-lihat tempat baru.

Tak disangka, si gadis kecil menemukan sendiri apa yang bisa dilakukannya, yaitu menghidangkan makanan buat orang-orang lanjut usia di tempat penampungan. Sambil menebar senyum polos nan cerah, dia berkeliling membawa talam berisi makanan untuk para lansia, yang semula kaget namun berubah gembira dan terharu dilayani oleh sang relawan cilik.

Saya yakin sekali ada banyak kisah tak terekam tentang aksi spontan anak-anak sebagai wujud kesadaran polos mereka tentang bencana yang telah terjadi, dan karena itu ikut berbuat sesuatu sesuai dengan kemampuannya, oleh dorongan kata hatinya.

Oyomi, gadis cilik 5 tahun membantu menghidangkan makanan di tempat pengungsian

Jepang, yang setelah Perang Dunia II, khususnya setelah ‘Peristiwa Hiroshima-Nagasaki’, menyuntikkan kembali semangat hidup kepada warga dan masyarakatnya antara lain melalui ‘Kodomo no Hi’, belum sempat terpantau apakah juga melakukan hal yang sama setelah ‘Malapetaka Gempa-Tsunami Tohoku’.

Namun, satu hal sudah cukup jelas, spirit yang kembali dihidupkan dan dihidupi sejak setelah Perang Dunia II telah terbukti ampuh, tangguh dan tahan menghadapi Malapetaka Gempa-Tsunami Tohoku.

Boleh jadi saya khilaf, namun spirit ‘Koinobori’ adalah sesungguhnya jelmaan ‘Etos Bushido dan Spirit Samurai’ yang sejak dini sudah ditanamkan dalam diri anak-anak Jepang, dari generasi ke generasi, yang saban tahun secara amat khusus selalu dibangkitkan dan disegarkan pada kesempatan festival ‘Kodomo no Hi’.

Bagi anak-anak, sebuah perayaan atau festival yang setiap tahun dikhususkan buat mereka, tanpa acara basa-basi yang sering malah didominasi oleh orang dewasa, menjadi ajang pendidikan paling ‘pedagogis’, dan lebih dari itu membuat mereka perlahan-lahan sadar betapa dirinya begitu berarti.

Merasa diri berarti namun jauh dari kemanjaan dan rasa puas diri, karena memang dikobarkan oleh spirit seperti yang dikibarkan oleh ‘Koinobori’. Tidak pasif tetapi aktif. Tidak menyerah di tengah jalan tapi terus maju ke tujuan. Tidak hanya bersyukur menerima tetapi juga rela memberi.

Menyerap pesan dan spirit 'Koinobori' pada festival 'Kodomo no Hi'

‘Koinobori’ masih terus berkibaran, dan berkibaran di mana-mana, seakan tak rela berpisah dari semua orang yang dengan setia diwakilinya pada setiap festival ini.

‘Koi’ atau ikan gurame besar berwarna ‘hitam-putih’ – bapak keluarga, dan ‘merah-putih’ – ibu keluarga. Sedangkan ‘koi’ kecil ‘biru-putih’ – anak lelaki dan ‘pink-putih’ – anak perempuan.

Tapi, lebih dari itu, ‘Koinobori’ masih terus berkibaran untuk mengingatkan anak-anak tentang spirit pantang mundur dan semangat tak kenal menyerah menghadapi tantangan kehidupan.
 
Seperti ikan gurame yang memang suka berenang melawan arus, bahkan sering berenang menanjak di mana air justru mengalir turun.
 
Anak, atau anak-anak itu, tidak sendirian, karena ayah dan ibu bersama mereka.

'Koinobori'

‘Koinobori’ pun, pada hemat saya, perlu terus berkibar, setidaknya sebagai ‘yearly warning system’ terhadap gelagat lunturnya etos dan spirit juang itu di kalangan remaja dan anak muda, sebagaimana sering diperbincangkan saat ini.
 
Dapat dimengerti karena tidak semua bisa bertahan terhadap ‘godaan’ pelbagai kemudahan dan gaya hidup serba ada yang menandai keseharian mereka sejak masa kanak-kanak. Hal yang lumrah terjadi. Namun terasa bahwa penularannya pun sebaiknya dicegah.
 
Di pihak lain, gempa-tsunami Tohoku yang dahsyat, dan dampaknya yang masih terlihat dan terasa, konon cukup menyentak kawula muda Jepang dari kenyamanan dan kemapanan hidup mereka. Beraneka reaksi bermunculan dari kalangan mereka, dan tersembul optimisme karena ternyata ada banyak reaksi yang muncul dari kedalaman dan kematangan sikap.
 
Tidak berlebihan untuk menilai bahwa sangat boleh jadi kematangan dan kemampuan untuk memberikan reaksi positif merupakan juga hasil proses peresapan nilai kearifan selama bertahun-tahun, yang setiap tahun disegarkan pada momentum ‘Kodomo no Hi’, oleh kibaran dan kobaran spirit ‘Koinobori’.
 
Dampak kibaran dan kobaran spirit ‘Koinobori’ mengendap jauh ke dalam diri anak-anak, tidak lain, karena keluarga dan masyarakat tekun dan setia merawatnya. 
 
Sudah barang tentu tak hanya pada kesempatan ‘Kodomo no Hi’, tetapi juga melalui sekian banyak ekspresi etika berperilaku, budi pekerti, adat-istiadat dan pernak-pernik budaya yang begitu terpelihara di kalangan masyarakat Jepang.
 
Anak-anak lantas merasakan dirinya berarti berkat kasih dan perhatian orang lain, dan pada waktunya mereka pun ingin membuktikan dirinya sungguh berarti dengan membagi kasih dan perhatian mereka bagi orang lain juga.
 
Sebagaimana selalu, kudoakan anak-anak secara khusus, dan secara lebih khusus lagi pada hari ini. Anak-anak di mana pun saja. Tuhan memberkati mereka semua.
 
Nagoya, Kodomo no Hi
(Hari Anak-Anak)
5 Mei 2011
 
henri daros
 
 
 
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: