MENGENANG PAK TAUFIQ KIEMAS, PADA MULANYA

[ In Loving Remembrance of Pak Taufiq Kiemas ]

******

Telah berpulang
Bapak Taufiq Kiemas
pada hari Sabtu, 8 Juni 2013, pukul 19.01,
di Singapore General Hospital, Singapura
dalam usia 70 tahun …

Selamat jalan Pak Taufiq,
beristirahatlah dalam damai …

******

Pak Taufiq Kiemas bersama Bu Megawati Sukarnoputri

Pak Taufiq Kiemas bersama Bu Megawati Sukarnoputri

******

Terkenang kembali. Sambil menjabat tangan saya erat-erat Pak Taufiq berkata: ”Pater, saya senang sekali. Ibu sudah cerita banyak. Senang, ibu sudah bisa bertemu seorang saudaranya di Ende. Jangan lupa, kabarkan selalu kalau pater datang ke Jakarta”.

Itulah perjumpaan saya yang pertama dengan Pak Taufiq Kiemas, pada suatu malam di Jakarta, di sebuah gedung pertemuan. Iya, Pak Taufiq langsung menyapa saya dengan sebutan ‘pater’, sebagaimana Mbak Mega sudah selalu menggunakannya. Sapaan yang konon diwariskan sendiri oleh Bung Karno kepada putra-putrinya melalui cerita pengalamannya bergaul dengan para pater SVD selama tahun-tahun pengasingannya di Ende, pulau Flores.

Perjumpaan pertama itu terjadi pada awal tahun 1990-an. Mbak Mega sendirilah yang pada waktu itu memperkenalkan saya kepada Pak Taufiq ketika kami secara tak terduga berjumpa sebagai sesama tamu undangan pada acara peluncuran buku autobiografi Pak Hoegeng Imam Santoso, sang polisi legendaris paling jujur yang gemar bermain musik Hawaiian itu.

Buku baru tersebut, kalau tidak salah berjudul ”Hoegeng, Polisi Idaman dan Kenyataan”, diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, dan Ramadhan KH adalah salah satu penulisnya.

Sudah dapat diduga bahwa bintang utama pada hajatan malam itu adalah Pak Hoegeng sendiri, dengan tokoh-tokoh Petisi 50 sebagai bintang-bintang pendamping, khususnya Bang Ali (Pak Ali Sadikin), yang semua tahu merupakan tokoh legendaris pula. Sudah dapat diduga juga bahwa ruangan dipenuhi oleh wajah-wajah aktivis penggagas dan penggerak perubahan terhadap rezim pemerintahan otoriter yang cengkeramannya saat itu sudah sangat menggurita di tanah air.

Acara belum dimulai, sementara sebagian besar tamu undangan sudah mengambil tempat duduk, berkelompok di setiap meja bundar, ketika Mbak Mega dan Pak Taufiq memasuki ruangan bersama sejumlah tamu lain yang masih berdatangan. Tak ayal lagi, Mbak Mega yang bintangnya pun sedang naik, segera menarik perhatian hadirin.

Dalam kelompok meja bundar kami ada a.l. Pak Chris Siner Key Timu, mantan Ketua Umum Pengurus Pusat PMKRI yang sedang menjabat Sekretaris Pokja Petisi 50, kenalan lama sejak tahun 1976, ketika sebagai frater dengan tugas Ketua Dema STFTK Ledalero saya menerima lawatannya dalam rangka menjalin hubungan kerja sama antara mahasiswa awam dan mahasiswa calon imam. Ada juga Pak Tides (Aristides Katoppo) pemimpin Penerbit Pustaka Sinar Harapan, dan beberapa eksekutif perusahaan penerbit lainnya, termasuk saya sendiri dari Penerbit Nusa Indah, Ende / Flores. Tibanya Pak Taufiq dan Mbak Mega tak luput juga dari perhatian kami di tengah asyiknya percakapan.

Tampak penerima tamu menjemput Mbak Mega dan Pak Taufiq, dan mereka melintas tepat di depan meja kami. Tak terduga, secara kebetulan sekali pandangan mata Mbak Mega terarah pada saya … ”Wah, Pater!”, demikian secara spontan tercetus, sambil berhenti sejenak, dan saya pun langsung berdiri sambil memberi salam. Diraihnya lengan Pak Taufiq, lalu memperkenalkan saya. Dan kami pun berjabatan tangan erat, saling menyapa secara hangat, seakan dua sahabat yang sudah lama tak berjumpa. Kehangatan sikap Pak Taufiq sangat terasa, dan itulah yang membuat suasana langsung menjadi begitu akrab.

Secara spontan pula keduanya memberitahu si penerima tamu bahwa mereka mau bergabung saja di situ bersama kami, jadi minta ditambahkan kursi … Suasana segera berubah menjadi lebih ramai ketika Mbak Mega bercerita tentang pengalamannya mengunjungi Ende untuk pertama kalinya pada tahun 1989, ditingkah komentar-komentar ringan Pak Taufiq dan pertanyaan-pertanyaan penuh ingin tahu dari rekan-rekan semeja. Pak Taufiq sendiri tentu saja sudah mengetahui seluruh cerita. Pengalaman Mbak Mega adalah pengalamannya. Suka-duka Mbak Mega, juga suka-duka Keluarga Besar Bung Karno, adalah suka-dukanya juga.

Itulah masa di mana Keluarga Bung Karno sengaja dipinggirkan. Partai politik di mana anggota Keluarga Bung Karno bergabung sengaja diisukan berbahaya. Gerak langkah para Sukarnois alias para penganut ideologinya selalu dibayang-bayangi, bahkan secara keras dibatasi. Bahkan, patut dicatat, selagi masih tinggal di Palembang, sebagai aktivis Barisan Sukarno Pak Taufiq sendiri pernah mendekam di penjara selama 2 tahun. Rekayasa peminggiran itu dikendalikan dari pusat rezim kekuasaan hingga ke desa-desa. Ende, Flores, pun tak terkecuali.

Maka, menjelang akhir tahun 1989, ketika terbetik berita bahwa Ketua Umum PDI Drs. Suryadi akan berkunjung ke Ende bersama Megawati Sukarnoputri sebagai kader dan fungsionaris pengurus partai di ibukota, Ende pun menggeliat.

Sesungguhnya, sudah beberapa waktu sebelumnya, Ketua PDI setempat atas prakarsa pribadi yang sangat saya hargai telah sempat mengungkapkan rasa prihatin dan keresahan hatinya ikhwal nasib cabang partai di bawah pimpinannya. Pendeknya, dukungan pemberdayaan sangatlah dibutuhkan.

Saya sangat memakluminya karena saya sendiri pun sesungguhnya punya ‘keresahan’ yang sama sejak sebagai mahasiswa, ketika coba mendalami perkembangan situasi tanah air dan ikut aktif menggeluti kegiatan kemahasiswaan dan kemasyarakatan pada saat itu.

Namun keresahan saya bukan sekadar soal nasib partai politik tertentu tetapi soal nasib demokrasi yang terpasung dan kebebasan masyarakat sipil yang terbelenggu.

Menghadapi dan mendengarkan langsung persoalan di lapis akar rumput, sedikit-banyak telah menggetarkan kembali ‘sense of mission’, suatu rasa keterpanggilan untuk berbuat sesuatu. Semakin seringnya warga masyarakat yang diam-diam muncul dan mengungkapkan kebingungan serta kegelisahan mereka lantas semakin membuktikan adanya fakta rekayasa isu yang menabrak akal sehat dan kesengajaan menciptakan rasa takut, yang tak bisa lain selain mesti ditangkal secara arif dan lugas.

Menjelang kedatangan Mbak Mega bersama Pak Suryadi, misalnya, orang-orang ditakut-takuti dengan isu bahaya laten komunisme, yang di sana-sini secara eksplisit disebut bahaya PKI, yang bukan saja secara politis sama sekali tidak benar, tapi dengan tolok ukur perilaku kemanusiaan pun merupakan suatu bentuk pembunuhan karakter yang kejam.

Menanggapi semua keresahan itu dukungan moril tak bisa tidak harus diberikan, di samping aneka wujud dukungan lainnya, di mana perlu dan sejauh dimungkinkan. Semuanya mengalir pada waktu dan tempat yang tepat. Tanpa unjuk kekuatan, tapi nampak dan terasa. Tanpa banyak kata-kata, apalagi kata-kata provokasi dan konfrontasi, tapi cukup untuk menggelitik kesadaran, dan untuk menggugah serta meneguhkan.

Maka, bantu menyambut kedatangan dan sekaligus terang-terangan memberikan tempat kepada Pak Suryadi dan Mbak Mega untuk bisa leluasa bertemu dan berkonsolidasi dengan para pengurus serta para kader partai setempat, karena tak tersedia tempat lain, dan memang tak direlakan sepetak pun tempat yang dapat mereka gunakan di ‘Kota Bung Karno’ itu, lantas menjadi suatu isyarat, dengan pesan yang kuat, bahwa mereka bukanlah orang-orang yang harus diwaspadai, apalagi dijauhi. Lebih dari itu, tiada apa dan siapapun yang harus ditakuti.

Tak kurang ‘dramatis’ apa yang terjadi sesudahnya. Pak Suryadi lebih dulu meninggalkan Ende untuk melanjutkan kunjungan tugas ke tempat lain, sementara Mbak Mega dan beberapa sahabatnya masih tinggal untuk acara yang lebih pribadi, menuntaskan rindu di kota tempat Sang Ayahanda, Bung Karno, pernah diasingkan.

”’Saya titip Mbak Mega, pater … ”, demikian Pak Suryadi bergurau akrab pada saat meninggalkan Ende, disambut Mbak Mega dengan senyumnya yang khas … ya, senyum seorang putri sulung Bung Karno yang pada hari selanjutnya tak lepas juga dari pengawalan setia tokoh pimpinan partai setempat bersama para sahabat lama Bung Karno di Ende dan keluarga mereka.

Kunjungan ke situs bersejarah Sang Ayahanda jelas sudah terjadwal, namun kesempatan mengunjungi YM Bapak Uskup Agung Ende di Ndona adalah kejutan. Kunjungan yang semula sama sekali tak terjadwal dan tak terpikirkan, seakan telah menjadi puncak lawatan perdananya ke Ende. Hingga saat ini masih tersimpan rasa syukur di lubuk hati saya atas kesediaan Mgr. Donatus Jagom, SVD yang meskipun mendadak namun mengabulkan permohonan saya untuk menerima kunjungan Mbak Mega ke tempat kediamannya.

Sebuah pertemuan yang mengharukan, ditandai rangkulan spontan layaknya ayah dan anak, sebagaimana diakui sendiri oleh Mbak Mega. ”Mari, lihat ini”, kata Bapak Uskup sambil menunjuk potret Presiden Sukarno dan si kecil Guntur Sukarnoputra mengapiti Sri Paus Pius XII ketika berkunjung ke Vatikan.

Presiden Sukarno tampak gagah berwibawa dalam seragam putih-putih, Guntur kecil pun demikian. Mbak Mega menatap potret itu dengan mata berbinar. Kepada Mbak Mega saya ceritakan bahwa itulah foto kover paling populer untuk majalah ‘Anak Bentara’, majalah anak-anak yang terbit di Ende, ketika saya masih di kelas satu sekolah rakyat tahun 1956/1957.

Keramahan dan gaya bicara Mgr. Donatus yang ceplas-ceplos apa adanya, sebagaimana gaya Pak Taufiq, membuat Mbak Mega selalu tersenyum dan kadang tertawa lepas. Sungguh pertemuan yang menyegarkan. Mbak Mega sendiri mengaku sangat bahagia dan berterima kasih.

Itulah untuk pertama kalinya Mbak Mega bertemu dengan tokoh pemimpin Umat Katolik, seorang uskup, langsung di tempat kediamannya. Apa yang tak pernah terpikirkan, yang seakan tak mungkin, telah terjadi dengan indahnya, di Ende!

Semakin terbuka mata hati warga masyarakat bahwa orang yang dengan sengaja didaftarhitamkan oleh rezim penguasa adalah sesungguhnya sosok pribadi berbudi mulia …

Ternyata tidak sia-sia pula. Seiring mata hati yang lebih terbuka, keberanian warga pun berkecambah. Ketika kemudian Pak Suryadi kembali berkunjung, bersama Guruh Sukarnoputra dalam rombongan, warga tak lagi ragu-ragu tunjuk muka dan ruang publik pun sudah lebih terbuka.

Setelah perjumpaan pertama dengan Pak Taufiq sebagaimana dikisahkan di atas, terjadi beberapa kali perjumpaan sesudahnya. Di rumah keluarga di Kebagusan, atau di restoran dalam suasana yang lebih santai, dan di Tokyo pada kesempatan lawatan kenegaraan Presiden Megawati ke Jepang.

Di berbagai kesempatan itulah kisah pengalaman pertama Mbak Mega di Ende terkadang muncul kembali, ditutur ulang, di sela-sela bahan pembicaraan lainnya, diimbuh gaya Pak Taufiq yang ceria, yang dalam semangat nasionalismenya yang jujur memandang peristiwa perjumpaan seperti itu dari perspektif pluralisme keberbangsaan yang luas, lapang dan saling mengayomi.

Semangat pluralisme keberbangsaan itu pun sudah dilakoni dan dihayatinya sejak usia dini, suatu pengalaman tak terlupakan sebagaimana dikisahkannya sendiri pada suatu kesempatan santai. Setamat sekolah dasar, oleh orangtuanya yang nasionalis tulen Taufiq kecil tidak hanya disekolahkan di sebuah SMP Katolik di Palembang, yaitu SMP Xaverius, tapi juga tinggal di asrama sekolah tersebut dan mengikuti segala peraturan yang berlaku.

Saya teringat bagaimana Ibu Mega dan saya tak bisa menahan tawa mendengar kisah siasat Pak Taufiq pada waktu itu, yang konon setiap pagi sudah selalu lebih awal berada dalam kapel asrama sehingga luput dari rotan disiplin sang frater pengasuh yang sering mendarat di betis anak-anak  yang malas dan suka menambah waktu ekstra di tempat tidur. Terbayang kembali pengalaman saya sendiri sebagai ‘anak asrama’ dahulu …

Kabar duka berpulangnya Pak Taufiq langsung membuat saya terkenang kembali akan kisah awal persahabatan, kisah tali ‘persaudaraan’ itu, untuk meminjam kembali ungkapan simpatik Pak Taufiq. Kisah lama yang masih utuh tersimpan.

Jauh sebelum Mbak Mega menjadi ketua umum partainya, PDI-P, dan kemudian menjadi presiden, dengan Pak Taufiq tentu saja berada di balik suksesnya, sekaligus setia di sampingnya.

Jauh sebelum Pak Taufiq sendiri dipercaya untuk mengemban tugas terhormat sebagai Ketua MPR-RI hingga akhir hayatnya.

Ya, jauh sebelum Pak Taufiq sendiri akhirnya ‘berziarah’ juga ke Ende pada perayaan peringatan Hari Lahir Pancasila tanggal 1 Juni 2013. Pancasila yang senantiasa bernyala dalam hidupnya. Tepat sepekan sebelum berpulang. Ziarah pertama dan terakhir.

(Henri Daros)

—————

NB. Catatan kenangan ini sudah lebih dulu dimuat sebagai ‘obituari’
pada cover Facebook saya tertanggal 8 Juni 2013 (Sabtu malam),
langsung setelah mengetahui kabar duka meninggalnya Pak Taufiq.

******

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Comments

  • aphonks  On June 18, 2013 at 11:55 pm

    Pater…. terharu aku membacanya.
    Terima kasih telah membagikan pengalaman penuh arti ini.
    Semoga Taufiq-Taufiq baru berkecambah di mana-mana di Negeri Kecintaan kita. Syallom n sukses selalu buat peter.

  • Henri Daros  On June 19, 2013 at 12:39 am

    Wah, Sam … terima kasih sudah mampir dan membacanya.
    Ini sesungguhnya sebuah kenangan lama yang sangat pribadi,
    dan cenderung untuk disimpan sebagai memori pribadi pula,
    namun kepergian Pak Taufiq yang pernah saya kenal langsung
    dengan kepribadiannya yang hangat itu membuat saya akhirnya
    harus ‘meluapkan’-nya … sebagai wujud rasa hormat dan kasih
    buat Beliau. Iya, semoga harapan mulia yang Sam ungkapkan itu
    akan terwujud … dan saya yakin sedang terwujud juga saat ini,
    khususnya dalam diri tokoh-tokoh muda yang sedang tekun
    merajut dirinya bagi kepentingan Nusa dan Bangsa … Salam!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: