BUTIR-BUTIR KEARIFAN TRADISI DI NIPPON, PERNAK-PERNIK BUDAYA BULAN JANUARI

BUTIR-BUTIR KEARIFAN TRADISI DI NIPPON

PERNAK-PERNIK BUDAYA BULAN JANUARI

Kalender tradisional Nippon penuh jadwal peristiwa dengan arti simbolik yang menarik. Bulan Januari ini saja ada paling kurang 3 peristiwa seperti itu. Ambil saja misalnya yang terjadi di sekitar hari-hari ini. Terkandung semacam pesan dini di awal tahun buat segenap warga.

**********

1. NANAKUSA-GAYU

nanakusa-gayu (nanakusa-no-sekku)

Hidangan spesial ‘Nanakusa-gayu’, bubur dari beras yang ditaburi dengan bumbu dari 7 jenis tumbuhan khusus, pada tgl 7 Januari, mengingatkan perlunya menu sehat sepanjang tahun, demi kesehatan dan umur panjang.

Dilakukan secara khusus pada tanggal 7 Januari karena bertepatan dengan festival ‘Jinjitsu-no-Sekku’, yang sejak dulu ditetapkan sebagai hari peringatan dini awal tahun bagi seluruh warga untuk selalu waspada terhadap ‘unsur-unsur jahat’ yang kerap mengintai kehidupan mereka. Namun, menghadapi apa yang dianggap sebagai ‘roh jahat’ tidak harus berupa perlawanan frontal, tapi cukuplah jika pandai-pandai menghindarinya.

Masyarakat Jepang kemudian menerjemahkan kewaspadaan itu antara lain dalam pola hidup sehat, termasuk kebiasaan mengonsumsi makanan sehat, dengan ‘nanakusa-gayu’ ini sebagai simbolnya. Konsumsi makanan sehat dengan sendirinya akan ikut menjamin kebugaran fisik. 

tujuh jenis tumbuhan khusus

Notes: Nanakusa-gayu is rice porridge with seven edible wild herbs of spring: Seri (Japanese parsley), Nazuna (shepherd’s purse), Gogyo (cotton weed), Hakobera (chick weed), Hotokenoza (henbit), Suzuna (turnip) and Suzushiro (Japanese radish).

**********

2. AZUKI-GAYU

azuki-gayu (photo: tamaki nishizawa)

Selain itu, ‘Azuki-gayu’, hidangan bubur yang ditaburi kacang merah, pada tanggal 15 Januari, mengingatkan perlunya kerja keras di lahan pertanian demi panen yang memadai, syukur-syukur bila melimpah, sebelum akhir tahun nanti.

Isyarat dan ajakan untuk bekerja keras sebagai prasyarat, betapa pun kesulitan dan tantangan, itulah yang menjadi pesan dari hidangan khas yang disajikan pada awal tahun ini.

azuki-genmai-gayu-gomashio

**********

3. SEIJIN-NO-HI

‘Seijin-no-Hi’, perayaan usia akilbalig pada hari Senin kedua bulan Januari, yang kali ini jatuh pada tanggal 9 Januari dan merupakan hari libur umum, mengingatkan semua anak muda yang menginjak usia dewasa (yaitu 20 tahun) akan peran dan tanggungjawab penting yang mulai disandangnya. Tak sekadar sudah boleh minum alkohol dan merokok atau punya hak pilih.  

Hari yang dinantikan dengan penuh kegairahan oleh kaum remaja Nippon, seakan tak sabar ingin segera diakui keberadaannya sebagai kelompok warga masyarakat yang tak bisa lagi dipandang enteng.

seijin-no-hi matsuri

Konon ‘Seijin no Hi’ sudah dirayakan sejak tahun 714 Masehi, namun baru pada tahun 1948 ditetapkan sebagai hari libur umum, yakni setiap tanggal 15 Januari. Kemudian disesuaikan dengan ‘Happy Monday System’ , lantas ditetapkanlah hari Senin ke-2 bulan Januari sebagai hari libur umum sebagaimana berlaku hingga sekarang.

Usia 20 tahun (‘hatachi’) adalah patokan untuk bisa terbilang dalam perayaan usia dewasa tersebut, namun secara umum mencakup semua mereka yang merayakan hari ulang tahun ke-20 dalam rentang waktu antara tanggal 2 April tahun terdahulu (2011) dan tanggal 1 April tahun yang berjalan (2012). Pelbagai jenis perayaan (‘seijin-shiki’) menandai seantero Nippon pada kesempatan festival ‘Seijin no Hi’ ini.

seijin-no-hi matsuri

 **********

4. FUDE MATSURI

Satu lagi, ‘Fude Matsuri’, Festival Kuas, antara tanggal 15-17 Januari (meski ada juga wilayah yang melaksanakannya pada bulan September), seperti di Hiroshima misalnya, mengingatkan perlunya mengasah kemampuan akal-budi. Belajar dan belajar lagi. (Nb. Fude adalah nama alat tulis tradisional Jepang, sejenis kuas).

Setiap warga masyarakat yang sudah dianggap dewasa dan memainkan tanggung jawab tertentu seakan didorong untuk secara sungguh-sungguh memegang ‘fude’-nya masing-masing dan menorehkan catatan prestasi yang bermanfaat di kanvas kehidupan.

fude-matsuri (photo: mapple.net)

**********

Peristiwa-peristiwa rutin tahunan yang nampak biasa, namun sarat dengan nilai-nilai kearifan hidup.

Lebih dari itu, pesannya jelas terwujud dalam kehidupan masyarakat dan dihayati secara nyata oleh warganya.

Tradisi yang terbukti telah mampu bertahan berabad. Tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan.

henri daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: