KETIKA MUSIM-MUSIM ITU DATANG DAN PERGI

KETIKA MUSIM-MUSIM ITU DATANG DAN PERGI

[ When The Seasons Come and Go ]

Bermukim di suatu negeri yang punya empat musim sangat kaya dan asyik dengan dinamika, kalau boleh disebut demikian.

Sederhana saja. Ada dinamika suhu udara dan cuaca. Nama musim-musim itu sendiri langsung, atau pun tidak langsung, sudah menunjukkannya. Musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur.

menikmati naungan rimbun sakura di kampus nanzan (foto: henri daros)

Ada pula dinamika berkegiatan para penghuninya. Mudah melakukan apa saja pada musim yang ini, tapi sulit berbuat apa-apa pada musim yang itu. Atau lebih tepat, ada jenis-jenis kegiatan yang cocok untuk musim yang satu, namun tidak cocok untuk musim yang lain.

Jenis kegiatan pun bisa sangat beraneka, baik untuk memanfaatkan kenyamanan yang menjadi kekhasan musim tertentu maupun untuk tidak sampai terpenjara oleh kerasnya kondisi musim yang lain.

Tak kurang, tentu saja, dinamika ikutannya. Dalam hal berpakaian, misalnya. Begitu musim beralih, pakaian pun bersalin.

Jenis makanan pun demikian. Ada makanan yang tidak hanya pas tapi juga populer pada musim tertentu tapi lantas lenyap tak berbekas pada musim lain.

saat sakura merambah kampus (foto: henri daros)

Gaya hidup penduduk negeri bermusim empat tak ayal lagi cukup banyak ditentukan oleh masing-masing musim tersebut. Sebut saja di Jepang tempat saya saat ini bermukim.

Memilih jenis rekreasi dan menentukan waktu serta tempat liburan, misalnya. Contoh yang cukup jelas terlihat, menyingkir dari tempat dan suasana yang untuk sementara kurang menyenangkan, akibat cuaca khususnya, dan berwisata mencari kenyamanan serta kenikmatan di tempat lain.

masih musim semi, saat kampus beralih dari putih sakura ke hijau perkasa (foto: henri daros)

Bagi orang asing yang untuk sementara berdiam di negeri tersebut, khususnya orang asing yang berasal dari negeri dengan hanya dua musim, musim hujan dan musim kemarau misalnya, sering ada ‘beban’ tambahan.

Tak hanya upaya untuk menyesuaikan diri yang mau tak mau harus dilakukan, tapi juga usaha ekstra-keras untuk bisa bertahan dalam proses penyesuaian diri itu. Ibarat ‘survival of the fittest’.

O ya, catatan di atas sesungguhnya tidak terlampau perlu untuk apa yang sebenarnya mau diceritakan. Yaitu, bagaimana saya bisa menyaksikan musim-musim itu datang dan pergi melalui panorama alam yang langsung terbentang di sekitar.

Kalaupun dianggap sebagai pendahuluan, tentu saja terlampau panjang buat cerita kecil di bawah ini, sebuah cerita yang memang diisyaratkan oleh judul besar di atas.

tak tanggung-tanggung, gedung pun menghijau (foto: henri daros)

******

hijau bersemi, merambat ke mana-mana (foto: henri daros)

Hidup dan bekerja di lingkungan yang sangat akrab dengan alam tentu saja sangat membantu untuk menyaksikan suasana pertukaran musim tersebut.

Maka, tak perlu pergi jauh-jauh. Cukup dengan memandang jewat jendela, atau mengarahkan mata ke sekitar ketika datang dan pergi, atau meluangkan waktu sejenak untuk menikmatinya saat berjalan lewat.

Kenyataan itulah yang tiba-tiba saya sadari kembali pada hari-hari terakhir ini. Di kampus Nanzan, di bukit ini. Bukit dari mana kota Nagoya tampak jelas terhampar.

Bukanlah sesuatu yang baru sesungguhnya, karena saya senang dan sudah sering pula merekam pesona keindahan alamnya di setiap musim.

kecil dan indah (foto: henri daros)

Saya katakan tiba-tiba, karena memang tiba-tiba sadar bahwa musim semi hampir berakhir. Kuntum-kuntum Sakura sudah cukup lama gugur menyatu dengan bumi. Untuk menikmatinya harus menanti setahun lagi.

Ya, sadar bahwa musim semi sudah siap mohon diri, pamit dan pergi lagi.

Namun saya pun tiba-tiba sadar, atau lebih tepat disadarkan, bahwa pesona musim semi sesungguhnya tak hanya Sakura. Itulah yang dengan jelas sedang saya saksikan di hari-hari ini, bahkan sudah sejak Sakura menyelinap pergi.

Pesona alam di bukit yang satu ini, di kampus ini, dengan indahnya menyapa dan menyapu pandangan saya. Sekilas merasa bersalah karena lalai balas menyapa.

di musim semi, sakura memang primadona tapi kuntum-kuntum ini pun penuh pesona (foto: henri daros)

Hijau di mana-mana. Menjulang, merambat dan membentang. Bukan hijau sembarang hijau.

Kehijauan yang tak bisa lagi sekadar ‘taken for granted’, yang dianggap biasa dan memang mesti demikian adanya.

Tidak. Ini adalah kehijauan yang agung, yang gagah, yang perkasa, yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Dan, tak hanya hijau, ternyata. Di mana-mana, tanpa perlu menengadahkan kepala seperti ketika kita memandang Sang Hijau, tapi tataplah saja merendah, maka akan tampak kembang-kembang kecil itu.

Begitu manis, entah malaekat sorgawi mana yang menebarkannya.

Si Kecil yang indah!

betapa manisnya … (foto: henri daros)

Ya, musim semi tak lama lagi pergi. Saatnya untuk semakin menikmati karunia alam yang sedang limpah-limpahnya dihadiahkan kepada manusia melalui musim yang satu ini.

Bersiap kembali menanti datangnya musim panas, yang seperti biasa akan didahului oleh hujan gerimis berkepanjangan, berhari-hari. Khas iklim Negeri Matahari Terbit.

Orang Nippon menyebutnya ‘tsuyu’, berbeda dari hujan tropis yang mereka sebut ‘uki’. Udara mulai terasa agak lembab.

Musim-musim itu datang dan pergi. Tinggal menyesuaikan diri dan membuatnya tak hanya asyik tapi punya arti.

Masing-masing bermanfaat, masing-masing kaya makna.

henri daros

pinggiran kampus nan hijau (foto: henri daros)

******

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: