POPE EMERITUS AFTER PAPAL RESIGNATION

A Moment in History
Papal Resignation

******

Sri Paus Mengundurkan Diri

Tak pelak lagi akan menjadi catatan istimewa dalam sejarah.
Terakhir kali pernah terjadi enam abad silam, tepatnya tahun 1415,
setelah sebelumnya sejak tahun 230-an tercatat delapan kali terjadi
peristiwa sri paus ‘berhenti’ alias ‘turun takhta’ saat masih
dalam masa tugas kepausannya masing-masing.

******

Pope Benedict XVI (Photo: Reuters)

Pope Benedict XVI (Photo: Reuters)

******

Namun alasan ‘turun takhta’ untuk ke-9 sri paus terdahulu itu,
dan suasana yang meliputi peristiwa ‘berhenti bertugas’ untuk masing-masingnya,
memang berbeda dari apa yang terjadi pada Paus Benediktus XVI,
yang dengan bebas dan atas pertimbangan pribadi yang penuh tanggungjawab,
dengan alasan yang jelas serta masuk akal, demi kepentingan Gereja,
dan tidak bertentangan pula dengan hukum Gereja
telah menyatakan pengunduran dirinya secara terbuka,
dan diterima tanpa bisa dibantah oleh siapa pun,
meski tak seorang pun pernah membayangkan sebelumnya.

Dan Itulah Yang Telah Terjadi

Setelah menerima tongkat kegembalaan dan menjalankan tugas kepausan
sejak 19 April 2005, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik berusia 85 tahun itu
mengejutkan Gereja dan dunia dengan pernyataannya untuk mengundurkan diri
yang disampaikannya pada hari Senin tanggal 11 Februari 2013.
Diumumkan pula bahwa saat resmi mulai berlakunya
keputusan pengunduran diri itu ialah
tanggal 28 Februari 2013
yang jatuh pada hari Kamis ini.

Umat Gereja sejagat terperangah, merasa tak rela,
namun perlahan paham, dan ikhlas menerima,
meski mungkin di pelbagai tempat pun tetap saja ada
banyak orang yang masih terus bertanya-tanya
dan rindu pencerahan.

******

Last general audience, Vatican, February 27, 2013 (Photo: The Huffington Post)

Last general audience, Vatican, Wednesday, February 27, 2013 (Photo: The Huffington Post)

Audiensi umum yang terakhir, Vatikan, Rabu, 27 Februari 2013
(foto 1)

******

Last general audience, Vatican, February 27, 2013 (Photo: The Huffington Post)

Last general audience, Vatican, Wednesday, February 27, 2013 (Photo: The Huffington Post)

Audiensi umum yang terakhir, Vatikan, Rabu, 27 Februari 2013
(foto 2)

Piazza San Pietro, Saint Peter’s Square atau Lapangan Santo Petrus nan luas
yang terbentang di depan Basilika Santo Petrus itu buat saya
bukan lagi sesuatu yang asing.

Selama berdiam di Roma pada tahun-tahun 80-an,
itulah antara lain tempat yang sering saya datangi,
termasuk ketika ada perayaan keagamaan, dan beberapa kali ambil bagian
dalam audiensi umum  mendengarkan Sri Paus, yaitu Paus Yohanes Paulus II
pada waktu itu, yang biasanya berlangsung pada hari Rabu.

Namun, kali ini, menatap suasana di Piazza San Pietro melalui tayangan tv
dan youtube sangat terasa sesuatu yang lain dari biasa. Sambil membayangkan
dan coba ikut merasakan suasana batin orang-orang yang hadir langsung di sana,
saya sendiri pun membatin betapa luar biasanya peristiwa ini, saat orang
bersiap-siap, di ambang hari terakhir ‘melepas pergi’ Sri Paus yang telah
memutuskan untuk ‘turun takhta’, sesuatu yang tak pernah
dibayangkan sebelumnya.

Maka Piazza San Pietro pun di mata saya menjadi saksi bisu sejarah,
saksi untuk suatu peristiwa yang maha-langka,
yang siapa tahu kemudian akan menjadi peristiwa biasa,
atau mungkin juga akan tak terulang,
dan di atas pangkuan ‘piazza’ yang kokoh itulah lautan manusia,
para saksi hidup, larut dalam genangan rasa
dan coba menumpahkannya pula sehabis-habisnya.

******

Last general audience, Vatican, Wednesday, February 27, 2013 (Photo: The Huffington Post)

Last general audience, Vatican, Wednesday, February 27, 2013 (Photo: The Huffington Post)

Audiensi umum yang terakhir, Vatikan, Rabu, 27 Februari 2013
(foto 3)

******

Once upon a time at La Scala Opera House, Milan

Once upon a time at La Scala Opera House, Milan, Italy

Pada suatu ketika di Gedung Opera La Scala, Milan, Italia

Ada sesuatu yang tidak banyak diketahui orang selama ini
tentang Sri Paus Benediktus XVI, yaitu minatnya yang mendalam
terhadap musik klasik, dan kepiawaiannya
untuk memainkan lagu-lagu klasik, khususnya pada piano.

Doa, meditasi, perayaan Ekaristi, membaca, menulis,
mengikuti berita-berita tentang perkembangan Gereja dan dunia
tentu akan tetap menjadi menu kegiatan sehari-hari
seorang Paus Emeritus Benediktus XVI,
namun saya yakin bahwa musik klasik pun akan tetap mengisi hari-harinya,
dan bahwa Beliau pun sesewaktu akan menyempatkan diri
memainkan jari-jemarinya pada tuts piano
sebagaimana sudah sering dilakukannya.

******

Pope Benedict playing piano (Photo: AP)

Pope Benedict playing piano (Photo: AP)

Paus Benediktus ketika sedang bermain piano

******

A moment in history, February 28, 2013, Thursday at 8 PM (Photo: Vatican by night, Polizia di Stato/AFP/Getty Images)

A moment in history, February 28, 2013, Thursday at 8 PM, Pope Emeritus and ‘Sede Vacante’  (Photo: Polizia di Stato/AFP/Getty Images)

(Foto: Vatikan di waktu malam, diambil dari udara)

Akhirnya momen itu pun tiba

Suatu momen istimewa yang bakal tercatat dalam sejarah,
tanggal 28 Februari 2013, Kamis malam pukul 8,
Paus Benediktus XVI  secara resmi mengakhiri tugas kepausannya
dan menjalani kehidupan purnabakti sebagai Paus Emeritus,
sedangkan takhta kepausan untuk sementara lowong.

Tugas ‘kepemerintahan’ dijalankan selanjutnya
oleh Kolegio Para Kardinal
dengan wewenang terbatas hingga terpilihnya Paus baru.

******
Kamis malam ini, sesuai dengan rencana protokoler, pasukan Garda Swiss
yang bertugas di Castel Gandolfo, Istana Musim Panas Sri Paus,
telah siap untuk memberikan penghormatan terakhir tepat pada pukul 8.
Paus Benediktus, yang sekitar tiga jam sebelumnya dihantar oleh
helikopter militer Italia dari Vatikan menuju Castel Gandolfo
akan muncul di balkon dan menerima penghormatan terakhir itu.

Seusai memberikan penghormatan terakhir,
satuan pasukan Garda Swiss itu akan langsung ‘balik kanan’
dan sekaligus mengakhiri tugas resmi mereka mengawal Sri Paus.
Tugas pengamanan pun langsung diambil alih oleh satuan Polisi Vatikan.

******
Sempat  terbayang betapa personil pasukan Garda Swiss pun
akan sangat merasa ‘kehilangan’. Mereka juga manusia biasa.
Terkenang dahulu, ketika mereka secara teratur sekali sepekan pada sore hari
datang ke Collegio del Verbo Divino, tempat tinggal saya selama berada di Roma,
untuk mandi-mandi di kolam renang ‘collegio’ sambil menyegarkan tenaga.

Sri Paus Yohanes Paulus II diketahui selagi masih sebagai kardinal
pernah beberapa kali menikmati kolam renang di kompleks markas pusat SVD itu.
Sesudah itulah konon para anggota pasukan Garda Swiss
secara rutin mampir ke sana.

Tak tampak kegagahan mereka seperti pada saat berdiri tegak
dengan pakaian khas dan lembing di tangan ketiga bertugas di Vatikan.
Setiap kali kami larut dalam canda. Pada waktu itu, seorang di antara mereka
bahkan telah melamar seorang gadis Indonesia di Roma
menjelang akhir masa kontrak tugasnya, dan kemudian menikah.
Secara teratur pula dia ‘sowan’ pada kami.

Satu hal sudah pasti, jiwa-raga setiap anggota pasukan Garda Swiss
seutuhnya buat Sri Paus,
dan untuk itu mereka telah bersumpah.
Maka, ‘berpisah’ dengan Sri Paus Benediktus,
meski tidak pergi jauh,
pasti menggoreskan sesuatu di hati.

******
Paus Emeritus Benediktus XVI akan tinggal untuk sementara waktu
di Castel Gandolfo di tepi Danau Albano itu,
khususnya selama konklaf berlangsung, lantas sesudahnya
akan kembali ke Roma dan menempati sebuah bangunan khusus
yang disebut ‘Mater Ecclesiae’,
yang sebelumnya adalah sebuah wisma biara,
dalam kompleks Vatikan.

******

Emeritus Pope Benedict XVI

Pope Emeritus Benedict XVI

Kini, Paus Emeritus Benediktus XVI

Takhta kepausan memang lowong buat sementara (Sede Vacante),
namun berkat dan kasih Tuhan tentu saja takkan berhenti mengalir,
buat Paus Emeritus Benediktus XVI yang telah mengabdi
dengan penuh iman dan sepenuh jiwa-raga, dengan rendah hati dan ikhlas,
dan buat Umat Gereja sejagat yang berziarah bersamanya
dalam iman yang satu dan sama.

Tuhan yang telah mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang,
yang membantu meneduhkan badai, dan yang telah berjanji akan
tetap menyertai  hingga akhir zaman,
Dia pulalah yang akan selalu menyertai Gereja,
bersama Paus yang baru, yang pada waktunya akan terpilih,
dan bersama seluruh umat melanjutkan ziarah,
senasib sepenanggungan dalam jatuh dan bangun,
dalam suka dan duka.

Ya, seorang Paus yang baru,
sosok yang tentu tak akan sama dengan seorang Benediktus XVI
namun direstui Tuhan, sama setia di jalan Tuhan,
dan memimpin menurut tuntunan kehendak dan kasih Tuhan.

******

The Arms of the Holy See under 'Sede Vacante' (Photo: Wikipedia)

The Arms of the Holy See under ‘Sede Vacante’ (Photo: Wikipedia)

Lambang Kepausan selama masa ‘Sede Vacante’

‘Tiara’ atau mahkota kepausan yang biasanya tampak di atas kunci
diganti dengan ‘payung’, yang melambangkan tiadanya Sri Paus
namun ada otoritas pengganti yang menjalankan tugas untuk sementara.

******

Nagoya, 28 Februari 2013

Henri Daros

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • Frans Anggal  On March 7, 2013 at 10:42 pm

    Terima kasih banyak Pater. Gambar dan teks menyatu padu dan sangat menyentuh.

    • Henri Daros  On March 7, 2013 at 11:17 pm

      Terima kasih sudah mampir dan ambil bagian, Frans … bermula dari perasaan tak sampai hati melewatkan begitu saja peristiwa bersejarah ini tanpa sebuah catatan pribadi di blog ini … Salam hangat ke Ende!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: