TAHUN IMAN – THE YEAR OF FAITH [ 2012 – 2013 ]

[ TAHUN IMAN – THE YEAR OF FAITH ]

******

******

Tanggal 11 Oktober 2012, hari ini, Gereja Katolik sejagat secara resmi memasuki suatu tahun istimewa yang disebut ”Tahun Iman”, bertepatan dengan peringatan Pembukaan Konsili Vatikan II yang berlangsung 50 tahun silam, tahun 1962, tahun bersejarah itu.

Tahun Iman yang akan berlangsung selama setahun ini akan ditutup pada tanggal 24 November 2013, bertepatan dengan Hari Raya Kristus Raja.

Secara resmi Bapak Suci Paus Benediktus XVI menjelaskan ikhwal Tahun Iman ini dalam Surat Apostolik berjudul ”Porta Fidei”, Pintu Iman, yang dikeluarkan pada tanggal 17 Oktober 2011, ketika sekaligus mencanangkan masa pelaksanaannya yang dimulai pada hari ini.

It will be a moment of grace and commitment to an ever fuller conversion to God, to reinforce our faith in him and to proclaim him with joy to the people of our time,” demikian Paus Benediktus dalam kotbahnya.

Sementara dalam pesan tertulisnya Paus berkata: “Faith grows when it is lived as an experience of love received and when it is communicated as an experience of grace and joy.”

Bagaimanapun, iman adalah sesungguhnya hidup itu sendiri. Hidup yang memberikan kesaksian tentang kasih, kegembiraan dan harapan. Kesaksian yang akan terpancar dengan sendirinya, dan yang akan terasa serta tampak jelas pula bagi orang lain.

Saya teringat akan kesaksian hidup beriman orang-orang Katolik dari kalangan masyarakat biasa dan sederhana yang telah dan rasanya masih akan selalu menggugah hati sesama warga dari agama lain untuk hidup bersahabat dan bersaudara tanpa prasangka melalui interaksi keseharian mereka dari waktu ke waktu.

Saya sengaja mengutipnya di sini untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa kesaksian hidup beriman yang mampu menggugah itu bisa datang dari siapa saja dan dari pihak mana saja, bukan monopoli orang terpilih atau kelompok tertentu, asalkan ada keterbukaan hati tanpa syarat  untuk menerima dan membiarkan rahmat serta berkat Tuhan bekerja dalam dirinya.

Juga untuk memperlihatkan bahwa benih iman dapat terus bertumbuh dalam situasi apa saja, termasuk dalam situasi yang tidak nyaman bahkan berbahaya, asalkan ada ketulusan dan ketekunan untuk merawat dan menghidupinya.

Iman tak perlu diembel-embeli dengan slogan dan semboyan bernada gagah perkasa. Tak perlu tunggu dimeterai oleh dalil-dalil teologi nan rumit. Tak perlu pula dikawal dengan perisai dan lembing. Iman adalah kehidupan sehari-hari yang bernafaskan kasih, kegembiraan dan harapan. Di situlah kekuatannya.

Karena kekuatan itulah, iman akan membuat orang tak takut untuk bertindak atau berbuat sesuatu demi tegaknya keadilan dan kebenaran, namun tetap dalam semangat kasih, kegembiraan dan harapan pula. Iman sejati senantiasa bebas bersaksi dan selalu tanpa pamrih.

Kesaksian tentang iman orang-orang Katolik sederhana itulah yang antara lain ingin saya angkat dari buku ”I Remember Flores”, ketika seorang Komandan Angkatan Laut Kekaiseran Nippon, yaitu Kapten Tasuku Sato, yang bertugas di Flores pada masa pendudukan Jepang, menorehkan catatan berikut ini:

[ FARRAR, STRAUS AND CUDAHY, NEW YORK, 1957 ]

******

” … Flores people had taught me that weapons of war might destroy all the churches, yet there was something that would live on through it all – the Faith of the people. In Flores I was near the fire and a spark of that Faith caught fire in my own soul.”

Tasuku Sato, yang notabene non-Katolik, setelah menunaikan tugasnya di Flores hingga saat mengalami dan menderita kekalahan perang, masih dengan kesan yang mendalam tentang kesaksian hidup beriman orang-orang sederhana di Flores, selanjutnya antara lain mengatakan:

It is not hard to see the hand of God in my assignment to a land of Faith for the war years. His fingerprints are discernible in many places where I was tenderly guided or saved from dangers”, kali ini sambil mengakui bahwa dia sendiri pun ikut terserap dalam kekuatan iman itu, dan terlindungi pula.

Kini kita boleh bertanya, masihkah iman itu berbinar dan berdampak sebagai kabar gembira bagi orang lain pada saat kita memasuki Tahun Iman ini? Ada aneka jawaban, tentu saja. Baiklah dijadikan bahan permenungan.

Di antaranya satu hal sudah pasti, bahwa warga Gereja Katolik sejagat, di belahan bumi mana pun saja, tak hanya di Flores pulau yang kecil itu, terpanggil kembali untuk memperbaharui diri dan memberikan kesaksian hidup beriman yang sepadan terhadap sesamanya, warga dan penghuni zaman baru ini.

Sementara itu, pelbagai kegiatan dalam aneka bentuk dan wujud tentu saja akan dilakukan selama setahun mendatang, sejalan dengan ujud utama yang disampaikan pada saat pemakluman Tahun Iman ini, atau pun ujud-ujud khusus yang menyapa situasi setempat.

Namun, iman dalam kehidupan nyata, baik sehari-hari maupun pada saat-saat luar biasa, yang tersamar maupun yang terlihat dan bisa dirasakan oleh siapa saja, serta menjadi rahmat dan berkat buat siapa saja, itulah anugerah dan sekaligus kekuatan dari Tuhan yang kiranya perlu dipinta dan disegarkan kembali secara istimewa pada kesempatan Tahun Iman ini.

******

Nagoya/Jepang, 11 Oktober 2012

henri daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: