BIWA (LOU-GWAT / LOQUAT), LAGI MUSIMNYA!

******
Terbangun di pagi yang cerah hari ini
oleh kicau dan cicit burung besar dan kecil
yang ribut menikmati ranum dan lezatnya ‘biwa’
di balik jendela kamar …
Enam foto berikut ini adalah saksinya.

******

(Foto: Henri Daros)

(Foto: Henri Daros)

******

(Foto: Henri Daros)

(Foto: Henri Daros)

******

(Foto: Henri Daros)

(Foto: Henri Daros)

******

Tentang buah ‘biwa’, silakan baca tulisan berikut ini yang dikutip dari akun Facebook saya tertanggal 16 Juni 2011. Pada akun FB tersebut tulisan berikut ini dilengkapi dengan album berisikan 19 foto ‘biwa’ yang diambil ‘on the spot’ pada waktu itu. Jika berminat, silakan mampir ke sana.

——————————————————————————

BIWA:

BUKAN BUAH SEMBARANG BUAH

Bahwa setiap hari selama sepekan terakhir cicit burung-burung kecil di balik jendela kamar kediaman saya terdengar jauh lebih ramai dari biasa, itu semata-mata tegal ‘biwa’.

Ranting-ranting pohon ‘biwa’ yang tinggi menjulang dengan dedaunannya yang hijau gelap itu memang merupakan peneduh di saat matahari bersinar panas.

Namun kali ini buah-buahnya yang lebat dan menguning jelas menampilkan pesona tersendiri pula, termasuk buat burung-burung kecil itu.

‘Biwa’ memang sedang musimnya, dan burung-burung selalu lebih awal mengendusnya.

Terhibur menyaksikan burung-burung itu berloncatan dari ranting ke ranting mencicipi buah-buah ranum nan manis itu, namun tak urung terpikir juga apakah masih akan tersisa buat pemiliknya. Pemilik? Burung-burung itu jelas tak peduli.

Syukur sang petugas di tempat kediaman sudah menjadwalkan hari petik dan pangkas, sambil menjamin bahwa ‘panen’ tetap berlimpah kendati terjadi serbuan awal oleh pasukan burung itu. Benar juga!

Sejumlah gambar pun diambil dan ditampilkan di album ini disertai rasa penasaran karena ‘biwa’ tak pernah terlihat di tanah air. Ataukah memang terlewat dari pengamatan saya? (NB. Albumnya ada di akun Facebook)

Jepang memang negeri penghasil terbesar ‘biwa’, disusul berturut-turut oleh Israel dan Brasil, meskipun asal-usulnya konon dari wilayah tenggara Cina dan dikenal dengan nama ”lou-gwat’. Karena itu di pelbagai tempat buah ini dikenal pula dengan nama ‘loquat’.

Tengok saja di toko buah-buahan atau pasar swalayan pada hari-hari ini. Tertarik oleh informasi, semalam ketika keluar untuk berbelanja buah-buahan, dijepret juga beberapa deretan ‘biwa’ yang dipajang di tempat penjualan.

Dibeli juga? Tentu tidak. Sekadar membandingkan. Sendiri punya ‘biwa’ di rumah, segar pula karena langsung dipetik dari pohonnya. Dua gambar dari pasar swalayan itu melengkapi album ini. (NB. Albumnya ada di akun Facebook)

Hingga beberapa waktu mendatang, tentu saja, bakal tiada hari tanpa ‘biwa’.
Bukan lagi di balik jendela kamar saya, tempat burung-burung kecil itu berpesta, tapi di meja makan pemiliknya.

Bukan buah sembarang buah, buah ‘biwa’ nikmat rasanya.

Logos Center, 16 Juni 2011

Henri Daros

******

(Foto: Henri Daros)

(Foto: Henri Daros)

******

(Foto: Henri Daros)

(Foto: Henri Daros)

******

(Foto: Henri Daros)

(Foto: Henri Daros)

******

Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: