SHICHI-GO-SAN MATSURI, TANGGAL 15 NOVEMBER, FESTIVAL ANAK USIA 7-5-3

[ Shichi-Go-San Matsuri / Seven-Five-Three Festival ]

shichi-go-san, seven-five-three, tujuh-lima-tiga

Bermula dari keprihatinan. Pada suatu ketika dahulu, konon timbul kecemasan umum di kalangan para orang tua di wilayah pedesaan Jepang soal banyaknya anak-anak yang meninggal dunia pada usia yang terlampau dini.

Muncul suatu tekad dan upaya bersama untuk melindungi anak-anak dari segala macam bahaya, atas cara apapun. Tumbuh suatu kesadaran baru akan tanggung jawab yang lebih besar sebagai orang tua.

Perasaan cemas yang diikuti oleh upaya bersama  di kalangan masyarakat umum ini ditanggapi oleh kalangan penguasa dan golongan samurai yang kemudian menciptakan suatu momentum khusus untuk mengingatkan perlunya perhatian istimewa terhadap anak-anak, dan menjadikan momentum itu sebagai ritual keluarga dan ritual umum masyarakat.

Maka lahirlah tradisi budaya dan keagamaan khas Jepang sebagaimana yang bisa disaksikan saat ini. Ungkapan kasih-sayang kepada anak lantas dikokohkan … dan dikukuhkan.

Konon sejak Periode Edo atau Periode Tokugawa tahun 1600-an, yang berlanjut ke Periode Meiji sejak 1800-an, hingga saat ini, tradisi ini tidak banyak berubah. Dan, tentu saja, anak-anak tetap menjadi pusat perhatian.

Sesungguhnya ada beberapa tradisi perayaan atau festival lainnya lagi yang berpusatkan pada anak-anak, bahkan menjadi hari libur nasional. Ingat KODOMO-NO-HI pada musim semi misalnya.

dalam luapan kegembiraan seorang anak pergi ke kuil bersama ibu dan kakek

Namun festival ‘Shichi-Go-San’ ini sangat khas karena hanya untuk anak perempuan berusia 7 dan 3 tahun, dan anak laki-laki berusia 5 dan 3 tahun. Dari tingkat usia itulah nama festival ini berasal.

Usia 7, 5 dan 3 tahun dipandang sebagai usia rawan, ya rawan penyakit dan rawan aneka bahaya lainnya, dan karena itu anak-anak perlu mendapatkan perhatian khusus, termasuk untuk didoakan perlindungan dan keselamatannya. Ya, angka ganjil, namun konon ada sisi keberuntungannya juga.

Pada hari ini para orang tua atau kakek-nenek menghantarkan anak atau cucu mereka yang berusia sekian, yaitu tujuh, lima atau tiga tahun ke kuil-kuil lokal. Semua anak mengenakan pakaian tradisional anak-anak khas Jepang.

Sehabis menjalankan ritual khusus di sana setiap anak akan memperoleh kado ‘chitose-ame’, atau ‘manisan-seribu-tahun’, yaitu manisan simbol keberuntungan, kesehatan dan umur panjang.

‘Shichi-go-san Matsuri’ bukanlah hari libur nasional seperti festival hari anak-anak lainnya, dan karena itulah kunjungan keluarga ke kuil-kuil lokal sudah berlangsung sejak awal bulan November pada hari-hari akhir pekan.

chitose-ame, manisan simbol keberuntungan, kesehatan dan umur panjang

Kuil Shinto ‘Atsuta Jinggu’ di Nagoya kata orang merupakan kuil yang paling ramai dikunjungi di antara semua kuil di seantero Jepang pada kesempatan ‘Festival Anak Usia 7-5-3’  ini.

Menyaksikan bagaimana anak-anak sendiri memainkan peran aktif sebagai ‘aktor dan aktris festival’ mendorong siapa pun untuk berpikir sejenak dan sampai pada kesimpulan mengapa tradisi ini, bersama makna dan pesannya, terus terwaris dan terawat dengan baik selama berabad-abad.

Apalagi dalam kehangatan kasih orang tua dan keluarga, sebagaimana tampak dan terasa dalam atmosfer perayaannya dewasa ini.

Tetap dinikmati kebahagiaannya, tetap dipetik pula hikmahnya.
Lestari, tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

shichi-go-san, 7-5-3, tujuh-lima-tiga

nagoya, 15 november 2011
henri daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: