TAKHTA BUNGA SERUNI, TAKHTA UNTUK RAKYAT

[ Chrysanthemum Throne, A Throne for the People ]

Sangat jarang menjadi bahan perbincangan, apalagi pergunjingan, dan selama keadaan normal seakan tidak dipedulikan oleh warga negeri yang masing-masing hidup nyaman serba berkecukupan itu, tak pelak lagi justru menjadi tumpuan peneguhan batin serta sumber kekuatan dan hiburan tiada tara pada saat-saat bumi seakan kiamat, dan ketika segala kenyamanan itu hanya tinggal reruntuhan.

Itulah sosok Kaisar Akihito dan Permaisuri Michiko di Jepang saat-saat ini. Dua bulan setelah bencana, yaitu sejak 11 Maret hingga pertengahan bulan Mei ini, ternyata sudah lima kali pasangan kekaisaran ini mengunjungi Wilayah Tohoku, kawasan bencana.

Lima menit menyapa dan meneguhkan seluruh bangsa melalui radio dan televisi pada saat awal malapetaka, kini sudah digenapi dengan lima kali kunjungan langsung ke medan bencana yang porak-poranda.

Melalui perencanaan yang cermat, dan itu bukan karena kerumitan protokoler atau pertimbangan keamanan pribadi kaisar, tapi agar jangan sampai mengganggu pekerjaan ‘search and rescue’, urusan pengungsian, penampungan dan pembersihan, bahkan agar tidak mengganggu istirahat para pengungsi yang dalam kondisi tertekan lahir-batin, lima kali kunjungan ini tampaknya sudah mencakup hampir seluruh kawasan bencana. Tidak dilewatkan juga tempat-tempat pengungsian di Tokyo sendiri.

Bukan hanya warga di kawasan bencana, warga Jepang seluruhnya pun tertegun. Pelbagai tanggapan dunia internasional bermunculan.

Pasangan kekaisaran yang sudah lanjut usia ini, semua tahu, tidak dalam keadaan kesehatan yang baik. Bahkan seharusnya tidak boleh bepergian jauh, termasuk keluar dari istana untuk sementara.

Dengan penampilan sederhana dan sikap lembut, senantiasa tersenyum penuh perhatian dan empati, selalu duduk bersimpuh bersama para pengungsi di tempat-tempat penampungan, bercakap-cakap dari hati ke hati tanpa basa-basi, kunjungan pasangan kekaisaran ini tidak hanya membelai dan menyejukkan, tapi sungguh meneguhkan dan mengobarkan semangat hidup.

Media telah lebih dari cukup mengutip ungkapan reaksi para pengungsi yang padat dengan perasaan haru dan gembira, yang melahirkan tekad baru untuk memandang secara positif derita yang sedang dialami dan optimis membangun kembali masa depan.

Warga yang terpaksa harus menghadapi tiga lapis bencana yaitu ‘gempa-tsunami-radiasi’ ini boleh dan patut ‘berbangga’ karena tidak hanya punya pemerintah yang sangat peduli dan bekerja keras demi mereka, tapi juga punya ‘bapak dan ibu bangsa’, ya saya menyebutnya saja ‘ayah dan bunda’ buat semua, yang sungguh penuh kasih dan perhatian tepat pada saat-saat puncak penderitaan mereka.

Begitu banyak orang tertegun. Saya juga. Dan saya ingin sekali berbagi dengan Anda.

Beberapa dari sejumlah gambar yang saya terima lewat sebuah media berita Jepang, yang selama ini secara teratur masuk ke kotak surat elektronik saya, dengan senang hati saya bagikan pula buat Anda di halaman ini.

Gambar-gambar tersebut tentu saja lebih sempurna mengungkap peristiwa  jika dibandingkan dengan kata-kata saya yang terbatas.

Namun, buat saya saat ini satu hal tak dapat lagi disangkal. Kaisar dan Permaisuri telah menunjukkan bahwa Takhta Bunga Seruni itu adalah sesungguhnya takhta untuk rakyat.

henri daros

Bunga Seruni, Chrysanthemum, atau 'Kiku' dalam bahasa Jepang, adalah Lambang Kekaisaran

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: