TERKENANG JAKARTA, SABTU, 27 JULI 1996

TERKENANG JAKARTA, SABTU, 27 JULI 1996

[ HARI ITU, 15 TAHUN YANG LALU ]

Belakangan peristiwa itu disebut ‘Kudatuli’, akronim dari ‘Kerusuhan 27 Juli’. Disebut juga ‘Sabtu Kelabu’, merujuk pada hari terjadinya kerusuhan, yaitu hari Sabtu, ketika Jakarta, sang Ibu Kota, di sana-sini dilanda asap tebal nan kelabu, bahkan hitam kelam. Akibatnya, sebagaimana diketahui, mendadak kelabu pula ajang perpolitikan Indonesia.

Sudah 15 tahun lewat. Terkenang kembali bahwa saat itu saya pun ada di sana, meski kenangan itu kini hanya samar-samar saja. Mungkin lantaran secara tak terduga terlempar ke sana, ke dalam suatu peristiwa kelabu, yang tak pernah diantisipasi sedikit pun pada hari itu. Maka momen-momennya tak cukup kuat terpatri di hati, apalagi di saat bingung mereka-reka peristiwa.

Barulah dipahami sepenuhnya, dan dilihat seutuhnya, setelah merajut helai-helai peristiwa lepas dan menyusun kepingan-kepingan tercecer, dan lantas menyadari kembali bahwa saya pun atas satu dan lain cara telah menjadi bagiannya juga.

Monumen Nasional tampak siang hari dari arah Terminal Bus Gambir Jakarta

Pada Mulanya Adalah Demokrasi

Sekitar seminggu sebelumnya saya sudah berada di Jakarta. Sebuah perjalanan rutin ke ibu kota, dari Ende, sebuah kota kecil tapi bersejarah di Pulau Flores. Kali ini dengan tujuan untuk ambil bagian dalam suatu lokakarya yang berkaitan dengan bidang tugas saya, yaitu penerbitan dan media cetak. Lokakarya tersebut berlangsung di kawasan Puncak.

Kali ini saya temukan Jakarta yang sedang ramai. Sebuah keramaian khusus tentu saja, karena Jakarta tokh selalu ramai. Sebuah keramaian khusus yang sudah menjadi santapan rutin para pembaca surat kabar dan pemirsa televisi selama beberapa waktu terakhir.

Maka setiba di Jakarta, di sebuah tempat penginapan di kawasan Matraman, tepatnya di Jalan Matraman Raya, saya pun langsung menuju ke pusat keramaian. Tempat yang pernah saya datangi pada suatu ketika sebelumnya, di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat.

Itu kan kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI)? Pertanyaan yang mungkin akan tercetus dari mulut orang yang pernah tahu baik lokasi tersebut. Benar sekali. Iya, kantor DPP-PDI. Tanpa embel-embel yang sudah populer dan sudah diketahui umum saat ini, yaitu ‘Perjuangan’, sehingga lazim disebut lengkap sebagai DPP PDI-P. Ketika itu ya DPP PDI. Titik.

Di sanalah pusat keramaian khusus tersebut. Seperti yang sudah beredar menjadi cerita umum, di sana, di depan kantor, tampak sebuah panggung. Nah, itulah mimbar tempat orang menggelar orasi perihal demokrasi yang konon sedang sakit di negeri ini. Ya, mimbar demokrasi.

Demokrasi yang sudah tersumbat di hampir semua tempat, dan terpasung di hampir segala panggung. Maka jadilah panggung di Jl. Diponegoro 58 itu sebagai satu-satunya panggung yang masih bebas, dan karena itu mendapat nama populer ”Mimbar Bebas”.

Mengapa justru di sana? Semua tahu, beberapa waktu sebelumnya berlangsung Kongres PDI di Medan. Rekayasa dan pemaksaan kehendak oleh pemerintah berhasil meloloskan Soerjadi sebagai ketua umum. Megawati yang lagi populer, khususnya sejak Kongres PDI di Surabaya, dan terus mendapat dukungan kuat arus bawah, terdepak.

Tampaknya, rakyat yang sudah mulai gembira menikmati fajar demokrasi yang sudah kembali bersinar di Bumi Nusantara melalui geliat PDI, sangat kecewa dengan hasil kongres PDI di Medan. Kecewa karena spirit demokrasi yang sedang kembali tumbuh, keburu layu, karena dikhianati.

Sangat mudah memahami betapa kecewanya para pendukung Megawati Soekarnoputri. Maka orang pun sempat maklum ketika mereka lantas bertindak menguasai kantor DPP PDI di Jl. Diponegoro 58 itu. Soerjadi bersama DPP PDI versi Kongres Medan untuk sementara terpaksa harus berkantor di tempat lain. PDI berhasil dicerai-berai.

Selanjutnya Adalah Perjuangan

Semarak, itulah kesan pertama saat tiba di area Mimbar Bebas. Silih berganti orang angkat bicara di sana. Sudah pernah terdengar nama-nama tokoh terkenal yang tampil, namun saat saya membaur, seseorang yang tidak saya kenal sedang menguasai mikrofon. Karena sejak awal saya hanya mau melihat dan merasakan suasana, saya tidak tertarik menanyakan siapa dia.

Begitu banyaknya orang yang berkumpul di sana, dan begitu banyaknya orang yang datang dan pergi,  tak ayal lagi membuat jalan raya lebar itu tertutup untuk lalu-lintas umum. Warna merah tampak mendominasi. Orasi, seruan yel-yel dan dentingan musik lagu-lagu perjuangan terdengar silih berganti.

Ketika menanyakan keadaan kantor yang terlihat di balik pagar yang penuh berhiaskan panji-panji, seseorang berbaju merah dengan gembira bercerita bahwa banyak kader-kader PDI Jawa Tengah dan Jogja sedang berada di sana untuk mengamankannya, bahkan banyak mahasiswa ikut menginap, sementara kader-kader PDI Jakarta sendiri datang dan pergi bergilir tugas.

Namun, apa yang paling menarik perhatian saya ialah kenyataan bahwa rakyat kebanyakan, tokoh-tokoh dan sejumlah organisasi serta kelompok pro-demokrasi telah merapatkan barisan ‘di belakang’ Megawati Soekarnoputri bersama PDI yang ‘murni’ untuk melawan tirani Orde Baru. Mereka inilah yang telah menjadi kelompok inti di seputar Mimbar Bebas itu.

Perjuangan memang telah dicanangkan. Perjuangan untuk melawan rezim diktator, gurita Orde Baru yang mencengkeram ke mana-mana dan di mana-mana. Perlawanan melalui ekspresi ide-ide secara terbuka tanpa tedeng aling-aling tampak bersekutu dengan unjuk kekuatan nyata, secara fisik, juga secara terbuka, ya ‘people power’, tanpa rasa takut sedikit pun, terhadap apa pun.

Megawati Soekarnoputri sedang menjadi figur simbolik tunggal dari perlawanan dan perjuangan ketika itu, dan Mimbar Bebas tengah menjadi media alternatif untuk menyalurkan gugatan-gugatan rakyat dan sekaligus menyuarakan tuntutan perubahan dan perombakan.

Naik-Naik Ke Puncak, Terbawa Kesan dan Kenangan

Tak berlama-lama di Jakarta, karena Puncak adalah tempat tujuan utama. Namun apa yang tengah terjadi di pusat kota Jakarta itu tak urung menggali kembali sejumlah kesan dan kenangan.

Baiklah diutarakan di sini kesan yang sempat muncul setelah menghirup suasana di sana, sebelum terlupa. Soalnya, setelah tepekur di malam hari, bobot peristiwa menjadi lebih kentara. Semarak, tapi maaf beribu maaf, itu bukanlah sebuah panggung hiburan, dan terang-benderang ke mana arah bidikannya. Lalu, bagaimana?

Pertama, Mimbar Bebas yang tengah digelar langsung di pusat kekuasaan, di depan hidung rezim tirani, tepat di depan mata kekuatan militer sebagai mesinnya, dan hanya sepelempar batu dari pos keamanan, tentu tidak luput dari pengamatan dekat dan ketat. Tentu saja, karena merekalah pihak yang dibidik.  Tapi, sejauh ini, kesannya tenang-tenang saja. Mimbar Bebas pun sepertinya tetap dibiarkan bebas.

Kedua, atmosfer di pihak lainnya, yaitu di area Mimbar Bebas dengan kekuatan pro-demokrasi dan anti-tirani di baliknya, terasa begitu enteng dan santai. Pelbagai orasi penting yg sempat direkam dari pelbagai cerita, dengan artikulasinya yang lantang serta substansinya yang tajam serta sarat pesan perubahan dan perombakan, belum lagi spirit militansi yang diperlihatkan oleh para pendukung dan masyarakat arus bawah, tokh akhirnya larut dalam wujud ekspresi yang bersahabat dan damai.

Ketiga, sebagai rangkuman spontan dari kedua kesan tersebut di atas, tak pernah terbayangkan akan terjadi kekerasan dalam bentuk apa pun, selain pencarian jalan keluar terbaik secara damai dan dalam semangat saling pengertian.

Maka, ringan-ringan saja, tanpa beban, menuju Puncak, kecuali sejumlah kenangan yang terbawa, ikhwal dua figur penting di balik peristiwa.

Monumen Nasional Jakarta pada waktu malam

*********************

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: