BUNG KARNO 111 TAHUN, PUTRA SANG FAJAR

MEMPERINGATI HARI ULANG TAHUN KE-111 BUNG KARNO

[ 1901 – 6 Juni – 2012 ]

SELAMAT ULANG TAHUN, BUNG !

******

Renungan sunyi di awal hari ini:

”Bung Karno, yang sebagai tahanan, sebelum dibuang ke Ende di pulau Flores, pernah mengucapkan pidato berjudul ‘Indonesia Menggugat’, yang ditujukan terhadap bangsa penjajah, sangat boleh jadi dengan keprihatinan mendalam akan mengucapkan kembali pidato gugatannya, kali ini dengan judul ‘Menggugat Indonesia’, terhadap bangsanya sendiri, tatkala menyaksikan kenyataan Indonesia saat ini” 

(Henri Daros, ”Bung Karno: Di Kota Inilah”, Album dan Catatan, Facebook Wall Story, 16 Agustus 2010)

Selama masa pengasingannya di Ende, sebuah kota kecil di Pulau Flores, pada tahun 1934-1938, Bung Karno selalu duduk merenung di bawah naungan Pohon Sukun ini, tentang butir-butir kearifan sosial-budaya dan keagamaan Nusantara, yang selanjutnya mengkristal menjadi Pancasila (Foto: Henri Daros)

Di suatu pagi Sang Ibu berkata kepada Soekarno kecil:

”Engkau sedang memandangi fajar, nak! Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita, karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing ….. Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kaulupakan, nak, bahwa engkau ini putra dari sang fajar”

(Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)

Rumah tempat tinggal Bung Karno bersama Keluarga selama masa pengasingan di Ende, Flores, tahun 1934-1938 (Foto: Henri Daros)

Tentang wataknya sendiri Bung Karno pernah berkata:

”Hari lahirku ditandai oleh angka serba enam. Tanggal enam bulan enam. Adalah menjadi nasibku yang paling baik untuk dilahirkan dengan bintang Gemini, lambang kekembaran. Dan memang itulah aku sesungguhnya. Dua sifat yang berlawanan. Aku bisa lunak dan bisa cerewet. Aku bisa keras laksana baja dan aku bisa lembut berirama. Pembawaanku adalah perpaduan daripada pikiran sehat dan getaran perasaan”

(Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)

Prasasti bertuliskan kata-kata Bung Karno sendiri yang saat ini terpahat pada monumen Bung Karno di Ende, Flores (Foto: Henri Daros)

Tentang jalan hidupnya setelah selesai studi di perguruan tinggi Bung Karno berkata:

”Janjiku sudah kupenuhi. Pendidikan sudah selesai. Mulai saat ini untuk seterusnya tidak ada yang akan menghalang-halangiku menjalankan pekerjaan untuknya aku dilahirkan”

(Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)

Kamar tidur Bung Karno di rumah kediamannya di Ende, Flores (Foto: Henri Daros)

******

Pesan Presiden Sekolah Teknik Tinggi di Bandung kepada Soekarno, setelah Soekarno mendapat ijazah dan gelar ‘Insinyur’ dari sekolah tersebut:

”Ir. Soekarno, ijazah ini dapat robek dan hancur menjadi abu suatu saat. Ia tidak kekal. Ingatlah bahwa satu-satunya kekuatan yang bisa hidup terus dan kekal adalah karakter seseorang. Ia akan tetap hidup dalam hati rakyat, sekalipun sesudah mati”.

(Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia)

Ruang kerja, ruang baca …. terletak di samping kamar tidur, di rumah tempat kediaman Bung Karno, Ende, Flores (Foto: Henri Daros)

Kesaksian para pastor tua (yang kini sudah tiada) di Ende, Flores:

Merupakan kebiasaan Bung Karno selama di Ende, ketika berbincang-bincang sambil jalan-jalan bersama pastor Katolik, yang biasa disapa ‘pater’,  bahwa dia selalu mengambil tempat di sisi sebelah kiri sebagai isyarat hormat.

Namun, pada suatu ketika, Pater Huijtink SVD, salah seorang pastor, asal Belanda, langsung lebih dulu mengambil tempat di sebelah kiri. Bung Karno protes, ‘Pater harus sebelah kanan!’. Pater Huijtink langsung menukas, spontan tapi dengan nada menyakinkan, dan dalam kalimat meramal: ‘Soekarno, presiden Indonesia, harus sebelah kanan!’.

(Diceritakan kembali dalam: Tim Nusa Indah, BUNG KARNO DAN PANCASILA, Ilham dari Flores untuk Nusantara)

Di depan Gereja Katedral Ende inilah Bung Karno muda dulu selalu lewat, entah ketika pergi ke perpustakaan para pater SVD di Biara St. Yosef, atau ke bengkel para bruder, atau ke gedung pertemuan milik gereja untuk melatih ‘Toneel Club Kelimutu’, kelompok drama/teater asuhannya (Foto: Henri Daros)

Nagoya, Jepang

Rabu, 6 Juni 2012

Pada Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-111 Bung Karno

Henri Daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: